February 28, 2020
Queer Love: Antara Melela atau Tidak

Saya gay di lingkungan konservatif, haruskah saya melela (coming out)?

by Paramita Mohamad dan Downtown Boy
Issues // Relationship
Share:

Dear Magdalene,

Saya gay, namun saya tidak coming out. Alasan saya adalah lingkungan saya sangat hetero dan tidak mendukung homoseksual. Saya capek berpura-pura sebagai seorang hetero. Tapi saya takut untuk bilang kalau saya gay. Alasannya mereka akan memandang saya berbeda dan ada kemungkinan menolak saya. Saya takut akan hal itu. Harus gimana ya? Di sisi lain saya adalah gay tapi di sisi lain saya harus tetap merahasiakan preferensi seksual saya. 

Usia saya 22 tahun. Saya tinggal di sebuah kota kecil. Saya kos, rumah saya di desa. Keadaan di sana masih patriarkal dan hetero. Saya di kuliah di jurusan yang mengajarkan saya untuk berpikir kritis dan terbuka, namun terbuka bukan untuk menerima semua kebudayaan, tapi untuk menerima dan memilah kebudayaan. Teman-teman saya sebenarnya hetero kebanyakan, cuma mereka bisa dikatakan tidak berpikiran sempit. Cuma untuk teman dari luar jurusan, mereka tidak sekritis dan seterbuka anak-anak jurusan saya.

Salam,
Pemuda Dalam Lemari

Kata Mita:

Dear Pemuda di Lemari,

Tolong terima pelukan jarak jauh dari saya. Saya memelukmu bukan karena saya kasihan sama kamu. Saya merangkulmu karena kamu sudah berhasil menaklukkan tahapan pertama yang paling sulit, yaitu menerima sebuah kebenaran yang menjadi porsi besar dari siapa dirimu. Selamat, Pemuda. Saya bangga padamu.

Lalu bagaimana dengan melela (coming out) ke dunia luar? Saya melela sekitar dua dekade lalu. Usia saya saat itu kurang lebih sama denganmu sekarang. Namun saya masih bisa menelusuri kembali jejak ingatan ketika saya masih berada di posisimu. 

Sekarang saya bisa berkata kalau saat itu saya merasa seperti hidup dalam permainan Pac Man, tapi dalam ritme yang sangat lambat sehingga menyesakkan. Setengah sadar bahwa saya berada dalam sebuah labirin. Saya kalut mencari jalan keluar karena ada monster besar yang siap menelan saya. 

Cukup lama saya menghabiskan waktu dan tenaga memikirkan bagaimana saya bisa mengakali si monster atau menembus labirin. Sampai suatu saat saya sadar saya harus menjinakkan si monster. Saya tahu saya harus berhenti kabur, berbalik arah, dan menghampirinya untuk saling tatap muka. Dan sekarang saya bisa bilang sama kamu, bahwa saya dan si monster sudah punya kesepakatan hanya bertemu sesekali saja, untuk melindungi saya dari bahaya nyata.

Baca juga: Queer Love: Benarkah Pria Gay Anti-Komitmen?

Monster itu adalah gabungan dari semua ketakutan dari mereka yang masih bersembunyi dalam lemari. Setiap kali saat mereka cemas atau gelisah, monster itu membesar, termasuk juga saat kamu khawatir tentang lingkungan sosialmu. Ia seolah berkata, “mereka akan memandang saya berbeda dan ada kemungkinan menolak saya”. 

Saya bohong kalau bilang kamu tidak akan pernah mengalami penolakan. Namun percayalah, dengan melela kamu akan mendapat kesempatan untuk bertemu teman-teman sejati dan dijauhkan dari mereka yang hanya berpura-pura. Beberapa teman saya memang harus putus hubungan dengan biological family mereka, tapi akhirnya saya dan semua teman queer saya bisa membentuk our own logical family. Sungguh menyenangkan berbagi hidup dengan orang-orang yang hanya akan keberatan dengan tingkah lakumu, bukan dengan siapa kamu dan siapa yang kamu cintai.

Saya tahu ada juga yang memutuskan untuk terus bersembunyi karena takut mengecewakan dan bahkan kehilangan orang tua (baik karena tidak lagi diakui atau dianggap menyengsarakan sampai ajal). Saya akan membahasnya ketika ada pertanyaan khusus tentang ini. 

Saya mengakui ada ketakutan lain yang mungkin lebih “nyata” yang membuat banyak dari kami tidak berani melela dengan terbuka sepenuhnya. Ketakutan ini berhubungan dengan keselamatan dan keamanan pribadi. Patut disayangkan saat ini negara belum benar-benar menjalankan tugasnya untuk memberi rasa aman pada semua warganya, termasuk kelompok LGBTQ. Inilah yang sedang diperjuangkan banyak anggota logical family saya dan para sekutu heteroseksual. 

Tapi saya ingin agar kamu tetap optimistis, Pemuda. Kamu tidak sendirian. Kamu akan bertemu orang-orang yang mencintaimu dan kamu cintai. Maybe one day I can be a part of your logical family. 

Terakhir, saya ingin mengutip penulis Paul Monette: “When you finally come out, there's a pain that stops, and you know it will never hurt like that again, no matter how much you lose or how bad you die.”

Downtown Boy says:

First and foremost, can I just say that you are not alone, and you have friends in us. You sound like a reasonable young guy, but take it from another guy who experienced it first-hand: Living in the closet when you’re still figuring out your place in the world can be scary. Moreover, the narrative of coming out in Indonesia is different from those in gay tolerant countries – it can be dangerous to come out to your friends and families here. So, forget those 'liberating' coming out stories; they can be out of context and culturally out of sync.

Baca juga: Queer Love: Adakah Pasangan Lesbian yang Bertahan?

Secondly, to answer your question, what would I say to my younger 22-year old self? Here’s what I would say to you and to my younger self: Life is not a LinkedIn profile, so learn to rely from no one but yourself to know that you’re worthy. You don’t need to get endorsements from others to know that you’re smart, gorgeous, and successful.

Thirdly, to stay true to yourself while still in the closet, learn to separate the hard truth from white lies. As you gain more years in life (my editor would say ‘grow older’ instead, but old is a word I despise), you’ll build an art of surviving life through a series of white lies “Where’s your Girlfriend?” (She lives in Angola); “Most of your friends are girls! How come?” (they want my sperm). Don’t let these bullets of interrogations wear you down, you must know that your answers are way of surviving, it is not a deceit. 

In times you’ll feel confused, angry and tired of 'pretending' but the richness of your gay life contain much more than your white lies. Your fears and anxiety are truly justified. Nonetheless, when you’re 22-year old with no professional experience in Indonesia, it is much more imperative to build your career, rather build a career out of being an ‘idealist’ (unless you’re a YouTuber or Tik-Toker, then be that dancing gay poster boy!)

Lastly, it’s not all about sex. There are other ways of discovering your true identity other than sex. In times you’ll find your passion and turn them into project. In times you’ll spend hours laboring on work but it doesn’t feel like work because you love it, and in times you’ll find hiccups at work but you’ll learn to overcome it. Who doesn’t want a great sex life? But being successful and mature is actually a recipe to have a great sex life. 

Wait, what was my last advice again??

Paramita Mohamad bekerja merancang strategi komunikasi agar mereka yang ingin membenahi Indonesia bisa menggugah mereka yang tak peduli. Selain itu, ia mengabdi pada tiga kucing rupawan yang dikenal sebagai Trias Politicats. Diambil dari lagu hit klasik Petula Clark, Downtown Boy alias DB, adalah hipster usia 20an yang terjebak dalam tubuh pria gay berumur 40an. Ia pegawai kantoran biasa di Jakarta dan hobinya termasuk mendengarkan lagu-lagu lama dan olahraga yang menantang secara fisik. Dulu ia suka bela diri tapi terpaksa berhenti karena punggung bawahnya cedera. Semua temannya menduga cedera tersebut akibat sesuatu yang lebih mencurigakan.