Environment Issues People We Love

#TanahAirKrisisAir: Kebun Kali Code, Fitri Nasichudin, dan Penyelamatan Air dari Rakyat Biasa

Saat pemerintah tak hadir untuk mengatasi krisis air bersih, giliran warga biasa macam Fitri Nasichudin yang bergerak.

Avatar
  • September 1, 2023
  • 6 min read
  • 1377 Views
#TanahAirKrisisAir: Kebun Kali Code, Fitri Nasichudin, dan Penyelamatan Air dari Rakyat Biasa

Jika ada satu hal yang dipelajari selama pandemi COVID-19, bagi Fitri Nasichudin, 40 jawabannya adalah membangun komunitas berkebun. Perempuan yang bekerja sebagai freelance tour guide sekaligus ibu rumah tangga ini, mendirikan Kebun Kali Code. Dengan mayoritas anggota warga Kampung Ledok Tukangan, Yogyakarta, awalnya komunitas tersebut fokus menanam sayuran.

Inisiatif Fitri Nasichudin berangkat dari keinginannya mencari aktivitas alternatif selama di rumah. Ditambah ia melihat maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagian warga yang bekerja di industri. Karena itu, Fitri mengajak warga untuk jadi petani kota lewat berkebun, agar mereka memiliki ketahanan pangan.

 

 

“Buat saya, berkebun termasuk survival skill yang penting kita punya, soalnya bisa dilakukan kapan dan di mana aja. Terlebih saat terjadi bencana dan butuh bahan makanan, kayak pandemi kemarin,” ujar Fitri.

Di tengah Zoom meeting dengan Magdalene siang itu, ingatannya kembali ke tiga tahun lalu. Fitri menceritakan, waktu itu pemerintah enggak sepenuhnya menjamin hidup warga Kampung Ledok Tukangan. Karena itu, Fitri mulai memikirkan solusi supaya warga bisa makan, tercukupi nutrisinya, dan tetap sehat di tengah keterbatasan.

“Alhamdulillah kebutuhan kami terpenuhi (karena berkebun). Soalnya rata-rata donatur mengirimkan makanan instan, jadi jarang mendapatkan asupan nutrisi dari buah dan sayur,” ceritanya. Menurut Fitri, bantuan makanan pun diprioritaskan bagi keluarga yang terdampak COVID-19.

Di balik keberhasilan itu, awalnya hanya Fitri yang mulai berkebun. Ia mulai mengajak warga setelah sayurannya panen, dengan memperlihatkan hasil panen. Barulah warga—terutama perempuan—tertarik berpartisipasi bersama Fitri dan membentuk Kebun Kali Code.

Mereka menanam sawi, kangkung, tomat, dan cabai. Fitri mengaku, berkebun membantu mengurangi keresahan warga, di tengah naik turunnya harga sayur di pasar.

Alhasil, kebutuhan keluarga masing-masing tercukupi. Bahkan, hasil panen Kebun Kali Code dibagikan ke warga lain, panti asuhan, teman-teman disabilitas, dan lansia. Ada juga yang dijual, lalu uangnya digunakan untuk keperluan komunitas. Atau jadi menu tambahan gizi, bagi anak-anak di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kampung Ledok Tukangan.

Makin ke sini, aktivitas Kebun Kali Code semakin beragam. Mereka menyelenggarakan workshop pembuatan tempe dan eco enzyme. Yakni fermentasi limbah dapur organik dari kulit buah atau sayur, yang dicampur air dan gula merah untuk pupuk atau pestisida alami.

Pesertanya pun beragam. Menurut Fitri, belakangan ini banyak mahasiswa dan turis mancanegara yang datang ke Kampung Ledok Tukangan, untuk berpartisipasi dalam workshop. Sebisa mungkin, komunitas ini ingin membuka ruang bagi siapa pun, untuk belajar bersama.

Namun, di tengah pertumbuhan komunitas dan tercapainya ketahanan pangan, Fitri mengungkapkan ada permasalahan lain yang sedang diupayakan Kebun Kali Code. Salah satunya adalah krisis air bersih. Ini relatif ironis mengingat Kampung Ledok Tukangan terletak di tepi Kali Code, di mana ketersediaan air sebenarnya melimpah.

Baca Juga: Tak Ada Tanah dan Air untuk Perempuan

Krisis Air Bersih

Sejak tinggal di Kampung Ledok Tukangan pada 2010, Fitri Nasichudin mengamati tempat tinggalnya merupakan wilayah padat penduduk. Kebanyakan pendatang, yang pindah untuk mendekatkan diri ke tempat kerja. Sebab, Kampung Ledok Tukangan berlokasi di pusat kota Yogyakarta, dan diimpit bangunan serta perindustrian.

Meski realitasnya hampir tidak ada lahan tersisa, para pendatang terus membangun rumah. Mereka tidak mempertimbangkan jarak antara sumur, septic tank, dan kali yang begitu dekat. Dari pengamatan Fitri, jarak ketiganya enggak lebih dari tiga meter. 

Padahal, berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat, septic tank dan sumur gali seharusnya berjarak lebih dari 11 meter. Akibatnya, air sumur tercemar bakteri E.coli dan tidak dapat dikonsumsi warga.

“(Untuk minum dan masak) biasanya kami beli galon isi ulang, harganya Rp7 ribu. Sebenarnya termasuk mahal, jadi cukup membebankan,” tutur Fitri. “Apalagi kebanyakan dari kami latar belakang ekonominya menengah ke bawah. Ada yang kerja sebagai buruh di Pasar Beringharjo, ada juga yang berdagang di Malioboro.”

Jika ditanya opsi lain, warga Kampung Kali Code cuma punya satu pilihan lain: Memasak air sumur. Biasanya, mereka melakukannya saat tak ingin beli air galon, atau sedang tak punya uang. Fitri sendiri memilih memasak air, walaupun terkadang membeli air galon jika sedang banyak beraktivitas.

Lantaran Kampung Kali Code kelihatannya punya banyak ketersediaan air, awalnya warga belum menyadari mereka krisis air bersih. Sebab, airnya tampak jernih, seperti layak dikonsumsi. Begitu mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berkunjung bersama Lifepatch—organisasi berbasis sains, teknologi, dan seni—pada 2013, barulah persoalan itu ditemukan.

Dari situ, perhatian Fitri dan Kebun Kali Code mulai fokus pada hak air bersih. Sebelumnya, perempuan yang juga aktif sebagai guru PAUD itu tak pernah terpikirkan, soal pentingnya air bersih dan kaitannya dengan kesehatan.

Baca Juga: Krisis Iklim Picu ‘Bedol Desa’ di Pantura, Negara Dimana?

“Dulu saya sibuk beraktivitas, mikirin pekerjaan dan keluarga. Jadi enggak kepikiran, harus mengonsumsi air yang layak (konsumsi) atau bersih. Sama seperti warga di sini,” aku Fitri.

Meskipun masih belajar mengenai krisis air bersih di tempat tinggalnya, Fitri mengatakan lebih memiliki kesadaran akan dampaknya bagi kesehatan—jangka pendek maupun panjang. Karenanya, Fitri berharap bisa memiliki instalasi air hujan untuk memfilter air, supaya bisa dikonsumsi. 

Terutama di tengah kekosongan peran pemerintah mengatasi permasalahan ini. Berdasarkan keterangan Fitri, sebelum ia pindah dari Karanganyar ke Kampung Ledok Tukangan, pemerintah memberikan bantuan untuk warga berupa alat untuk reverse osmosis (RO) air—berfungsi untuk pemurnian air. Sayangnya, pemberian alat tidak dibarengi dengan pendampingan dan arahan perawatan, sehingga rusak dan terbengkalai.

Lebih dari itu, belum ada bantuan yang diberikan. Kebun Kali Code pun belum berupaya menyampaikan persoalan ini pada pemerintah—walau Fitri yakin pemerintah tahu. Alasannya, mereka nyaman dengan cara kerja kolektif tanpa prosedur, dan dibangun atas kesadaran.

Seperti yang dilakukan belakangan ini. Anggota Kebun Kali Code menampung air cucian beras, dari beberapa rumah tangga untuk menyiram tanaman. Kemudian mengumpulkan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk, serta mengikuti kelas filtrasi air hujan.

Baca Juga: Mei 70 Tahun Silam, Perubahan Iklim Pertama Kali Viral

Ingin Punya Instalasi Air Hujan

Di kelas tersebut, Fitri Nasichudin bersama anggota Kebun Kali Code lainnya belajar tentang instalasi air hujan. Mereka bergabung dengan Sekolah Air Hujan Banyu Bening, komunitas yang mengampanyekan pengelolaan dan pemanfaatan air hujan, sebagai solusi air bersih.

Warga dapat menggunakan wadah apa pun, seperti panci dan ember, untuk menampung air hujan sebelum difilter. Nantinya, air yang diambil dari hujan ketiga, guna memastikan airnya cukup bersih dan tidak mengandung polutan. Sebab, saat kemarau panjang, biasanya udara sangat pekat. Setelah ditampung, air hujan akan disaring dan dimasukkan dalam wadah tertutup rapat.

Namun, masih jadi harapan bagi Kebun Kali Code untuk memiliki alat filtrasinya. Lantaran kegiatannya kolektif dan dikerjakan mandiri, mereka menghadapi keterbatasan biaya. Alhasil, bukan perkara mudah untuk mengumpulkan iuran, apalagi dalam jumlah besar yang akan membebankan. Setidaknya, mereka percaya bisa melakukannya satu per satu, sebagaimana dulu ingin punya greenhouse dan tercapai.

Kendati demikian, Fitri bersama Kebun Kali Code ingin terus belajar tentang filtrasi air hujan, demi mendapatkan air bersih. Mereka mengusahakannya sambil berjejaring dengan teman-teman mahasiswa dan komunitas lain, termasuk yang fokus ke air bersih. 

Saat ditanya keinginan ke depannya, Fitri berharap jika Kebun Kali Code punya instalasi air hujan, nantinya tidak hanya bermanfaat bagi mereka, melainkan warga Kampung Ledok Tukangan untuk mendapatkan air bersih.

“Bagaimana pun caranya, kami berhak mendapatkan air bersih. Kalau nanti terwujud, semoga semua warga mendapatkannya,” tutup Fitri.


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.