Sejak pertama kali tayang tahun 2016, Stranger Things sering dianggap sebagai serial nostalgia. Sepeda BMX, walkie-talkie, musik analog, hingga horor ala film 80-an menjadi latar yang memancing kenangan. Tapi bagi saya, serial ini lebih dari sekadar romantika masa lalu. Ia adalah ruang menonton bersama antara saya dan anak perempuan saya yang masih ABG.
Awalnya, tentu saja, ada alasan klasik orang tua “untuk mendampingi anak menonton.” Tapi alasan itu sepertinya agak mengada-ada, karena sejak awal menonton, saya yang malah jatuh cinta. Saya duduk betah, ikut tegang, penasaran, dan diam-diam menunggu episode berikutnya. Paling “nerd” adalah ketika saya mulai mengoleksi barang-barang bertema Eleven, Hawkins, dan Upside Down.
Kami berdua, dan tentu saja jutaan penggemar lainnya, tidak hanya tertarik pada monster atau dunia paralel. Stranger Things menawarkan kisah petualangan remaja yang rapi, penuh empati, dan memberi ruang penting bagi karakter perempuan—bukan sekadar pelengkap, tapi pemecah masalah.
Ketika Netflix mengumumkan bahwa Season 5 akan menjadi penutup kisah, ada perasaan campur aduk. Musim gugur 1987 akan menjadi latar terakhir pertarungan kota kecil Hawkins melawan teror Vecna dan Upside Down. Ini bukan sekadar akhir cerita, tapi juga akhir satu fase hidup bagi banyak penonton, termasuk saya dan anak saya yang tumbuh bersama serial ini.
Baca Juga: Apa Itu ‘Conformity Gate’ Stranger Things? Teori Ending Season 5 & Spin Off
Hawkins yang retak, dunia yang tak lagi aman
Di akhir Season 4, Hawkins bukan lagi kota kecil yang ramah. Empat gerbang yang dibuka Vecna membuat luka fisik dan simbolik: retakan membelah kota, partikel melayang di udara, celah dimensi lain tumbuh di mana-mana. Hawkins menjadi ruang liminal antara dunia manusia dan dunia kegelapan.
Kehancuran ini menandai transisi naratif. Dari kisah petualangan anak-anak menjadi
refleksi kolektif tentang trauma dan kehilangan rasa aman. Di sini, karakter perempuan tampil sebagai poros. Mereka bukan hanya bertahan, tapi mengambil alih arah cerita.
Robin Buckley—cerdas, jujur, agak culun, tapi tajam membaca situasi—selalu jadi otak strategi. Nancy Wheeler, yang menolak ekspektasi “gadis baik-baik,” tumbuh jadi jurnalis tangguh yang berani menyelidiki dan mengambil risiko. Mereka adalah bentuk nyata dari agency perempuan: tokoh yang memilih, bertindak, dan memengaruhi jalan cerita, bukan hanya bereaksi terhadap laki-laki.
Yang menarik, mereka tidak harus jadi “sempurna.” Mereka bisa ragu, takut, atau salah. Tapi tetap bergerak.
Tak mungkin bicara feminisme dalam Stranger Things tanpa menyebut Eleven. Tubuhnya sejak kecil dikurung, diuji, dimanfaatkan oleh negara dan militer. Ia adalah simbol bagaimana tubuh perempuan dikontrol ketika ia dianggap tidak normal. Tapi Eleven tidak berhenti sebagai korban. Ia merebut kembali kuasa atas tubuh dan identitasnya. Di Season 4, saat kehilangan kekuatannya, kita melihat sisi paling rapuhnya: trauma, rasa bersalah, kebingungan. Bagi penonton muda perempuan, ini penting untuk memperlihatkan bahwa kekuatan juga bisa hadir di tengah luka. Bahwa pemulihan juga bagian dari keberanian.
Joyce Byers mewakili perempuan kelas pekerja yang keras kepala, pencemas, sering dicap “lebay”, tapi justru itu yang menyelamatkan keluarganya. Erica Sinclair, dengan kecerdasan dan kepercayaan diri, menolak posisi “adik kecil yang bawel”. Ia kritis, vokal, dan tahu nilai dirinya. Sementara Max Mayfield membawa lapisan penting tentang kesehatan mental remaja: depresi, rasa bersalah, keinginan menghilang. “Running Up That Hill” bukan sekadar soundtrack, tapi simbol dari upaya perempuan bertahan di dunia yang berat.
Baca Juga: ‘Stranger Things 4 Vol. 1’: Eksplorasi ‘Satanic Panic’ dan Trauma Amerika 80-an
Menonton Stranger Things bersama anak menjadi pengalaman politis
Mendampingi anak menonton Stranger Things menjadi pengalaman yang politis, tanpa saya sadari sebelumnya. Kami tidak cuma membicarakan monster, tapi juga keberanian, ketakutan, dan pilihan. Anak saya melihat bahwa perempuan bisa menjadi ilmuwan, pemimpin, atau petarung, dan juga bisa rapuh. Dunia memang tidak selalu adil, tapi bisa dilawan, secara kolektif.
Serial ini tak menggurui, melainkan membuka ruang percakapan yang hangat, intim, dan penting. Ia menjadi sarana pendidikan emosional, sosial, dan bahkan ideologis, dalam bentuk yang paling menyenangkan.
Kini petualangannya selesai. Hawkins nyaris hancur, anak-anak itu bertumbuh, begitu juga para penontonnya. Tapi Stranger Things meninggalkan pesan penting. Bahwa di tengah dunia yang retak, tidak berarti kita harus kehilangan harapan. Dan bahwa perempuan tetap bisa berdiri. Bukan dengan menjadi sempurna, tapi dengan menjadi berani, cerdas, dan setia pada kemanusiaan.
Saya bertahan menonton hingga akhir bukan cuma demi anak saya yang penuh rasa ingin tahu. Tapi demi melihat dunia, bahkan dunia yang kacau sekalipun, dari sudut pandang yang lebih adil dan menghangatkan.
















