February 08, 2017
Stigma Otak Kotakkan Perempuan

Di dunia akademis atau pekerjaan, individu perlu dilihat berdasarkan kualifikasinya, tidak boleh dijegal karena jenis kelaminnya.

by Aisy Karima Dewi
Issues // Politics and Society
Share:
Sekretaris harusnya perempuan, sedangkan laki-laki harusnya menjadi pemimpin. Saya sering mendengar hal ini dan dahulu, rasanya paradigma itu tak terbantahkan saat saya melihat kenyataan menunjukkan hal yang sama.
 
Pengkotak-kotakan ini saya rasakan dalam lingkup pendidikan formal. Saat SD, saya bertanya-tanya mengapa selalu murid perempuan yang disuruh menulis materi di papan tulis untuk dicatat seluruh murid. Setiap kerja kelompok, saya heran saat tugas makalah atau menyulam selalu dikerjakan oleh perempuan. Sementara itu tugas membuat miniatur kandang dikerjakan oleh laki-laki. Dalam lingkup rumah tangga, kakak laki-laki saya dilonggarkan dari pekerjaan rumah tangga seperti menyapu atau mencuci piring, sementara Ibu akan marah apabila saya menolak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut.  
 
Sebelum belajar tentang feminisme, saya percaya bahwa karena punya rahim, maka perempuan harus tinggal di rumah. Ya, mereka boleh kok berkarir di luar rumah, tapi tidak semulia yang menghabiskan waktu untuk keluarganya. Kepercayaan ini menimbulkan kemarahan dan akhirnya menyiksa saya. Sebab saya memiliki keyakinan, ada banyak hal di dunia ini yang bisa saya pelajari, ada berbagai hal yang bisa lakukan untuk orang-orang di sekitar saya. Saya tidak mau masuk tim penyokong kesuksesan laki-laki, saya mau memiliki pencapaian saya sendiri.
 
Kiprah perempuan di luar rumah dibatasi lagi oleh pernyataan-pernyataan seperti “Perempuan itu mahluk emosional”, “Perempuan kurang baik dalam mengambil keputusan”, “Perempuan kurang baik dijadikan pemimpin”.
 
Saat hendak memilih jurusan di SMK, orangtua saya mengatakan, “Kamu ambil jurusan perawat saja, perempuan cocoknya jadi perawat.” Seolah-olah ada yang salah dengan otak perempuan, pikir saya waktu itu. Mereka menganggap semua perempuan adalah mahluk emosional, tidak bisa logis maupun obyektif, tidak strategis, dan tidak mandiri.
 


Kita hidup di dunia yang menganggap perempuan dan laki-laki sudah memiliki tempat-tempat dan pekerjaan masing-masing. Seakan-akan keduanya tercipta untuk dua dunia yang berbeda, kondisi itu paten, dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
 
Jadi bagaimana bila saya ingin menjadi pemimpin? Apakah itu berarti saya tidak becus memimpin, gara-gara saya perempuan? Saya melihat di lingkup akademis, organisasi murid banyak dipimpin oleh laki-laki. Laki-laki juga tampak lebih vokal mengemukakan pendapatnya. Di lingkup pemerintahan pun kehadiran laki-laki menjadi dominan. Mengapa?
 
Saya bersyukur belajar tentang ilmu sains dan sosial. Jika saya tidak belajar tentang otak dan gender, saya mungkin akan tetap menganggap tali-tali yang mengikat saya memang paten. Saat bicara tentang fungsi perempuan dan laki-laki, kita sering lupa membicarakan otak, alias operating system manusia sendiri. Saya pernah membaca bahwa kita bukan hanya memiliki otak. We are our brains. Belajar tentang otak dan gender membuat saya melek dengan beberapa hal.
 
Pertama, otak perempuan dan laki-laki memang berbeda. Dari segi ukuran, otak laki-laki lebih besar. Saya sering mendengar bahwa otak besar mengindikasikan kemampuan intelegensi yang tinggi. Nyatanya, hingga kini belum ada penelitian yang membenarkan adanya korelasi antara ukuran otak dengan kecerdasan seseorang. Otak laki-laki yang lebih besar berhubungan dengan massa otot tubuh mereka. Lagipula, besar otak yang dimiliki paus dan gajah tidak menjadikan hewan-hewan tersebut lebih cerdas dari manusia, bukan?

Kedua, terdapat perbedaan terkait bagian otak yang bertanggung jawab terhadap proses berpikir, bereaksi terhadap stress, emosi, bahasa, hubungan interpersonal dan intrapersonal, dan komunikasi. Itulah mengapa perempuan dirasa lebih empatik, ceriwis, emosional, dan ekspresif dalam mengungkapkan sesuatu. Namun perbedaan ini ternyata ditemukan mulai fase remaja, tetapi tidak pada laki-laki dan perempuan di usia kanak-kanak.
 
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Kita semua tahu, sejak zaman purba, laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang berbeda akibat fungsi reproduksi mereka. Laki-laki mencari makan, berburu atau bercocok tanam. Sedangkan perempuan “menggunakan otaknya” untuk merawat anak-anaknya juga memasak dan menentukan bahan makanan yang dianggap baik dikonsumsi anak. Bisa dibilang stereotip kemampuan laki-laki dan perempuan masa kini merupakan warisan surviving skill dari masa lalu.
 
Warisan sifat tersebut semakin “dipatenkan” oleh kontruksi sosial masyarakat. Sejak kanak-kanak, individu-individu ditempatkan dalam ruang-ruang khusus berlabel “ini milik laki-laki, ini tempat laki-laki” dan “cuma perempuan yang boleh berada di sini”. Maka tidak mengherankan apabila perempuan terbiasa menggunakan cara-cara untuk  bertahan di dunia perempuan, karena sejak kanak-kanak masing-masing jenis kelamin memang dikondisikan untuk menguasai cara bertahan di ruang tertentu. Sejak awal, otak perempuan yang terwarisi kemampuan perempuan hanya dijejali oleh kemampuan itu dan dibatasi saat ingin mengembangkan di “kemampuan laki-laki”.
 
Di zaman modern ini, bumi telah menjadi tempat yang relatif aman untuk manusia meneruskan keturunannya. Kondisi sosial dan budaya telah banyak berubah. Kehidupan manusia bukan melulu soal makan dan bereproduksi. Pada dasarnya setiap individu, baik perempuan dan laki-laki, memiliki kebebasan untuk memilih tinggal di “kotak lama” atau mengeksplorasi “dunia asing”. Di dunia akademis atau pekerjaan, individu perlu dilihat berdasarkan kualifikasinya, tidak boleh dijegal karena jenis kelaminnya.
 
Basi apabila seseorang menahanmu dengan pernyataan, “Biar laki-laki saja yang memimpin. Itu kemampuan alami mereka” sebab ilmuwan mengumpamakan otak sebagai otot, ia berubah secara konstan.
 
Pada dasarnya kita memiliki bekal untuk segala hal, kita hanya perlu melatih fungsi-fungsi ini secara sadar. Misalnya saja, orang yang memiliki kekurangan pada aspek pergaulan perlu mengasah kemampuan itu dengan belajar memahami social cues, ekspresi wajah, hingga berkomunikasi sesuai kondisi. Begitu halnya dengan aktivitas memimpin. Lihat saja Hillary Clinton. Sejak dini ia melatih otaknya agar dapat menguasai kepemimpinan dan dia bisa. Jangan pula percaya perempuan tidak bisa logis nan obyektif, sebab ada sederet perempuan-perempuan “kelaki-lakian” lainnya.
 
Kita, perempuan, benar-benar perlu berlatih.
 
Aisy Karima Dewi adalah perempuan kecil yang belajar Penyuluhan Peternakan di STPP Malang. Bisa dikunjungi di megavolta.blogspot.com.