January 11, 2017
Patologi Kaum Mayoritas

Mengatasi permasalahan kedua kaum ini diperlukan pendekatan terhadap individu penyusunnya. Tiap-tiap anggota kelompok tersebut perlu untuk ditanamkan rasa empati dan saling memahami sejak dini.

by Shela Putri Sundawa
Issues // Politics and Society
Share:
Dalam bukunya yang berjudul A Kite Runner, Khaled Hosseini menampilkan seorang tokoh dari etnis Hazara, etnis minoritas di Afghanistan, yang mengalami penindasan dan pengucilan. Meskipun cerita di buku ini adalah fiksi, namun apa yang dikisahkan di dalamnya tentang keterasingan etnis minoritas tersebut bukan sekedar pemanis cerita saja.
 
Dalam catatan perjalanan Agustinus Wibowo yang berjudul Selimut Debu, ia menuturkan bagaimana kaum Hazara ini harus terbuang di negaranya sendiri bertahan dari agresi tentara asing sekaligus membela diri dari saudara setanah air mereka hanya karena bentuk fisik mereka serta agama yang mereka anut berbeda dengan kaum mayoritas.
 
Orang Hazara, tidak sama dengan bangsa Arab lain, memiliki mata yang sipit dan hidung pesek seperti bangsa Mongoloid dan beragama Islam Syiah. Karena alasan inilah Bangsa Pashtun, etnis mayoritas, yang beragama Islam Sunni dan memiliki wajah seperti orang jazirah Arab umumnya, mengaggap Hazara bukan bagian dari mereka sehingga harus diperangi.
 
Di belahan bumi lain, cerita serupa berulang kembali. Kali ini yang menjadi kaum mayoritas adalah yang berwajah Mongooid dan yang menjadi minoritas adalah yang bermata besar dengan warna coklat senada dengan rambutnya dan hidung yang mancung, mereka tinggal di ujung utara daratan China dan beragama Islam. Mereka adalah suku Uyghur, salah satu suku yang dianggap memiliki wajah tercantik sedunia namun di sisi lain terasing dan tidak diinginkan di negeri mereka sendiri.
 
Masyarakat Uyghur telah berkali-kali berjuang untuk lepas dari pemeritah Cina namun berkali-kali pula gagal. Pemerintah Cina kemudian menjadi semakin opresif membatasi ruang gerak mereka bahkan membatasi praktek peribadatan dengan alasan untuk memerangi separatisme dan terorisme.
 



Di mana pun mereka berada, kaum minoritas ada di posisi tertindas dan terasing. Keberadaannya tidak pernah benar-benar diakui entah karena rupa atau agamanya yang berbeda.
 
Keberpihakan pemimpin politik pun sama di setiap kisah mayoritas vs. minoritas. Pemimpin politik yang takut kehilangan simpati dari kaum mayoritas, memilih untuk tidak melakukan apa-apa, seperti Aung San Suu Kyi, pemimpin Myanmar yang diagung-agungkan dan dianugerahi Hadiah Nobel untuk Perdamaian malah diam seribu bahasa ketika penindasan pada Rohingnya terjadi.
 
Pemimpin politik lain malah dengan terang-terangan melanggar hak asasi kaum minoritas, pemerintah China terhadap Uyghur, misalnya.
 
Pola dari patologi kaum mayoritas ini selalu sama, hanya aktor dan latar tempatnya saja yang berbeda. Motifnya selalu berawal dari ketidaksenangan kaum mayoritas terhadap minoritas yang dianggap bukan ‘saudaranya’ entah karena perbedaan fisik, kepercayaan, atau asal usul nenek moyang yang berbeda dengan mereka.
 
Perselisihan antar kaum ini tidak hanya muncul dalam batas-batas wilayah negara saja. Bahkan saat ini, terdapat minoritas yang menjadi musuh bersama kaum mayoritas seluruh dunia, kaum LGBT.
 
Mereka yang masuk ke golongan ini memiliki orientasi seksual atau gender yang berbeda dari kaum umumnya. Demikian hingga mereka dianggap sebagai orang yang amoral, penuh dosa, atau bahkan memiliki kelainan jiwa sehingga tidak layak hidup di masyarakat. Adanya legalisasi pernikahan sesama jenis di seluruh negara bagian di Amerika Serikat, tidak kemudian akan disambut dengan euforia lapisan  masyarakat yang lain yang akan menerima dan mengakui mereka sepenuhnya menjadi bagian dari masyarakat. Keabsahan hukum dan pengakuan sosial merupakan hal yang benar-benar berbeda.
 
Kaum mayoritas dengan jumlahnya yang besar akan cenderung berlaku sebagai tiran, seolah kelompok ini memiliki kekuasaan yang tidak terbatas. Padahal apabila kita urai, tiap-tiap individu di dalamnya tidak lebih kuat atau berkuasa dari individu di kelompok minoritas. Bahkan mungkin terdapat beberapa dari kaum minoritas ini yang memiliki kedudukan atau strata sosial yang lebih tinggi. Dengan kata lain, kaum mayoritas menjadi kuat hanya karena jumlah mereka.
 
Mengatasi permasalahan kedua kaum ini diperlukan pendekatan terhadap individu penyusunnya. Tiap-tiap anggota kelompok tersebut perlu untuk ditanamkan rasa empati dan saling memahami sejak dini.
 
Rasa empati ternyata dapat ditanamkan pada anak sejak dini dengan membaca. Pada studi yang dilakukan oleh Raymond Mar dari York University, didapatkan bahwa mereka yang gemar membaca cerita fiksi memiliki rasa empati dan ‘theory of mind’ paling tinggi. Theory of mind adalah kemampuan untuk menangkap opini, kepercayaan dan ketertarikan yang terpisah dari miliknya sendiri. 
 
Mereka dengan theory of mind yang baik dapat menerima ide orang lain dengan tetap mempertahankan ide yang mereka miliki di saat yang bersamaan. Anak yang tumbuh dengan kebiasaan membaca sejak dini, oleh karena itu akan berkembang menjadi seorang yang jauh lebih bijaksana daripada yang lain.
 
Kaum mayoritas dan minoritas akan selalu ada. Di masa mendatang karena suatu hal, misalnya keberhasilan gerakan separatis atau pergeseran norma, kaum minoritas dapat berubah menjadi kaum mayoritas. 
 
Dengan demikian mereka yang saat ini menjadi kaum mayoritas janganlah terburu-buru besar kepala. Menanamkan sikap empati adalah hal paling logis yang dapat dilakukan saat ini untuk menghentikan permusuhan yang pada akhirnya tidak akan menghasilkan apa-apa selain kesengsaraan dan kemunduran peradaban. 
 
Shela Putri Sundawa adalah dokter lulusan Universitas Indonesia dan juga penerima beasiswa LPDP untuk program dokter spesialis. Ia pernah menjadi wakil Indonesia dalan Sidang Umum PBB tahun 2011. Shela juga aktif mengeluarkan unek-uneknya lewat tulisan di blog pribadinya oxfara.blogspot.com atau di medium.com/@oxfara