May, 10 2019
Rayya Makarim dan Tema Kekerasan Seksual dalam Film Indonesia

Penulis naskah ’27 Steps of May’ berbicara tentang tantangan menulis cerita bertema kekerasan seksual pada perempuan.

by Elma Adisya, Jurnalis
Culture // Screen Raves
27th Steps of May_Film_Indonesia
Share:

Penulis naskah Rayya Makarim merasa tersentuh dengan respons positif penonton 27 Steps of May, terutama para penyintas kekerasan seksual. Mengisahkan perjuangan perempuan dari trauma akibat pemerkosaan, film itu membuat sejumlah penyintas merasa terwakili oleh karakter May.

“Saya sangat terharu. Saat di Korea, ada penonton yang menangis dan berterima kasih pada kami. Film ini enggak membicarakan korban, tapi bagaimana orang ini keluar dari keterpurukan. Ternyata efeknya besar sekali pada penyintas,” ujar Rayya kepada Magdalene pada Jumat (3/5) lalu.

Rayya, 45, sudah lama berkecimpung dalam dunia film, terutama sebagai penulis naskah. Debut pertama perempuan lulusan Vassar College di New York itu adalah lewat Pasir Berbisik (2001), yang dibintangi oleh Christine Hakim dan Dian Sastrowardoyo. Karya-karyanya yang lain termasuk Banyu Biru (2005), Rumah Ketujuh (2003), serial televisi Grisse produksi HBO Original (2018) dan Buffalo Boys (2018).

Rayya Makarim, penulis naskah 27 Steps of May

Dalam film terbarunya ini, Rayya kembali bekerja sama dengan sutradara Ravi Bharwani, setelah sebelumnya antara lain menggarap Jermal (2009), film tentang buruh anak. Apa saja tantangan yang dihadapi saat pembuatan naskah dan proses produksi 27 Steps? Berikut adalah cuplikan wawancara dengan Rayya.

Magdalene: Mengapa mengangkat tema pemerkosaan massal Mei 1998?

Rayya: Saya sudah bekerja sama dengan Ravi selama 20 tahun, dan dia selalu terobsesi dengan tema-tema alienation, isolation. Untuk di 27 Steps of May ini, ditambah dengan satu tema lagi yaitu trauma. Ya kita ingat saja apa yang terjadi di Mei 98, bahwa itu pemerkosaan massal, perpetrators-nya enggak pernah disidang, enggak pernah ditangkap, dan para korban mengalami trauma sampai sekarang. Kita mau ngomongin hal tersebut, tapi kita enggak mau bikin film politik. Film-film saya dengan Ravi itu selalu personal, walaupun ada tema-temanya karena orang lebih terhubung ketika ceritanya personal. Jermal adalah tentang hubungan bapak-anak, di 27 Steps of May juga sama.

Mengapa proses pembuatan naskahnya lama?

Dari ide sampai jadi skrip itu dua tahun karena proses penulisan saya sama Ravi itu kerja sama banget. Setiap adegan, setiap dialog harus dibicarakan bersama. Jadi sangat spesifik. Dan, untuk merasakan perkembangan karakter May itu kita harus jaga banget, agar dia tidak loncat character development-nya, atau event-event yang terjadi sama dia, itu susah banget untuk kita. Dan juga rape is a difficult subject. Untuk menulis adegan rape itu torture banget sih untuk saya.

Pada saat riset apakah Rayya dan Ravi juga berdiskusi dengan para penyintas?

Rada-rada susah untuk akses ke para penyintas, tetapi kan datanya ada semua. Jadi testimoni-testimoni kita baca semua. Jadi kita melakukan riset panjang dan dalam lewat membaca, dan tentu semua teori-teori psikologi itu kita baca. Karena enggak mungkin kita riset untuk film ini asal-asalan. Maka dari itu banyak orang, apakah itu penyintas atau psikolog, pada saat menonton film ini bilang, “Kok lu tahu sih?”, karena riset kita tuh gokil. Biar enggak salah, karena norak banget kalo salah, apalagi ini topik yang sensitif, harus benar garapnya.

Di mana bagian tersulit dalam pembuatan naskah 27 Steps of May?

Semua tentang film ini susah. Dalam penulisannya ini susah karena setiap langkah May dan bapaknya harus kita jaga banget perkembangan karakternya. Karena agar adegan bisa runut, believable, dan ada sebab akibat, itu susah. Kalau nulis ngarang-ngarang aja, ya itu gampang. Tapi enggak bisa begitu kan, jadi it’s difficult. Tetapi buat saya dalam proses ini, yang paling sulit adalah menulis adegan pemerkosaan. Karena walaupun kita tahu di skrip hanya akan ditunjukkan sebagai flashes, tapi kita sebagai pembuatnya harus tahu apa yang terjadi terhadap May. Kita harus tahu secara utuh. Mau dipakai enggak dipakai, kita tetap harus menuliskannya secara utuh.

Sebelum memulai produksi, apakah sulit untuk menemukan produser yang mau mengangkat cerita dengan tema seperti ini? 

Enggak sih, karena kita enggak mencari produser besar. This is an independent film, jadi kita cari orang-orang yang fall in love with the film, yang rela dibayar kecil atau hampir tidak dibayar. Pokoknya yang passionate tentang filmya. Jadi it’s a passion project.

Karena ini berdasarkan pemerkosaan massal Mei 98, mengapa 27 Steps of May tidak menggunakan aktris keturunan Tionghoa untuk memerankan May?

Ini sebagai alegori aja, kita enggak mau persis banget. Kita gak mau gamblang pokoknya. Kita enggak terlalu sebut ya, urusan 98, tetapi orang yang menonton akan melihat paralel-paralel dalam film itu. Pertama, gang rape. Kedua, ada semacam kerusuhan walaupun di film kita hanya kebakaran rumah, lalu nama tokoh kita May. Jadi kita hanya menaruh unsur-unsur ini menjadi satu. Ini bukan soal Cina, bukan soal Arab, bukan soal Melayu. It’s about rape. Semua orang akan bisa terhubung dengan temanya, karena temanya universal.

Tokoh yang berada di sekeliling May semuanya laki-laki. Ini seperti mengamini bahwa perempuan hanya bisa diselamatkan oleh laki-laki (male savior complex). Bagaimana tanggapan Rayya?

Tanpa kemauan May untuk berubah, tidak akan ada yang terjadi, jadi the hero is May. Yang punya nama itu May, yang lain tuh enggak punya nama. Bapak namanya bapak, kurir namanya kurir, pesulap namanya pesulap. Mereka tidak ada identitasnya malah. Pesulap itu fasilitator May, Bapak adalah support May, dan kurir adalah support Bapak .Semua orang yang berada di sekitar May itu fasilitator. Sekilas memang terlihat bahwa semua yang membantu May adalah laki-laki. Namun perlu diingat bahwa di situ May yang mengizinkan dirinya untuk berubah. Tanpa kemauan May, ya tidak akan ada perubahan. Dan kebetulan aja semuanya laki-laki, bisa saja tokoh bapak diganti dengan tokoh ibu.

Hanya itu terlalu… saya selalu suka dengan hubungan-hubungan yang susah dan berkonflik. Bisa saja karakter bapak digantikan oleh karakter ibu, namun saya lebih memilih karakter bapak, karena laki-laki lebih menggambarkan perasaannya lewat nonverbal, dan bagi saya ini lebih menantang untuk ditulis. Dan dengan bapak ini kita punya kontras, dia bisa punya dua karakter. Di rumah itu dia sangat halus melakukan hal-hal domestik, sementara ketika di luar dia sangat marah, sangat kasar. Bagi saya hubungan Bapak dengan May lebih menarik ketimbang jika diganti dengan  peran ibu dengan anak perempuan.

Seberapa integral tokoh pesulap untuk perkembangan karakter May? Apa tokoh pesulap dimaksudkan bahwa romance itu penting dalam proses healing May?

Kita mencoba sama sekali enggak masuk ke wilayah romance. Jangan sampai ini jadi kayak love story, and it is not. Tokoh ini (pesulap) mendukung May, mereka punya hubungan khusus, tapi bukan cinta. Kita memerlukan sesuatu yang begitu memukau untuk membuat May keluar dari kerangkengnya. Ya yang bisa membuat May terpukau menurut kita hanya sulap. Karena sulap ini sangat berbeda dan sangat spesial dari hidup May yang sehari-hari ia jalankan. Kalau enggak ya enggak believable, jadi harus sesuatu yang sangat menarik.

Jadi karakter pesulap dipilih untuk lebih membuat rasa penasaran May muncul?

Iya seperti itu. Dan pesulap itu, semua kena indra kita, dari visual, dari sound, dari touch, dari taste, semua ada. Bisa saja kita menggunakan musisi, tapi kan itu hanya indra pendengarannya. May ini menutup semua senses-nya. Dia tidak berbicara, dia hanya makan makanan yang tidak memiliki rasa. All kinds of feeling dan senses itu ditiadakan. Dengan adanya pesulap itu semua yang hilang bisa muncul lagi.

Bagaimana tanggapan penonton, baik dari masyarakat umum, aktivis, atau organisasi seperti Komnas Perempuan terhadap film ini?

Saya sangat terharu, karena baik aktivis maupun yang korban, mereka selalu bicara. Ada aktivis setelah menonton bertanya sambil menangis. Semua nangis. Penyintas juga bilang, saya juga korban. Di setiap screening yang kita punya, mau di luar negeri atau di Indonesia, mereka selalu berbicara. Di Korea, ada orang kita enggak tahu dia ngomong apa, jadi dia nanya sambil nangis. Pas diterjemahkan ternyata dia berterima kasih. Jadi orang-orang ini merasa terepresentasi dengan karakter May. Karena kita enggak membicarakan korban, point of view-nya bukan “dia korban”. Tapi bagaimana orang ini keluar dari keterpurukan akibat masa lalunya, dan langkah-langkah yang  dia ambil untuk keluar. Jadi ternyata efeknya besar sekali pada penyintas.

Jadi film ini membuat semua penyintas bersuara?

Ya. Tema-tema ini sulit, enggak pernah diangkat juga di perfilman kita. Tapi gue merasa, ini job gue sebagai filmmaker. Job kita bukan untuk mengonfirmasi norma-norma tapi mendobrak semua itu. Kita mau melakukan hal yang beda, bahwa yes ini korban, but look what she can do. Kita tidak menceritakan pas dia selesai rape bagaimana, tapi kita membicarakan May delapan tahun kemudian.

Apakah membawa tema perempuan ke dalam industri perfilman itu sulit?

Enggak, karena saya enggak pernah membuat film tentang perempuan, saya enggak membuat film tentang laki-laki, tetapi saya membuat film tentang manusia. Walaupun tidak spesifik membuat cerita tentang perempuan, saya sangat jengah dan risi ketika harus membuat karakter perempuan yang ujung-ujungnya kalah dan lemah. Saya selalu membuat karakter mereka berkembang menjadi lebih baik.

Kalau melihat dari film-film yang sekarang, menurut Rayya bagaimana penggambaran tokoh-tokoh perempuannya?

Saya selalu kesusahan mencari aktris perempuan. Bukan karena talent-nya enggak ada tapi sampai sekarang, tokoh-tokoh perempuan dalam film belum ada yang menarik. Karakterisasinya enggak beragam, karena perannya itu masih itu-itu saja. Masih terpaku pada norma yang ada. Kurang peran perempuan yang kompleks dan menarik, dan ekstrem. Baik secara kuantitas dan kualitas. Satu film yang mendobrak norma itu Marlina (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya). Yeah love it, perempuan yang tidak kalah. Selama ini perempuan kalah terus, lemah terus, kalau di Marlina enggak. Gue gak mau diperkosa, I am gonna kill everybody. Great! That’s what we have to show. Gila lo mau memperkosa gue ramai-ramai, i say no. Ini merupakan contoh yang baik dan ekstrem. Tapi bukan cuma karena ada strong women character saja tapi pembangunan cerita.

Dan terakhir, bagaimana menurut Rayya terkait dengan representasi perempuan sebagai pekerja film?

Saya rasa Indonesia ini menarik buat saya. Produser perempuan dan sutradara juga banyak yang perempuan. Pun, kalau tidak banyak sutradara perempuan saat ini, itu lebih ke karena pilihan mereka, seperti mereka lebih ingin menjadi produser saja, bukan karena diskriminasi.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo