Women Lead
August 04, 2021

Pejabat Pansos Greysia-Apriyani: COVID-19 Belum Usai, 2024 Sudah Dimulai

Greysia-Apriyani yang berjuang hingga berdarah-darah untuk bisa mengharumkan nama Indonesia, tapi deretan politikus ini cuma bisa nebeng tenar.

by Purnama Ayu Rizky, Redaktur Pelaksana
Issues
Share:

Saya kira, melihat baliho politisi PDI-Perjuangan Puan Maharani, di mana-mana sudah cukup menyiksa, tapi ternyata itu belum cukup. Kemenangan membanggakan duo atlet perempuan di Olimpiade Tokyo 2020, Greysia-Apriyani nyatanya diboncengi poster pejabat di media sosial. Tak kurang puluhan pejabat melakukan ini, mulai dari politisi Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan adiknya, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) hingga Jazuli Juwaini dari PKS. Motifnya sama: Wajah mereka ditempatkan di sisi kanan/ kiri Greysia-Apriyani, lalu dilengkapi teks ucapan selamat atas perolehan medali emas perempuan-perempuan asal Sulawesi itu.

Dalam keterangan persnya pada CNN Indonesia, AHY menyebut tindakannya adalah spontanitas sebagai ucapan bangga, syukur, dan terima kasih kepada para atlet. Bahkan pihak AHY berujar, tiap kali ada atlet yang menang, ia akan rutin membuat ucapan terima kasih serupa di media sosialnya. Karena itulah, ia menolak jika dilabeli sebagai pejabat panjat sosial (pansos) demi ancang-ancang di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Sebuah tuduhan serupa yang dialamatkan pada penerus trah politik lainnya, termasuk Puan.

Baca juga: Perempuan Indonesia Catat Sejarah, Emas buat Apriyani-Greysia

Dalam kasus Puan, tak hanya puas menyesaki setiap lampu merah se-Indonesia dengan baliho raksasa bertuliskan kata-kata ajaib “Kepakkan Sayap Kebhinnekaan” hingga “Jaga Iman, Jaga Imun, Insyaallah Aman”, ia termasuk paling niat membikin poster nebeng Greysia-Apriyani. Jika politisi yang lain memasang poster berisi foto mereka, Puan lebih kreatif lantaran membuat poster dalam edisi kartun. Ada posenya (dalam format kartun) yang nyaris berjajar dengan dua atlet itu, lengkap dengan jabatannya sebagai Ketua DPR RI, plus quote bahwa Greysia-Apriyani telah membanggakan kaum perempuan. Sebuah narasi yang sama seperti saat ia terpilih sebagai DPR-R1 beberapa waktu lalu.

Padahal dalam praktiknya, Puan adalah politisi yang jarang mengarusutamakan agenda perempuan. UU Cipta Kerja digolkan dengan mudah di bawah kepemimpinannya, sementara RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) masih menggantung dan digembosi sana-sini. Sejak berkarier sebagai politisi meneruskan jejak kakek dan ibunya, sejak jadi menteri hingga anggota dewan, saya sendiri belum pernah melihat Puan lantang membuktikan bahwa ia memang “politisi perempuan untuk perempuan”. Sehingga, kesetaraan perempuan atau politik afirmasi yang dia selalu putar seperti kaset rusak tiap kampanye hingga saat ini, bagi saya tak lebih dari jargon kosong.

Sama kosongnya seperti ulah politisi yang ramai-ramai melakukan panjat sosial atas kemenangan Greysia-Apriyani, apapun pembelaan mereka. Beberapa pengamat menyebut, apa yang dilakukan oleh politisi-politisi ini adalah persiapan jelang Pilpres 2024. Setidaknya meski prestasi nihil, wajah mereka yang beredar di mana-mana bisa menancap di benak orang dan terus diingat. Dalam politik konvensional, apa yang dilakukan oleh mereka adalah bagian dari upaya mengerek popularitas. Memang, popularitas tak otomatis terkonversi dalam wujud suara, tapi di desa-desa di mana medium informasi tak seberagam perkotaan, strategi ini cukup efektif.

Narsisme Politisi

Paul Krugman, kolumnis The New York Times pernah khawatir, jika kekuasaan jatuh pada orang kaya dan narsis, maka yang terjadi adalah kehancuran. Ia merujuk pada kampanye Pilpres Amerika Serikat (AS) pada 2016 di mana Hillary Clinton harus bertemu dengan konglomerat AS yang cenderung narsis, Donald Trump. 

Narsisme Trump mudah ditemui di baliho-baliho sudut jalan, cuitan pribadinya yang diamplifikasi oleh buzzer-buzzer bayaran di media sosial, hingga foto-foto ia bersama figur artis terkenal. Contohnya, Trump memunculkan kembali foto pribadi ia dengan frenemy-nya yang juga petinju Muslim, Mike Tyson. Pria ini memang menunjukkan kesetiaannya pada Trump, termasuk di momen Pilpres 2020. Foto Tyson bersama Trump yang mengumumkan bahwa sahabatnya itu jadi penasihat keuangannya pada 1989, mendadak viral di momentum Pilpres. Tyson sendiri memiliki basis massa yang cukup banyak di AS, terutama di kalangan penyuka olahraga.

Baca juga: Prestasi Pesenam Simone Biles dan Sisi Gelap Kehidupan Atlet Perempuan

Pada 2020, Trump sengaja berfoto bareng Kanye West, penyanyi kontroversial AS yang belakangan memberi dukungan pada suami Melania. Foto itu bahkan ditempatkan di media sosial Trump dengan tambahan rumor bahwa Kanye ingin berduet dengan Trump atau sekalian mengajukan diri secara pribadi sebagai calon presiden (Capres) AS tahun itu.

Sudah kaya ditambah narsis, maka hasilnya adalah kekuasaan yang korup. Berbahaya, kata Christopher Lasch dalam bukunya The Culture of Narcissism (1979) yang diterbitkan oleh W.W Norton. Dalam politik, orang yang cenderung narsis biasanya menutupi kekurangannya karena dunia cuma berporos pada sosoknya. Asumsinya, semakin hiperbola dirinya, semakin menguntungkan buat posisi dia. Mereka adalah sosok yang merasa paling superior dan unggul dibandingkan dengan orang lain. Dalam contoh ekstrem, narsisme politik ini menghinggapi Adolf Hitler dan Stalin, dan dalam contoh yang ringan-ringan, narsisme politik tampak dari wajah politisi yang mendompleng keberhasilan Greysia-Apriyani. Khususnya politisi yang foto wajahnya lebih besar ketimbang si empunya penyumbang medali emas.

Memang pada prinsipnya tak ada larangan bagi politisi untuk mengucapkan selamat pada keberhasilan atlet di kompetisi olahraga. Namun, itu jadi tidak etis karena dilakukan saat Indonesia tengah berjibaku dengan pagebluk yang enggak kelar-kelar. Buat saya, daripada repot-repot mendaku diri seolah-olah andil dalam kemenangan Greysia-Apriyani, lebih baik energinya digunakan untuk mengurus pandemi yang centang perenang ini. Pun, daripada sibuk buat baliho yang menyumbang polusi visual di seantero negeri, lebih baik duitnya untuk menyumbang korban COVID-19. Toh, cuma Greysia dan Apriyani yang mungkin paling berdarah-darah berjuang sampai menang. Sementara politisi lain bisa jadi sedang lihat komentar unggahan poster mereka di media sosial sambil nonton sinetron Ikatan Cinta.

Udah ah, takut dicyduk tukang bakso.

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu gender dan kelompok minoritas. Di waktu senggangnya, ia biasa berkebun atau main dengan anjing kesayangan.