October, 11 2016
Raisa dan Ekspektasi Cantik Natural

Banyak orang yang terlalu terobsesi dengan apa yang perempuan pakai atau tidak pakai di wajahnya, dan menilai karakter dan kepribadian perempuan dari tebalnya bedak atau pensil alis yang dipakai.

by Nadila Dara
Issues // Gender and Sexuality
Share:

Beberapa waktu yang lalu, netizen lintas media sosial – Snapchat dan Instagram -- sempat heboh dengan berita tentang Raisa 'marah-marah' di Snapchat.
Lewat akun @raisabackstage, penyanyi itu curhat tentang pengalamannya saat sedang makan di restoran langganannya. Di sana ia mendengar salah satu pramusaji perempuan, yang sepertinya tidak ngeh kalau Raisa sedang makan di situ, membahas Raisa bertubi-tubi dengan temannya.
Kata-kata sang pramusaji membuat Raisa naik darah hingga ia keluar dari booth tempatnya makan, dan mendekati si pramusaji sambil bertanya, "Mbak kenapa? Ada masalah apa ya sama saya?"
Yang bersangkutan akhirnya mengatakan kalau inti dari kata-katanya tadi adalah dia cuma mau melihat Raisa tanpa makeup dan foto bareng saat Raisa sedang tidak memakai makeup.
"Dia ngomong seolah-olah aku ini tidur aja pake makeup. Kebetulan hari itu makeup-ku emang lagi cukup tebel karena aku abis photoshoot sama Elevenia. Akhirnya aku bilang, ‘Mbak pasti baru ya, di sini’ karena saya selalu dateng ke restoran ini tiap minggu, kadang abis olahraga, kadang juga pake baju tidur, kadang ya memang habis photoshoot."
"Tapi ya udahlah, soal Mbak itu aku emang cuma pengen curhat aja," lanjut Raisa dalam videonya.
"Yang mau aku tekanin adalah nilai seorang wanita tuh nggak bergantung sama seberapa makeup yang dia pake. Aku nggak mau foto di IG trus bilang ‘no makeup, no filter, I have such good skin’ dan bikin orang lain ngerasa buruk tentang dirinya sendiri."
"Because no makeup, no filter, doesn't mean you're better than anybodyDoesn't mean your better than filter and makeupYes, you have to love your skin, you have to take care of it, but after all if you want to wear makeup, wear it!"
Pesan Raisa cukup jelas: makeup memang identik dengan perempuan, tapi apakah itu satu-satunya tolok ukur yang diperhitungkan saat kita menilai seseorang?
Curhatan Raisa di Snapchat ini cukup mengundang banyak respon, terutama karena beberapa hari sebelum mengunggah video ini di Snapchat, sempat tersiar gosip Raisa menjadi orang ketiga dalam hubungan presenter Hamish Daud dan Nadine Chandrawinata. Terlepas dari gosip-gosip aneh, saat membuka akun Instagram Raisa, saya cukup terganggu membaca sejumlah hate comments di IG-nya yang isinya membandingkan dirinya dengan Nadine hanya karena makeup.



Berkat fitur baru Instagram untuk memblokir komentar kebencian, banyak dari komentar itu sudah terhapus. Namun beberapa berbunyi kira-kira sebagai berikut:
"Ah, Nadine lebih cantik, nggak pernah makeup-an, selalu tampil natural. Raisa mah makeup-an banget."
"Foto-foto di IG Raisa isinya pake makeup tebel semua, kayak Nadine dong, cantik alami."
Saya tidak bermaksud membela salah satu dari mereka, atau menentukan siapa yang lebih cantik. Selama manusia masih punya muka, akan selalu ada wacana si A lebih cantik dari B, dan si C lebih jelek dari si D. Terutama jika trolls di internet terlibat.
Tapi lewat komentar-komentar tersebut, saya mendapat kesan kalau perempuan yang pakai makeup seolah dianggap "curang" karena mereka melakukan "usaha" untuk terlihat lebih cantik. "Usaha" yang hadir dalam bentuk foundation dan concealer, bukan semata-mata faktor bawaan lahir yang sudah bikin kita cantik "dari sananya". "Usaha" ini membuat si perempuan terlihat fake, palsu, dan nggak alami.
Nadine adalah pembawa acara petualangan di TV yang kerjanya naik turun gunung dan menyelam, jadi wajar kalau dia tidak punya tim penata rias dan rambut yang harus selalu siap sedia di kaki gunung setiap subuh sebelum mulai pengambilan gambar. Berbeda dengan Raisa yang memang pekerjaannya menuntut ia untuk selalu siap tampil di depan kamera dengan tim yang sigap di belakang panggung.
Membandingkan ketebalan makeup kedua selebriti tersebut sama saja seperti, "Ih, itu astronot lebay amat sih ke kantor NASA pake baju tebel sama helm segala. Mas Eko, IT Manager saya aja ke kantor cuma pake kemeja biasa." Nggak bisa dibandingin apple-to-apple, kan?
Saya jadi teringat kutipan yang pernah saya baca di suatu blog beberapa tahun yang lalu: "Why does my makeup makes you feel like I cheated in some competition of beauty?"
Kutipan ini muncul ketika No-Makeup Makeup look sedang sangat populer. Saat itu saya berpikir, kenapa namanya harus seperti itu? Memangnya pakai makeup segitu malu-maluinnya ya, sampe gaya makeup natural diganti namanya jadi No-Makeup Makeup?
Terkadang masyarakat punya ekspektasi yang tidak realistis bahwa perempuan itu harus sudah cantik tanpa makeup. Kalau pakai makeup,  berarti dia sudah tidak cantik alami lagi. Kayaknya masih banyak yang belum mau paham kalau di dunia ini, ada segelintir cewek-cewek yang mau menghabiskan 10 menit ekstra di depan kaca setiap pagi untuk pakai eyeliner, namun ada juga yang habis mandi langsung berangkat. Ada yang setiap pagi menjepit bulu mata, ada pula yang tidak. Apakah ini berarti yang satu jadi lebih baik dari yang lainnya? I guess not.
Ini berlaku juga sebaliknya. Apakah karena kamu bisa ngebedain lipstik M.A.C Ruby Woo dengan M.A.C Russian Red, itu berarti kamu adalah perempuan yang lebih OK dibanding perempuan yang nggak pernah pakai lipstik merah seumur hidupnya? Apakah perempuan yang nggak ngerti pakai maskara berarti bukan perempuan seutuhnya?
Banyak orang yang terlalu terobsesi dengan apa yang perempuan pakai atau tidak pakai di wajahnya. Obsesi yang jadi melebar terlalu jauh karena ternyata, menilai karakter dan kepribadian seorang perempuan bisa diukur dari tebalnya bedak atau pensil alis yang dipakai. Seolah-olah nggak usah kenal lebih jauh, nggak usah ngobrol terlalu banyak, karena dari dia makeup-an aja, kita sudah tahu banget dia perempuan seperti apa. Bukan begitu? :)
Nadila Dara adalah editor kecantikan di femaledaily.com, dimana artikel ini pertama kali dimuat.