February 21, 2017
Madame Asterix Sajikan Terjemahan dengan Bumbu Humor Lokal

Rahartati Bambang Haryo punya jasa besar sebagai penerjemah karena memberikan warna dan konteks lokal.

by Hera Diani, Managing Editor
Wo/Men We Love
Share:

Maria Antonia Rahartati Bambang Haryo adalah salah satu pahlawan masa kecil saya.
 
Berkat Rahartati, saya dan anak-anak lainnya yang tumbuh besar pada 1980an, bisa menjelajahi dunia petualangan kelompok detektif cilik Lima Sekawan dan Sapta Siaga, serta berkelana ke desa Galia di Perancis pada zaman Julius Caesar lewat buku-buku yang ia terjemahkan.
 
Ia tidak hanya menerjemahkan, tapi juga memberi konteks, menyesuaikan buku dengan budaya Indonesia, dan mengembuskan humor lokal. Ia andal dan kreatif dalam memilih dan menyusun kata dan frasa, melahirkan kalimat-kalimat yang lincah, menyenangkan, dan membuat imajinasi bergelora. Membaca buku-buku hasil terjemahan Rahartati membuat anak-anak Indonesia belajar bahasanya sendiri sekaligus memperkaya kosa kata dan istilah.
 
Kita seolah-olah ada di sana ketika George dan kawan-kawan dalam Lima Sekawan piknik di pedesaan Inggris, menyesap limun jahe dan makan roti lapis. Kita ikut tegang saat mereka terjebak di lorong pencoleng. Dan kita terbahak-bahak sampai perut sakit karena Rahartati mengubah nama tokoh-tokoh dalam komik Asterix menjadi sangat Indonesia: Tulibudeggus, Cowokemayus, Asmabengekis, Licik Munafiks, Setiawanjodix, Jayasupranix…dan seterusnya. Di sebuah seri Asterix, ada adegan seorang prajurit sedang mencuci pakaian di sungai dan Rahartati mengganti teks lagu yang dinyanyikan si prajurit menjadi parodi lagu Titiek Puspa: “Marilah mencuci, ye, ye, ye ye..”
 
Warna dan humor yang sangat lokal ini membuat saya merasa bosan ketika akhirnya membaca komik Asterix dalam bahasa Inggris, karena tidak sejenaka hasil karya Rahartati.
 



“Terjemahan adalah sebuah seni. Kita harus tahu pesannya apa, tidak bisa literal. Bahasa tidak bisa dialihkan, yang bisa dialihkan adalah gagasan,” ujarnya dalam sebuah wawancara singkat baru-baru ini di Paviliun 28, Jakarta Selatan, di sela-sela acara lokakarya komik.
 
“Sebelum menerjemahkan sebuah buku, kita harus membacanya sampai tuntas agar kita dapat menangkap pesan dari pengarang, sehingga terjemahannya tidak menyimpang. Penerjemah harus rendah hati. Kesalahan penerjemah adalah tidak cukup memahami bahasa sumber maupun bahasa sasaran, dan rajin membuka kamus. Jika tidak ditemukan, tanyakan kepada penutur aslinya," ujarnya.

"Dalam bekerja, penerjemah sebaiknya jangan taat azas. Karena bahasa Perancis, misalnya, ada struktur Subyek Obyek Predikat, sedangkan bahasa Indonesia tidak. Ia juga harus punya rasa ingin tahu yang besar. Ekologi pun harus dipahami dengan baik." 
 
Ia kemudian bertanya pada saya, “Ayo, bagaimana Anda menerjemahkan ‘The quick brown fox jumps over the lazy dog?’” – sebuah kalimat yang biasa digunakan untuk praktik mengetik dan mengetes mesin tik dan komputer.
 
Saya mengernyit, “Mmm…rubah cokelat…”
 
Rahartati menyela, “Bukan! Karena itu teks untuk mengetes mesin tik, kalimat itu harus mengandung huruf A sampai Z. Sehingga terjemahannya pun harus mengandung huruf-huruf itu. Jadi saya menerjemahkannya seperti ini dulu: ‘Bumper Taxi Cory Aquino Dihajar Volkswagen Fariz.’”
 
Mengobrol dengan Rahartati sangat mengasyikkan karena ia hangat dan semangatnya meluap-luap. Fisiknya masih terlihat bugar di usia 74 tahun.
 
Seperti terlihat dari hasil karyanya, ia mencintai bahasa dan tertarik dengan bahasa asing. Sejak SMA ia sudah belajar bahasa Perancis, dan waktu kuliah memilih jurusan sastra Perancis di Institut Kejuruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP), sekarang Universitas Negeri Jakarta, dan kemudian Fakultas Sastra Jurusan Sastra Roman, Universitas Indonesia.
 
Sambil kuliah, ia mulai bekerja sebagai pemandu wisata, sebelum kemudian menjadi penerjemah.
"Saya pengajar merangkap penerjemah. Tetapi rasa jenuh sebagai pengajar membuat saya jadi malas belajar, malas menambah pengetahuan ... Bisa dimaklumi, ya. Sebagai pengajar bahasa, guru pasti lebih pandai bicara bahasa yang dipelajari murid-muridnya. Itu yang membuat saya jengah, karena merasa pintar. Perasaan ini sangat menakutkan buat saya," ujarnya.

"Ketika kemudian saya sepenuhnya menekuni profesi sebagai penerjemah, keharusan membuka kamus – bisa-bisa sampai puluhan kali setiap kali membuka halaman baru – menumbuhkan kesadaran, 'kok saya bodo banget, ya'. Itu sungguh membuat saya senang. Setiap hari saya ‘dipaksa’ mempelajari puluhan kata baru. Saya selalu bertemu hal-hal baru yang membuat saya merasa bodoh dan akhirnya terpacu terus menggali ilmu."
 
Lulus kuliah, Rahartati mendapat beasiswa ke Perancis dan sekembalinya ke Indonesia ia meneruskan karir menjadi penerjemah. Ia mulai menerjemahkan Asterix pada 1984. Buku terjemahan pertamanya adalah Perisai dari Averna. Sejak itu, semua komik Asterix kecuali Asterix di Olimpiade diserahkan kepada Rahartati, sehingga ia kemudian dikenal sebagai Madame Asterix.
 
“Bahasa Perancis sangat menantang untuk diterjemahkan karena punya banyak huruf vokal, aksen, juga onomatope, sama seperti Bahasa Indonesia, karena kita juga banyak mengandalkan suara, seperti 'kaing', 'nguik',” ujarnya.
 
Rahartati sempat juga mengajar di Sekolah Dinas Luar Negeri untuk para diplomat, LPK Tarakanita, lembaga kebudayaan Perancis CCF, dan Universitas Indonesia. Dalam mengajar, ia sering menulis lagu secara khusus untuk menggantikan teks sehingga para murid lebih paham dan hapal kata-kata sifat, misalnya.
 
Bakat menulis lagu Rahartati menurun dari ayahnya, C. Hardjasoebrata, penulis lagu permainan anak-anak klasik seperti Gundul Pacul dan Menthok-Menthok.
 
Rahartati juga menulis banyak cerpen dan sejumlah buku, termasuk buku anak-anak. Ia masih aktif menerjemahkan buku sampai sekarang. Dua buku yang paling menonjol baru-baru ini dan yang berkesan baginya adalah The God of Small Things karya Arundhati Roy (“bahasanya sulit”) dan The Brief Wondrous Life of Oscar Wao dari Junot Diaz.
 
Rahartati sangat terkesan dengan Diaz, pemenang Hadiah Pulitzer untuk bukunya itu.
 
“Saya sempat kesulitan menerjemahkan buku itu karena bahasanya Spanglish, ada yang saya tidak mengerti. Saya minta cucu saya untuk mencari kontak Junot Diaz, dan saya langsung hubungi dia lewat email. Saya mengirim pertanyaan sepanjang delapan halaman dengan huruf Arial Narrow dan spasi rapat, dan dia (Diaz) jawab semua,” ujar ibu dua anak itu.
 
Pada usia 74 ini, Rahartati masih sangat aktif. Ritual paginya adalah menonton CNN, BBC dan membaca Kompas. Ia juga sedang menyusun biografi mendiang ayahnya, yang ia kenang dengan mata berbinar-binar.
 
“Bapaklah yang pertama menggunakan hitungan ¾ untuk tembang Jawa,” ujarnya.
 
“Ia orang yang penyayang, hubungan kami pun sangat dekat. Saya juga mendapatkan rasa humor dari ayah saya, yang senang guyon. Banyak orang memandang saya sebagai pribadi yang bebas. Itu karena saya dibesarkan dengan kasih sayang.”
*Foto dari Goodreads Rahartati Bambang

Hera Diani, like many Indonesians, has two names and she relishes the fact that Indonesian women do not have to take the surname of their fathers and husbands. Pop culture is her guru, but she is critical of the terrible aspects of it, such as the contents with messages of misoginy and rape culture, and The Kardashians.