May, 03 2019
Memperbesar Volume Perempuan dalam Film Indonesia

Film Indonesia masih menampilkan karakter perempuan yang seragam dan stereotip tanpa kedalaman.

by Elma Adisya, Jurnalis
Culture // Screen Raves
Women in Film Thumbnail, Magdalene
Share:

Jika kita berbicara mengenai penggambaran perempuan dalam film Indonesia, sebagian besar berkutat pada karakter dengan drama percintaan yang rumit atau film horor. Hal ini sudah berlangsung sejak lama dan tetap terjadi sampai sekarang.

Pada tahun 2017, misalnya, film-film bergenre horor dan drama percintaan dengan karakter sentral perempuan ada dalam daftar 10 film terlaris. Sebut saja misalnya Danur (2017), yang kesuksesannya meraih 2,7 juta penonton dan pendapatan kotor Rp95,7 miliar mendorong peluncuran sekuelnya pada tahun berikutnya. Film terlaris lain adalah drama percintaan London Love Story (2017) dan Critical Eleven (2017). Pola yang sama berlanjut pada tahun 2018 untuk film-film dengan tokoh utama perempuan, seperti Suzzanna Bernapas dalam Kubur dan Teman Tapi Menikah.

Dalam film horor karakter perempuan umumnya memiliki kemampuan supernatural dan terlalu ingin tahu, sementara dalam drama percintaan dewasa muda, jika tidak eksekutif muda anak orang kaya, maka karakter galau yang perlu diselamatkan laki-laki (damsel in distress).

Karakter perempuan menjadi kurang beragam dan tokoh progresif dengan isu perempuan di luar yang telah disebutkan tadi dianggap kurang diminati oleh pasar. Perempuan penulis skenario atau pembuat film kemudian dipekerjakan semata-mata untuk melayani pasar dua genre tersebut, seperti dialami oleh sutradara dan penulis skenario Gina S. Noer. Ia mengatakan sebagian besar produser hanya melihat perempuan bukan untuk menceritakan beragam kisah dan merayakan perempuan dalam layar, namun untuk menggaet pasar perempuan.

“Sistem ini yang membuat karakter perempuannya sama. Percuma banyak karakter perempuan tetapi enggak ngomongin masalah perempuan,” ujar Gina dalam diskusi Sekolah Minggu yang diselenggarakan oleh bioskop alternatif Kinosaurus akhir April lalu.

Ia menambahkan bahwa upayanya untuk memasukkan lebih banyak plot dan perkembangan karakter perempuan sering kali ditolak.

Sementara itu, untuk menghindari peran yang itu-itu saja, aktris Hannah Al Rashid mengatakan ia memilih untuk berperan dalam berbagai genre film. “Sulit untuk menemukan karakter perempuan yang beragam kalau hanya main di satu genre tertentu saja,” ujar Hannah kepada Magdalene lewat telepon.

Meski beragam genre, ujarnya, karakter perempuan jarang sekali dibuat memiliki kedalaman dan kompleksitas. “Umumnya masih terikat dengan stereotip masyarakat,” kata Hannah.

Hal yang sama juga dialami oleh aktris Putri Ayudya, yang selalu ditawari karakter-karakter yang serupa, yakni ibu muda, perempuan yang teraniaya, atau peran melodramatis.

“Baru belakangan saya mulai ketemu dengan sutradara dan produser yang berani melihat dan ingin menampilkan perempuan dari sudut pandang realitas,” ujar pemeran utama film Kenapa Harus Bule? (2018).

Sutradara dan produser Nia Dinata mengatakan faktor lain yang mendorong kurang beragamnya karakter dan cerita perempuan dalam film adalah karena politik identitas yang kini marak dalam masyarakat.

“Politik identitas itu mengotak-kotakkan jenis-jenis perempuan, mana yang baik dan tidak baik. Masyarakat mulai banyak yang saling menghakimi, karena perbedaan-perbedaan yang ada, dan ini terbawa ke ranah media sosial. Pada akhirnya, hal ini mempengaruhi selera menonton masyarakat juga,” ujar Nia kepada Magdalene, Senin (22/4).

Representasi perempuan

Indonesia sebetulnya sempat mengalami periode-periode dengan karakter perempuan beragam dan berdaya. Kritikus dan pengarsip film Lisabona Rahman mengatakan, periode 1950-an merupakan periode emas dengan film seperti Tiga Dara karya Usmar Ismail. dengan tiga karakter perempuan kuat yang dapat mencari jodohnya sendiri.

“Boleh dibilang tahun 1950-an adalah kulminasi revolusi kebudayaan. Sentimen kebangsaan, antikolonialisme, dan kesadaran mengenai ketimpangan kelas bergerak bersama-sama. Kesadaran ini ditularkan melalui pendidikan dan media, termasuk film,” ujar Lisabona pada diskusi panel “Menuju Industri Perfilman yang Melek Gender” sebelum peluncuran aplikasi review film feminis Mangometer yang diadakan Magdalene Februari lalu.

Pada awal 2000an, film Indonesia mengalami kebangkitan setelah mati suri, ditandai oleh film-film yang memunculkan karakter perempuan dengan beragam latar belakang. Periode pertengahan 2000-an dinilai oleh Lisabona sebagai angin segar bagi terciptanya karakter perempuan yang lebih beragam karena kondisi politik yang progresif di tahun-tahun tersebut.

Ratna Noviani, dosen Kajian Budaya dan Media di Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa pada tahun 2000-an, film-film dari sutradara perempuan, seperti Pasir Berbisik dari Nan T. Achnas dan Berbagi Suami karya Nia Dinata, merepresentasikan beragam pengalaman dan pergulatan perempuan dalam menghadapi batasan-batasan kultural dan struktural yang diciptakan oleh tatanan patriarkal.

“Namun setelah periode itu, karakter perempuan yang dibuat masih banyak yang cenderung stereotip. Digambarkan berpendidikan tinggi, mandiri dan memiliki kebebasan untuk memilih, akan tetapi pada akhirnya si figur perempuan tersebut dikembalikan lagi pada peran tradisional seperti ibu dan istri,” ujar Ratna.   

Hal ini cenderung Ratna temukan di banyak film-film bertema religi, seperti Hanum dan Rangga (2018). Bagaimana misalnya si perempuan harus memilih di antara karier cemerlang atau keluarga, karena istri yang terlalu sibuk diyakini sebagai pangkal runtuhnya pilar keluarga.

Lisabona Rahman, kritikus dan pengarsip film.

Jumlah sineas perempuan juga menentukan representasi perempuan dalam film Indonesia. Hasil penelitian kritikus dan akademisi film Eric Sasono pada 2011 menunjukkan, dari 1998 hingga 2009, baru ada 19 sutradara perempuan atau hanya 10 persen dari total jumlah sutradara film Indonesia saat itu.

Ratna mengatakan saat ini ada peningkatan jumlah sutradara perempuan akibat adanya gerakan film independen dan juga didukung oleh platform media baru. Ia menambahkan bahwa ketika perempuan sineas berbicara tentang perempuan, mereka adalah agen yang berbicara dengan narasi dan suara yang berbeda dari sudut pandang yang dominan yaitu sudut pandang patriarkal.

“Para perempuan sineas ini diharapkan bisa memberi lebih banyak ruang bagi beragam subyektivitas perempuan untuk bersuara dan disuarakan di ruang representasi film,” kata Ratna.

Sepakat dengan Ratna, Gina mendorong lebih banyak lagi perempuan dalam sektor film Indonesia.

“Walaupun sutradara atau produsernya laki-laki yang memiliki perspektif feminis, tetap saja hal ini akan berbeda. Akan lebih baik jika sutradara atau produsernya perempuan,” ujar Gina, yang akan meluncurkan film perdananya sebagai sutradara, Dua Garis Biru, tahun ini.

Seksisme di lapangan

Dari segi jumlah, sutradara dan produser perempuan sudah meningkat dari sebelumnya. Namun seperti perempuan pada umumnya, mereka masih menghadapi seksisme di lapangan. Sutradara Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, Mouly Surya mengatakan  bahwa ia pernah menghadapi resistensi dari awak film yang umumnya laki-laki yang tidak suka dipimpin perempuan.

“Bahkan saat proses perekrutan sebagai sutradara pun tidak lepas dari bias gender. Pada saat wawancara, saya ditanya bagaimana saya membagi waktu antara saya dengan anak saya,” ujar Mouly dalam diskusi Mangometer beberapa waktu yang lalu.

Nia Dinata mengatakan ia masih melihat pelecehan seksual dalam proses produksi film.

“Beberapa sutradara dan produser perempuan sudah ada yang menerapkan zero tolerance terhadap  pelecehan seksual dan diskriminasi saat dalam produksi, “ ujar Nia.

“Waktu itu misalnya asisten make up digoda-godain. Tapi pada saat aku lewat semua diam. Nah, mereka sebenarnya tahu bahwa that’s not the right thing to do. Kebiasaan ini memang susah untuk diputuskan rantainya,” tambahnya.

Hannah Al Rashid mengatakan ia masih sering melihat kebiasaan-kebiasaan seksis ketika sedang dalam proses pengambilan gambar. Ia juga sering kali dianggap emosional oleh kru lain, hanya karena ia memiliki pendapat tentang suatu hal.

“Kalau kita (perempuan) yang mengomentari sesuatu, kita dianggap emosional. Kalau laki-laki tidak dianggap seperti itu, mereka langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh kru lelaki,” ujar Hannah.

Melihat kondisi yang saat ini terjadi dalam dunia industri film, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan oleh banyak pihak, dan perlu kerja sama antara satu sama lain. Menurut Nia, edukasi masyarakat bisa dilakukan melalui acara-acara menonton bareng dan diskusi, sebagai salah satu alternatif untuk memengaruhi selera pasar.

“Dari sisi filmmaker, kita juga perlu membuat ruang alternatif untuk menonton. Karena kita tahu film apa saja yang bagus, dan banyak film bagus yang tidak sempat ditonton karena kalah saing secara bisnis, agar penonton juga banyak pilihan untuk menonton,” ujarnya.

Bagi aktris, terkadang sulit untuk menolak peran-peran tokoh perempuan yang stereotip. Namun menurut Hannah, aktris bisa mengupayakan agar bisa mengubah karakter perempuan dalam film tersebut menjadi lebih baik dan tidak stereotip.

“Waktu itu gue terima film Warkop DKI, gue banyak berdialog dengan Pakde Indro untuk mengubah karakter perempuan di sana agar tidak melanggengkan stereotip perempuan, mulai dari busana yang digunakan dan konsep karakter Warkop Angels di film tersebut,” ujar Hannah.

Ia menambahkan hal ini merupakan salah satu bentuk perlawanannya untuk memperbaiki representasi perempuan dalam film.

Artikel ini merupakan hasil kerja sama Magdalene dengan Kalyana Shira Foundation, organisasi nirlaba yang berfokus pada isu-isu perempuan, gender, anak-anak, dan kaum marginal lainnya.

Baca juga soal lembaga sensor film yang menghambat kreativitas sineas.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo