Di banyak PAUD, pemandangan guru laki-laki masih terasa asing. Bukan karena mereka tidak punya kapasitas, tapi karena kerja pengasuhan masih sering dianggap wilayah perempuan. Di ruang yang mestinya paling akrab dengan kata “tumbuh” dan “belajar”, justru ada tembok sosial yang membatasi siapa yang pantas merawat, menenangkan, dan mendampingi anak-anak. Bagi guru laki-laki di jenjang prasekolah—taman kanak-kanak, pendidikan anak usia dini (PAUD), kelompok bermain, dan sejenisnya—tembok itu tidak hanya berupa stereotip, tetapi juga kecurigaan.
Saya merasakan itu ketika membantu mengelola program beasiswa Sarjana Pendidikan Guru PAUD (PG-PAUD) pada 2013 untuk guru-guru PAUD di lingkungan RT/RW se-Jakarta Pusat, bekerja sama dengan Pemkot dan Bazis (kini Baznas) Jakarta Pusat. Dari 100 pendaftar, 30 orang terpilih, dan tidak satu pun laki-laki. Baru pada batch kedua tiga tahun kemudian, muncul satu-satunya pendaftar laki-laki—sebut saja Pak Acep.
Pak Acep hampir kami diskualifikasi karena di PAUD ia lebih dikenal sebagai operator sekolah yang mengurus pendataan dan administrasi. Ia belum pernah mengajar di kelas PAUD, meski sudah lama mengajar di Taman Pendidikan Alquran di wilayahnya. Namun ia datang dengan tekad jelas: ingin menempuh PG-PAUD dan kelak menjadi kepala sekolah. Yang membuat saya terhenyak ada;aj alasan mengapa ia baru berani mendaftar.
“Sebenarnya menjadi guru laki-laki untuk anak-anak kecil itu berisiko,” katanya. “Dianggap tidak wajar karena itu pekerjaan ibu-ibu. Kami para bapak turut mengasuh dan mendidik anak di rumah. Tapi mengasuh dan mendidik anak-anak kecil yang bukan anak kami itu nggak umum. Bisa-bisa kami dianggap kurang lelaki. Lelaki yang ‘agak melambai’. Atau sering kali malah dicurigai cabul ketika sedang melakukan tugas pengasuhan. Misalnya, kalau guru laki-laki memeluk anak yang menangis pasti langsung dicurigai. Berabe.”
Kata terakhir itu—berabe—terngiang terus sampai hari ini. Saya paham, kewaspadaan orang tua bukan tanpa alasan. Kita hidup di tengah banyak kasus kekerasan seksual yang pelakunya justru orang dewasa di sekitar anak. Tetapi kewaspadaan yang sah itu kerap berubah menjadi kecurigaan otomatis yang melekat pada laki-laki di ruang pengasuhan. Di PAUD, tindakan yang sama—memeluk anak yang menangis, menenangkan yang rewel—lebih mudah dianggap wajar jika dilakukan “Bu Guru”, namun cepat dibaca sebagai sesuatu yang mencurigakan jika dilakukan “Pak Guru”. Akibatnya, sebelum sempat dinilai dari kompetensi dan etikanya, guru laki-laki lebih dulu berhadapan dengan prasangka yang membuat banyak orang memilih mundur sejak awal.
Data Neraca Pendidikan Daerah tahun 2024 mempertegas gambaran tersebut. Secara umum, profesi guru memang lebih banyak dilakoni perempuan (sekitar 71,98 persen) dibanding laki-laki (sekitar 28,01 persen). Namun di jenjang prasekolah, ketimpangannya jauh lebih ekstrem: guru laki-laki sekitar 2,33 persen, sementara 97,66 persen lainnya adalah perempuan. Angka ini bukan sekadar statistik, namun juga mencerminkan bias pada kerja pengasuhan, sekaligus mengerdilkan pengasuhan seolah tidak perlu diperlakukan sebagai praktik profesional yang inklusif.
Baca Juga: Dirikan 3 PAUD Gratis, Hera Handayani: ‘Cara Lain Cintai BTS’
PAUD sebagai fondasi, dan pelajaran tentang gender yang diserap anak
Pendidikan anak usia dini bukan sekadar “pemanasan” sebelum anak masuk SD. James J. Heckman—ahli ekonomi dari Princeton University dan peraih Nobel Ekonomi tahun 2000—berkali-kali menekankan bahwa investasi pada program pengembangan dan pendidikan anak, termasuk layanan prasekolah, adalah investasi pembangunan manusia yang efisien. Biayanya relatif lebih rendah dibanding intervensi pada jenjang setelahnya, tetapi imbal balik sosial dan ekonominya tinggi.
Masuk akal, karena rentang usia 0–5 tahun adalah masa keemasan di mana perkembangan otak berlangsung sangat pesat. Stimulasi yang tepat membangun fondasi kemampuan berpikir, regulasi emosi, empati, serta keterampilan sosial. Anak-anak yang mendapatkan layanan pengembangan dan pendidikan sejak dini berkesempatan mengalami permulaan yang baik untuk capaian perkembangannya.
Dampaknya juga terlihat pada kesiapan anak masuk sekolah. Salah satu studi di Indonesia oleh peneliti Nozomi Nakajima menemukan bahwa anak yang mengikuti PAUD sejak usia 3–4 tahun, lalu melanjutkan ke program yang lebih terstruktur pada usia 5–6 tahun, cenderung lebih siap di sekolah dasar dan lebih kecil kemungkinan mengulang kelas.
Pada fase golden age, anak belajar terutama melalui pengalaman relasional: pertama dengan orang tua dan keluarga, lalu dengan guru dan sekolah. Guru PAUD menjadi figur sosial yang membentuk cara anak memahami diri dan dunia, termasuk bagaimana mereka membaca realitas gender.
Ketika komposisi guru PAUD didominasi satu gender saja, anak menyerap pesan implisit bahwa merawat, mendampingi, dan mengajar anak kecil adalah milik perempuan. Pesan seperti ini bekerja sebagai hidden curriculum: tidak tertulis, tetapi terulang, lalu dianggap wajar.
Saya melihat penanda itu ketika mengantar Pak Acep menjalani praktikum mengajar. Saat ia berdiri di depan kelas untuk memandu pembelajaran, seorang bocah menginterupsi, “Kok yang ngajar bapak-bapak? Bukan ibu guru?”. Di tempat lain, seorang anak bahkan meneriaki guru laki-laki baru di PAUD dengan sebutan bencong saat ia memimpin aktivitas senam. Peristiwa-peristiwa kecil ini memberi sinyal bahwa bias gender sudah bekerja sejak dini, sering kali tanpa kita sadari.
Baca Juga: #HariAnak2025: Sekolah Jam 6.30, Kebijakan KDM yang Bikin Warga Kalang Kabut
Minimnya guru laki-laki di PAUD: sebuah isu global
Minimnya guru laki-laki di PAUD bukan hanya cerita Indonesia. Dominique Germain, profesor pendidikan anak usia dini di Montmorency College, menulis tentang realitas serupa di Kanada. Laki-laki yang menjadi pendidik PAUD kerap dipagari stigma “kurang laki”, dicurigai orientasi seksualnya, hingga dilekati bayangan pedofil. Bahkan penerimaan yang terdengar “netral” sering berujung pada pembagian tugas, di mana laki-laki diarahkan ke peran teknis dan fisik.
Seperti juga Pak Acep, yang lebih dipercaya menjadi operator sekolah, guru olahraga, atau imam salat berjamaah dibanding memandu aktivitas motorik halus seperti kolase dan meronce, meski ia menempuh pendidikan keguruan PAUD. Pola ini membuat keberadaan “Pak Guru” terasa tipikal. Boleh ada, asal tidak terlalu dekat dengan inti kerja pengasuhan.
Padahal, kehadiran guru laki-laki di PAUD penting bagi anak-anak. Mereka belajar bahwa merawat dan mendidik bukan kodrat perempuan. Bagi anak perempuan, relasi dengan figur laki-laki yang aman dan kolaboratif membantu membentuk gambaran relasi setara. Bagi anak laki-laki, ia membuka imajinasi maskulinitas yang tidak alergi pada empati dan kerja perawatan.
Ketika PAUD dipilih lintas gender, profesi ini juga berpeluang didorong menuju standar profesionalitas yang lebih jelas. Selama ini, guru PAUD/TK kerap dipersepsikan sebagai kerja pengabdian, sehingga mudah dianggap layak diupah murah. Keragaman tenaga pendidik menuntut sistem yang lebih transparan dan akuntabel dalam rekrutmen, pelatihan, dan evaluasi. Dalam jangka panjang, kehadiran guru laki-laki bukan hanya soal representasi, tetapi juga soal menggeser cara kita menilai mutu dan profesionalisme, yang sering kali tanpa sadar terikat pada stereotip gender tradisional.
Pada akhirnya, pembicaraan soal guru laki-laki di PAUD tak seharusnya berhenti di “aneh atau tidak”. Pertanyaannya lebih mendasar: mengapa kerja pengasuhan masih dibatasi oleh gender, dan mengapa kecurigaan begitu cepat dilekatkan pada laki-laki yang bekerja dengan anak?
Kewaspadaan terhadap kekerasan seksual itu penting, tapi solusinya bukan menyingkirkan satu gender, melainkan memastikan perlindungan anak berjalan untuk semua: dengan standar etik yang jelas, tata kelola rapi, mekanisme pelaporan aman, dan budaya pengawasan yang konsisten.
PAUD yang inklusif secara gender adalah PAUD yang sungguh diperlakukan sebagai fondasi pendidikan nasional. Bukan sekadar ruang bermain, tapi ruang awal anak memandang dunia yang beragam dan merasa aman di dalamnya.
Nyimas Gandasari adalah peneliti Asa Dewantara, lembaga riset pendidikan khususnya pada isu-isu pendidikan pada kelompok underprivileged dan marginal. Selama 15 tahun lebih terlibat dalam praktik, penelitian, inisiasi dan advokasi pendidikan kelompok underprivileged dan marginal.
















