Culture Screen Raves

‘Bottoms’: Tontonan yang Mungkin Terlalu Buas, Terlalu Vulgar Buatmu

Cuma sekadar mengingatkan, film ini bukan untuk semua orang.

Avatar
  • December 22, 2023
  • 6 min read
  • 664 Views
‘Bottoms’: Tontonan yang Mungkin Terlalu Buas, Terlalu Vulgar Buatmu

Ada banyak film yang saya tonton tahun ini. Beberapa di antaranya memberikan kesan yang mendalam. Barbie, misalnya, adalah sebuah blockbuster yang ternyata tidak seringan yang saya bayangkan. Past Lives, yang sepertinya menjadi favorit semua orang, adalah sebuah pengalaman sinematik yang tak terlupakan. Bagaimana saya bisa ikut patah hati atas kisah cinta tokoh fiksi? Tiger Stripes yang saya tonton di closing Jakarta Film Week adalah eksplorasi tentang pubertas yang sungguh menarik. Killers of the Flower Moon membuat saya lupa bahwa saya sedang menonton film berdurasi tiga jam lebih di bioskop. Begitu banyak pilihan, tapi akhirnya saya memilih film berikut sebagai review penutup saya di tahun 2023.

Bottoms yang disutradarai oleh Emma Seligman bukan film yang akan berakhir di banyak daftar film terbaik para kritikus atau bahkan pecinta film. Tapi film ini, entah bagaimana caranya, berhasil mencuri hati saya. Tidak banyak film yang membuat saya terobsesi seperti Bottoms. Belum sampai 24 jam sejak saya pertama kali menonton film ini, saya sudah ingin merasakan kegilaannya lagi. Dan percayalah, film ini sungguh gila. Karena itu, saya ingin kamu merasakan apa yang saya rasakan.

 

 

Sumber: IMDB

Dipandu Duo Sahabat Lesbian dan Pecundang

Josie (Ayo Edebiri) dan PJ (Rachel Sennott, berkolaborasi lagi dengan Seligman setelah Shiva Baby) adalah senior di sebuah SMA yang menganggap pertandingan football sebagai sesuatu yang sakral. Mereka adalah pecundang. Bukan karena mereka lesbian, tapi karena mereka adalah “gay and untalented”.

Seperti kebanyakan film remaja 80-an dan awal 2000-an, baik Josie dan PJ tidak punya obsesi lain selain hooking up. Kebetulan juga dua orang ini mempunyai target. Sementara PJ naksir Brittany (Kaia Gerber), Josie naksir Isabel (Havana Rose Liu) yang kebetulan berpacaran dengan bintang sekolah, si quarterback bernama Jeff (Nicholas Galitzine).

Ketika Josie menyentuh kaki Jeff dengan bumper mobilnya dalam upayanya “menyelamatkan” Isabel, semua orang langsung menggila. Dan by the way, dengan menyentuh, maksud saya memang menyentuh sedikit. Bukan menabrak.

Kepala sekolah mereka yang menganggap Jeff sebagai aset sekolah, berniat untuk mengeluarkan Josie dan PJ. Duo protagonis kita sampai harus membela diri dan menjadikan kegiatan ekstrakurikuler mereka sebagai alasan untuk bertahan.

Sekolah Josie dan PJ bukan satu-satunya sekolah yang menganggap football adalah hidup dan mati. Huntington High School, sekolah lawan mereka kerap menggunakan kekerasan untuk memenangkan pertandingan. Josie berargumen bahwa “klub” ini adalah cara dia untuk menyelamatkan diri. Si kepala sekolah percaya dan sekarang mereka punya fight club untuk diurus.

Sumber: IMDB

Bukan Komedi Biasa

Dari awal film dimulai, Seligman sudah memberi tahu penonton bahwa Bottoms bukanlah komedi remaja biasa. Sekilas, film ini mungkin akan mengingatkan kamu pada Booksmart, film Olivia Wilde yang juga menceritakan petualangan dua sahabat perempuan. Booksmart terlihat seperti mainan anak-anak jika dibandingkan dengan Bottoms.

Baik Booksmart dan Bottoms menggunakan persahabatan dua karakter perempuannya sebagai pondasi. Tapi persamaan kedua film ini hanya berhenti di sana. Kalau jokes Booksmart terasa agak lebih aman, Bottoms justru tidak setengah-setengah untuk masuk ke tempat gelap.

Semua karakter dipersembahkan dengan hiperbola dan penuh self-awareness. Salah satu karakter dengan terang-terangan mengatakan bahwa ia akan mengikuti temannya karena hanya itulah identitas yang diberikan penulis skrip terhadap karakternya. Para karakter jocks memakai kostum tim mereka di manapun mereka berada, bahkan saat tidak bertanding. Guru yang menjadi pengawas fight club itu terang-terangan membaca majalah sensual di dalam kelas. Sepanjang film, penonton tidak akan melihat pelajaran berlangsung. Hal ini sering terjadi dalam film remaja, tapi Bottoms benar-benar menggunakan klise ini sebagai jokes. Dan saya belum membahas soal kehadiran bom (lebih dari satu) dan nyawa siswa yang melayang.

Ditulis oleh Seligman dan bintang utamanya, Sennott, Bottoms akan sangat mudah dinikmati kalau kita—penonton—tidak terlalu mikir tentang optics. Seperti yang saya bilang di atas, film ini sangat tidak politically correct. Kalau kamu mencari tontonan yang “aman”, Bottoms bukan untukmu. Karena hanya di film ini kamu akan menemukan dialog seperti, “Anyone here been raped?” saat karakter-karakternya berkumpul saat sharing session untuk pertama kalinya. Ada juga jokes soal suicide yang saking lucunya, saya harus menekan tombol pause.

Di tangan yang salah, joke yang sangat dark ini akan terasa pahit. Tapi, Seligman tahu benar bagaimana cara menjaga tone filmnya dengan begitu spesifik, sehingga tidak ada satu pun adegan yang menurut saya offensive. Seligman sengaja membuat semua karakter dan situasi over-the-top sehingga sebagai penonton saya selalu tahu bahwa ini adalah sebuah dunia alternatif. Tidak hanya itu, ada kesinisan yang menyenangkan saat melihat jokes-jokes gelap itu ternyata hanyalah usaha penulisnya untuk menyembunyikan social commentary mereka tentang society.

Dialog “Anyone here been raped?” misalnya dilanjutkan dengan diskusi tentang pelecehan seksual yang dialami oleh semua anggota fight club yang didirikan Josie dan PJ. Ada juga jokes lucu tentang alasan kenapa salah satu anggota yang bergabung dengan fight club ini karena dia mau reverse stalk stalker-nya. Dia kemudian menjelaskan bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa kepada stalker karena menurut polisi, mereka hanya bisa melakukan sesuatu saat si stalker melakukan penyerangan.

Sumber: Entertainment Tonight

Seperti halnya film pertama Seligman, Shiva Baby, film ini juga dipenuhi oleh talenta-talenta yang luar biasa. Dibutuhkan akting yang mumpuni untuk paham comic timing yang tepat. Dibutuhkan pemahaman terhadap sinema yang lebih untuk bisa deliver tone yang dimau oleh sutradara. Dan semua barisan aktor Bottoms sepaham dengan visi Seligman.

Sennott tentu saja tahu apa yang dia lakukan. Kalau kamu menyaksikan meme-nya yang “Welcome to LA” atau film Bodies Bodies Bodies, kamu pasti tahu betapa berbahayanya skill Sennott sebagai komedian. Ayo Edebiri, seperti yang ia tunjukkan dalam The Bear, tidak hanya tahu bagaimana membuat perut berguncang, tapi juga mengisi karakternya dengan authenticity.

Di tangannya, Josie tidak terlihat sekadar sebagai karikatur. Havana Rose Liu dan Kaia Gerber masing-masing menjadi gula-gula manis yang menyenangkan. Sementara Nicholas Galitzine mengejutkan saya karena dia tidak malu untuk menjadi badut, sedangkan Marshawn Lynch sebagai Mr. G mencuri semua adegan. Semua dialog yang muncul dari mulutnya terdengar paripurna.

Bottoms mungkin bagi sebagian orang akan terlihat sebagai film remaja yang juvenile. Ia tampil terlalu buas, terlalu percaya diri. Frase-frase ini tentu saja sering dipakai untuk menggambarkan film remaja. Tapi disinilah menariknya: biasanya frase tersebut dipakai untuk menggambarkan film-film remaja yang male centric. American Pie, Old School, Road Trip, semua film remaja 80-an dan hampir semua film yang dibintangi atau diproduksi oleh Seth Rogen.

Buat saya, menyenangkan sekali menonton sebuah film yang sangat unapologetic dan liar; dan dibuat dari kacamata perempuan (salah satu inside joke yang menarik, karakter cowok utama film ini sengaja dipersembahkan dengan sedikit feminin yang membuat semuanya menjadi semakin lucu). Bottoms tidak pernah sekali pun meminta maaf atas semua humor yang ia tawarkan. Seperti sebuah pesta yang seru, saya tidak menginginkan Bottoms berakhir.

Bottoms dapat disaksikan di Amazon Prime


Avatar
About Author

Candra Aditya

Candra Aditya adalah penulis, pembuat film, dan bapaknya Rico. Novelnya ‘When Everything Feels Like Romcoms’ dapat dibeli di toko-toko buku.