November 03, 2016
Memang Kenapa Kalau Janda?

Stigma dan label negatif masih sering dilekatkan pada janda, padahal terkadang menjadi janda atau perempuan kepala keluarga adalah satu pilihan untuk keluar dari lingkaran kekerasan.

by Sofia Kartika
Issues // Politics and Society
Share:

Awalnya adalah perbincangan dengan kawan, mengenai teman-teman kami yang akan berkunjung ke Tokyo, sebuah hal yang kami sambut dengan senang karena kami menanti pesanan kami, makanan khas Indonesia yang tiada duanya.

Perbincangan sampai pada topik tentang salah satu teman yang tak jadi liburan singkat ke Tokyo gara-gara kekasihnya tak mengizinkan di H-5 keberangkatannya. Tiket yang sudah dibeli satu tahun sebelumnya dan visa yang sudah di tangan, terhempas bersama titipan-titipan makanan yang sudah dipak di koper.

Saya sungguh penasaran kenapa temannya teman kami itu, Mbak P, tak jadi datang gara-gara persoalan sepele (menurut saya), dilarang kekasihnya. Kenapa Mbak P yang sudah siap dengan rencananya itu, membatalkan begitu saja? Kenapa kekasihnya begitu brengseknya melarang orang jalan-jalan dengan uangnya sendiri? Kenapa Mbak P yang sudah bekerja sedemikian keras untuk membeli tiket ke Tokyo, kota impiannya itu, mau begitu saja disuruh kekasihnya?

Lalu mengalirlah cerita, bahwa Mbak P yang berusia 30-an ini seorang perempuan yang karirnya sudah mapan, Tiba-tiba kekasihnya mengatakan akan datang ke rumahnya di hari yang sama dia sedang berlibur di Tokyo. Kekasihnya mengirimkan ‘ancaman halus’ akan meninggalkannya. Saya menimpali, kenapa tidak ditinggalkan saja, kekasih yang main larang-larang seenaknya, tidak bisa diajak berdiskusi. Hal ini menurut saya adalah indikasi awal akan adanya kekerasan-kekerasan selanjutnya. Teman saya menjawab, Mbak P tidak percaya diri dalam urusan relasi dengan kekasihnya, karena dia janda.

Sepuluh tahun yang lalu, saya bertemu dalam sebuah liputan dengan Nani Zulminarni, pendiri Perempuan Kepala Keluarga yang merupakan jaringan komunitas perempuan di beberapa daerah di Indonesia. Saya tak hanya bertemu dengan Ibu Nani, tapi saya juga bertemu dengan ibu-ibu dari berbagai daerah yang menjadi janda, menjadi perempuan kepala keluarga dengan berbagai latar belakang: suami yang tak bertanggung jawab, konflik, dan sebagainya. Tak satu pun dari mereka, di tahun itu, yang merasa tersubordinasi karena mereka janda. Ibu-ibu yang sudah tak bersuami itu dengan penuh percaya diri dan mata berbinar bercerita tentang usahanya dan komunitasnya, tempat mereka saling berbagi.

Perempuan Kepala Keluarga telah berdiri sejak 2001, dengan fokus pada penguatan kelompok perempuan yang menjadi kepala keluarga, agar mereka bekerja di sektor ekonomi dan percaya diri meski ada label yang diberikan kepada mereka, yaitu janda.

Pemulihan kepercayaan diri akibat stigma negatif dan tudingan miring tentang janda itu berjalan bersamaan dengan penguatan ekonomi, keterampilan dan pendampingan hukum yang menjadi program di Perempuan Kepala Keluarga. Hasilnya, saat itu, 10 tahun yang lalu, saya melihat sosok para ibu, perempuan kepala keluarga, yang janda itu menjadi percaya diri. Mereka percaya diri karena mereka bekerja, mereka berbagi cerita, mereka melihat masa depan dan mematahkan semua label tentang janda yang dicapkan pada mereka.

Ibu-ibu paruh baya yang saya temui 10 tahun yang lalu itu membuktikan bahwa tak ada yang salah dengan janda. Mereka bisa bekerja, menyekolahkan anak mereka, dan memilih laki-laki yang akan mereka jadikan pendamping. Ibu-ibu ini datang dari berbagai daerah di Indonesia, dengan jangkauan informasi yang mungkin kurang maksimal dibandingkan saat ini.

Kenapa di tahun 2016 ini, seorang perempuan berusia 30, yang menjadi janda karena suaminya tak bertanggung jawab, yang memiliki karir yang bagus, yang tinggal di perkotaan dengan akses informasi yang memadai, tidak percaya diri karena status jandanya? Kenapa dia takut kalau kekasihnya meninggalkannya? Kenapa dia tak mengejar mimpinya? Banyak sekali pertanyaan kenapa di kepala saya. Saya bingung.

Mungkin kampanye dan penyadaran tentang perempuan kepala keluarga, tentang perspektif gender, tentang anti-kekerasan terhadap perempuan, tentang kekerasan dalam rumah tangga, harus lebih gencar lagi dan menarik untuk kelompok kelas menengah. Kelas menengah yang dianggap memiliki informasi memadai dan memiliki banyak pilihan ini, tampaknya terselip di antara maraknya kampanye yang banyak dilakukan untuk kelompok yang lebih rentan.

Tentang stigma janda, saya memang banyak menemukan komentar sinis dan negatif lalu-lalang di media sosial mengenai janda. Saya juga tidak paham kenapa orang memberi label negatif terhadap kelompok ini. Terkadang menjadi janda atau perempuan kepala keluarga adalah satu pilihan untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Dan itu tak mudah. Cobalah cari alias Googling kata kunci Nani Zulminarni dan Perempuan Kepala Keluarga, bacalah dan Anda akan tahu cerita banyak perempuan kepala keluarga yang berjuang untuk melanjutkan hidupnya. Tak ada salahnya jadi janda. 

Buat Mbak P, saya berharap Anda tidak menikah dengan kekasih Anda itu, yang menghalangi Anda pergi ke kota impian dari dulu. Karena perbuatan kekasih Anda itu adalah awal dari kekerasan dan membuat Anda tersubordinasi.

Sampai ketemu di Tokyo, Mbak!

Sofia Kartika pernah bekerja untuk isu pengarusutamaan gender di berbagai program, baik untuk pemerintah pusat maupun daerah di Indonesia. Sekarang ia bekerja menjadi ibu rumah tangga dan kadang-kadang menulis tentang isu perempuan dan aktivitas jalan-jalan di Tokyo.