September, 05 2018
Pelecehan dan Pemerkosaan adalah Soal Kekuasaan: Argumen Balasan

Pemerkosaan dan pelecehan terjadi akibat "keperempuanan" yang lebih rentan daripada "kelelakian".

by Nadya Karima Melati, Kolumnis
Issues // Gender and Sexuality
Share:
Saya sangat senang dengan respons tulisan yang baik dari Priscila Yovia dan Anastasia Sijabat terhadap artikel saya sebelumnya. Hal ini mengindikasikan tengah berlangsung dialog antara feminis muda di Indonesia dan hal ini perlu dilestarikan. Feminisme bisa bertahan sampai sekarang karena dia terus dikritik dengan layak dan disesuaikan dengan masanya. Semoga perdebatan ini mampu membuka budaya baru para feminis untuk saling bertukar pikiran tetapi tetap bersatu dalam gerakan.

Perbedaan pandangan di antara feminis adalah hal yang wajar selama masing-masing mampu mengeluarkan argumen dan mempertahankannya dengan logis. Juga mengoreksi diri sendiri dan keluar dengan pemikiran yang baru. Saya sangat berharap diskusi ini bisa terus berlanjut dan sesama feminis harus saling terbuka dalam mengkritik dan berhenti untuk menjatuhkan satu sama lain.

Meski demikian, tulisan ini saya buat untuk mempertahankan argumentasi saya sebelumnya, dan saya tidak mengubah pendapat bahwasanya pelecehan dan perkosaan terjadi akibat relasi kuasa.

Hal yang sayangkan dari artikel Priscila dan Anastasia adalah lompatan kesimpulan yang dilakukan ketika membaca artikel saya dalam kalimat ini, “Tulisan Nadya Karima Melati, misalnya, berupaya untuk membuktikan bahwa teori objektifikasi, budaya pemerkosaan, dan relasi kuasa membuat laki-laki imun dari pelecehan dan kekerasan seksual.” Padahal telah saya jelaskan dalam artikel bahwa pemerkosaan dan pelecehan terjadi akibat keperempuanan yang lebih rentan daripada kelelakian.

Keperempuanan bukanlah perempuan sebagai identitas gender bervagina. Keperempuanan adalah ekspresi dan identitas gender. Keperempuanan adalah sifat-sifat feminin yang bisa diadopsi oleh jenis kelamin apa saja. Karenanya, laki-laki yang bersikap feminin seperti waria lebih rentan mendapat kekerasan seumur hidupnya dibandingkan dengan perempuan maskulin.



Hal yang harus diperhatikan dalam diskursus feminisme hari ini adalah tidak melepaskannya dengan analisis gender dan seksualitas. Ada beberapa hal yang bisa dikoreksi dalam kasus objektifikasi ini, misalnya mengapa objektifikasi seksual hanya berlaku pada lawan jenis? Ini memperlihatkan bahwa pemahaman heteronormatif masih mendominasi dalam kasus-kasus kekerasan seksual. Maka dari itu, apabila pemahaman soal relasi kuasa dilepaskan dari analisis bentuk-bentuk kekerasan seksual, akan terjadi kesalahpahaman identifikasi karena korban-pelaku hanya sebatas bentuk perilaku yang dilakukan oleh orang yang memiliki jenis genital yang berseberangan.

Pemerkosaan adalah soal kekuasaan, bukan soal hasrat seksual semata. Begitu juga dengan pelecehan. Jurnal Perempuan telah membahas dengan apik masalah ini dalam edisi nomor 71 tahun 2011 bahwa pemerkosaan adalah tindak penguasaan dan hal ini senada dengan hasil riset Partners for Prevention oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa pada September 2013 terhadap laki-laki di wilayah Asia dan Pasifik. Dalam laporan riset itu dijelaskan mengapa laki-laki memerkosa pasangannya dan jawaban paling besar adalah karena laki-laki merasa berhak melakukan hubungan badan dengan pasangannya, tidak peduli ada kesepakatan (consent) dan dilakukan dengan perasaan marah atau penghukuman kepada pasangannya. Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa terjadi perkosaan yang dilakukan oleh lelaki kepada sesama lelaki. 

Memahami kesepakatan dalam berelasi

Kesepakatan adalah hal kunci untuk menjelaskan apakah sebuah perilaku menjadi kekerasan seksual atau bukan. Kesepakatan bisa terjadi apabila kedua pihak berada pada posisi yang sama, atau dalam kata lain setara. Dalam posisi yang setara, penolakan atau penerimaan dari salah satu pihak diterima dan dihargai. Pada kekerasan seksual, tidak ada kesepakatan karena salah satu pihak ingin menguasai pihak yang satunya, dan hal tersebut dilakukan dengan menyerang melalui seks. Misalnya dengan diperkosa atau penghukuman secara seksual.

Pemerkosaan massal terhadap perempuan pada 1998 misalnya, para ahli sejarah menyebutnya dengan Last Kick of The Dying Horse karena negara berusaha menunjukkan kuasanya melalui kekacauan massal dan pemerkosaan pada perempuan semata-mata menunjukkan sisa kekuatan untuk menguasai rakyat. Contoh lain adalah perisakan yang terjadi di sekolah pada seorang lelaki yang dianggap feminin, yang kemudian dipaksa melakukan seks oral kepada lelaki yang maskulin.

Pada kasus kedua, bisa terlihat bahwa walaupun keduanya berada pada usia yang sama, bukan berarti tidak ada upaya untuk menguasai. Perisakan terjadi karena satu pihak ingin menguasai pihak yang lain melalui kekerasan, penghinaan, dan perendahan martabat. Kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi karena laki-laki menganggap inferioritas perempuan terhadap laki-laki adalah hal yang alamiah, sesuai  kodrat, dan laki-laki harus mengembalikan hal yang alami tadi melalui tindak kekerasan.

Analisis terhadap relasi kuasa harus didahulukan baru kemudian diturunkan faktor lain seperti gender dan seksualitas. Analisis gender adalah menganalisis struktur mengapa penindasan dan opresi kepada perempuan terjadi dan bagaimana bentuk-bentuknya. Tanpa memahami struktur kekuasaan, feminisme interseksionalitas hanya jadi tong kosong yang nyaring tapi tanpa isi.

Patriarki tidak turun dari langit

Feminisme melawan hal-hal biologis seperti melahirkan, menyusui dan menstruasi diasosiasikan dengan merawat anak, menjadi ibu, dan domestifikasi. Hal-hal yang dianggap alamiah perempuan ditentang karena “perempuan” sendiri adalah sebuah bentukan masyarakat. Sedangkan posisi laki-laki yang dominan di masyarakat dan dianggap alami dan wajar, itu yang mati-matian ditentang oleh feminisme. Feminisme menyebut kondisi adanya dominasi lelaki dalam struktur masyarakat dengan patriarki. Patriarki adalah sebuah istilah untuk menjelaskan relasi gender yang kompleks namun tidak setara.

Pada tulisan saya yang lain di Magdalene, saya menjelaskan bahwa konsep patriarki selalu taken for granted. Teriakan feminis melawan patriarki dan menjelaskan sebuah kondisi dominasi lelaki selalu dianggap sifat patriarki atau efek patriarki tanpa menjelaskan bagaimana genealogi patriarki dan mengapa patriarki itu bisa terjadi. Untuk itu, teori-teori feminisme muncul untuk melakukan analisis struktur masyarakat, mengecek relasi kuasa antar gender, dan menganalisis bagaimana patriarki bekerja. Mengapa? Agar selain kita bisa menganalisis bentuk-bentuk patriarki, kita juga bisa mencegahnya supaya tidak terulang kembali. Analisis terhadap patriarki juga menjadi penting untuk melihat bagaimana dampak yang terjadi merugikan identitas gender lain selain perempuan: transpuan, transpria, laki-laki gay feminin, dan bahkan laki-laki sendiri.

Analisis berbasis empiris penting ditekankan seperti ketika Komnas Perempuan mengeluarkan 15 bentuk kekerasan seksual dan SGRC UI (Support Group and Resource Centre on Sexuality Studies Universitas Indonesia) mempublikasikan 11 jenis kekerasan seksual di dunia maya. Bentuk-bentuk tersebut adalah hasil analisis dari kejadian yang benar-benar terjadi di masyarakat.

Yang menjadi tugas kita bersama adalah selain menemukan, melaporkan, dan menindaklanjuti kasus-kasus kekerasan tersebut adalah memahami, mengapa kekerasan seksual bisa terjadi baik di dunia nyata dan di dunia maya. Berdasarkan temuan kasus, bagaimana pola yang terjadi dan apa yang menyebabkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut melawan argumentasi bahwa kekuasaan lelaki adalah hal yang alamiah. Bahwa kekerasan berbentuk sosial dan dikonstruksi, bahwa hal yang terlihat personal ternyata berdampak politik. Bahwa apabila kita mau saling percaya dan mendengarkan serta duduk bersama untuk bicara, kekerasan bisa dicegah.

Apakah gerakan emak-emak militan feminis?
Nadya adalah penulis dan peneliti sejarah dari Support Group and Resource Center on Sexuality Studies (SGRC) Indonesia.