‘Dear X’: Kenapa Saya Terbius Ah-jin, Si Red Flag Berjalan?
(Artikel ini mengandung spoiler)
Dear X memulai dramanya dengan plot yang mudah ditelan: Seorang siswi memutuskan balas dendam pada bully yang membuatnya sengsara. Shim Sung-hee (Kim Yi-kyung) adalah siswi cantik dengan latar belakang keluarga terhormat. Tapi, entah kenapa dia sama sekali tidak menyukai Baek Ah-jin (Kim Yoo-jung). Sung-hee merasa kecantikan dan kepintaran Ah-jin membuatnya kalah pamor. Ia pun menggunakan privilege-nya untuk membuat Ah-jin menderita.
Ah-jin dituduh sebagai pencuri, pembohong, dan cewek genit. Semua reputasi yang ia bangun hancur seketika. Tapi, episode pertama Dear X diakhiri dengan kemenangan mutlak Ah-jin. Saya kira Ah-jin adalah tipe protagonis yang akan bikin kita iba dan berpihak padanya.
Baca juga: ‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup
Tapi, seiring plot bergulir, asumsi itu harus saya pikirkan ulang. Kita akan melihat ia memanipulasi artis senior di agensinya, dekat dengan aktor senior demi kepentingan karier, sampai menikahi chaebol—tangan Ah-jin ternyata tidak pernah bersih. Dan di momen-momen inilah Dear X bertanya kepada penonton: Apakah kamu masih bisa relate dengan semua hal yang dilakukan Ah-jin?
Diadaptasi dari webtoon berjudul sama, drama Korea ini berhasil menguji mental saya selama 12 episode. Penulis Choi Ja-won dan Ban Ji-woon dengan cerdas mengajak penonton untuk “kasihan” dulu pada Ah-jin.
Dunia dalam hidup Ah-jin digambarkan selalu tidak bersahabat. Di awal-awal episode, ia digambarkan sebagai korban. Ibunya yang enabler pelaku KDRT, ayahnya yang toxic dan abusive. Turning point pertama Dear X adalah ketika Ah-jin dengan mudah menjebak bosnya, Jung-ho (Kim Ji-hoon), untuk mengeliminasi masalah besar dalam hidupnya.
Keputusan Ah-jin untuk membunuh ayahnya sendiri bukan tanpa alasan. Dari awal penonton tahu bahwa ayah Ah-jin adalah gambaran terburuk seorang ayah. Di akhir hayat, sang ayah menyiksa Ah-jin sedemikian rupa, membuat saya paham kenapa Ah-jin melakukan pembunuhan itu. Tapi yang membuat saya bergidik untuk pertama kalinya, adalah ketika menyadari bahwa Ah-jin tidak pernah merasa salah menjebak bosnya sendiri. Di kepalanya, ini adalah survival. Di kepalanya, ia adalah selalu korban.
Aksi Ah-jin untuk memanipulasi semua orang yang ada di sekitarnya, sebenarnya tidak akan berhasil kalau tidak memiliki dua tangan kanan yang naif: Yoon Jun-seo (Kim Young-dae) dan Kim Jae-oh (Kim Do-hoon) .
Jun-seo adalah mantan saudara tirinya, Jae-oh mencintainya sepenuh hati tanpa pamrih. Ah-jin berhasil memanipulasi keduanya, membuat dua laki-laki ini selalu melakukan apa pun yang ia mau. Sama seperti Ah-jin melihat dirinya sendiri, Jun-seo dan Jae-oh melihat perempuan itu sebagai korban—sampai akhirnya salah satu dari mereka tersadar bahwa Ah-jin adalah monster yang ia buat sendiri.
Pembuat Dear X sadar betul dengan persona Ah-jin yang makin lama makin gelap. Di momen inilah mereka bermain-main dengan penontonnya. Ketika penonton sudah mengira bahwa Ah-jin sudah tidak bisa diselamatkan, penulis skenarionya memberikan informasi yang sengaja ditahan untuk membuat karakter ini menjadi semakin kompleks.
Baca juga: ‘Bon Appétit, Your Majesty’: Cinta dalam Sepiring Konspirasi
Kegelapan yang Adiktif
Harus saya akui, Dear X memang bukan tontonan yang “mudah”. Ia meminta banyak dari penontonnya. Hampir tidak ada momen bahagia dalam serial ini. Bahkan katarsis yang ditawarkan rasanya hampa dan gelap. Tapi, ada sesuatu yang adiktif dalam kegelapan itu.
Meski Ah-jin terasa terlalu larger-than-life, tidak bisa dimungkiri bahwa ia adalah karakter yang membius. Tidak ada satu pun momen membosankan dalam hidup Ah-jin dan Dear X secara keseluruhan. Setelah Ah-jin melakukan hal yang kejam, pembuat Dear X mempertemukan Ah-jin dengan lawan yang lebih jahat atau neraka yang lebih panas. Pengulangan ini bisa terasa repetitif, tapi dalam Dear X penyiksaan ini terasa comforting.
Di tangan sutradara yang kurang berpengalaman, Dear X bisa berpotensi menjadi torture porn. Sutradara Lee Eung-bok—Descendants of the Sun, Mr. Sunshine, Sweet Home, Jirisan—dan Park So-hyun berhasil membuat Dear X melewati garis tersebut. Tidak ada satu momen pun penonton tidak berada dalam kepala Ah-jin. Ini mungkin salah satu hal yang membuat saya sebagai penonton susah untuk membenci karakter ini. Seburuk apa pun hal yang ia lakukan, saya tetap mengerti semua alasan-alasannya.
Tiga episode terakhir mungkin adalah pencapaian tertinggi Dear X dalam konteks penyutradaraan. Ah-jin akhirnya memutuskan menikah dengan Moon Do-hyuk (Hong Jong-hyun) menyadari bahwa chaebol yang satu itu tidak sebaik yang ia pikirkan.
Harta dan akses yang ia dapatkan adalah harga yang mahal untuk kewarasannya. Do-hyuk ternyata senang mempermainkan masa lalu Ah-jin yang kelam demi kesenangannya. Di momen inilah, dua sutradara Dear X mempermainkan penonton sekaligus karakter utamanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa motivasi Do-hyuk? Dan yang paling penting: bagaimana caranya pergi dari neraka ini?
Dear X tidak akan berhasil tanpa akting yang mumpuni. Ah-jin adalah karakter yang kompleks. Interior dan eksteriornya harus berhasil disampaikan dengan baik karena ia adalah pusat dari semua tata surya dalam Dear X. Dan saya lebih dari bahagia menyaksikan Kim Yoo-jung meluluhlantakkan semua image yang saya punya tentang dia.
Pertama kali saya menyaksikan Kim Yoo-jung adalah di Backstreet Rookie yang merupakan standar drakor romcom. Di sini, transformasi Yoo-jung layak mendapatkan semua bunga dari ajang penghargaan. Tidak hanya ia berhasil menampilkan Ah-jin dari berbagai era, Yoo-jung tidak pernah gagal menampilkan semua topeng yang dipunyai Ah-jin.
Baca juga: Review ‘Trigger’: Saat Kegagalan Negara Dijawab dengan Moncong Senjata
Kita selalu berada di kepala Ah-jin bahkan ketika kita menolak. Yoo-jung berhasil memperdaya semua orang yang ada di sekitarnya, termasuk penonton. Bahkan ketika kamu tahu bahwa semua langkahnya diwarnai darah.
Saya tahu bahwa Dear X bukan untuk semua orang. Semua kritik tentang drama Korea ini—bahwa ia eksploitatif, tidak sepenuhnya menggambarkan mental illness, dan trauma dengan baik dan sebagainya—valid-valid saja. Tapi bahkan dengan semua kekurangan itu, saya tidak bisa melupakan Dear X.
Ia tidak hanya meminta penonton bersimpati pada karakter bermasalah, tapi secara perlahan menyeret penontonnya untuk terjun ke kubangan lumpur yang sama. Bahkan ketika akhirnya saya tersadar bahwa sedang mendukung orang yang salah, saya tidak pernah menyesal. Saya menikmati setiap dosa Ah-jin di layar kaca. Tentu sebagai hiburan.
















