September 06, 2019
Suamiku Menjadi Serigala Ketika Malam Tiba

Semua orang di seluruh kampung, kecuali aku, tahu suamiku jadi serigala ketika malam tiba.

by Eko Setyawan
Culture // Prose & Poem
Share:

Bagaimana mungkin kau bisa percaya jika orang-orang di kampungmu mengatakan bahwa lelaki yang kau cintai dan telah menikahimu menjadi seekor serigala?

Begitulah yang kudengar dari orang-orang. Mereka terus-menerus mengatakan hal yang sama dan berulang hingga sampai telingaku sekarang. Tak ada penghalang ketika mereka mengatakan bahwa suamiku menjadi serigala. Cerita mengalir begitu deras. Kupikir memang mereka sengaja mengatakan hal demikian dan entah apa tujuannya.

Pertama kali aku mendengar pembicaraan mengenai suamiku yang berubah menjadi seekor serigala sewaktu aku berada di toko kelontong yang tak jauh dari rumahku. Jaraknya kira-kira hanya dua puluh lima langkah. Saat itu, sedianya aku akan membeli gula karena memang persediaan di rumah tak tersisa. Kulangkahkan kakiku kurang lebih dua puluh lima langkah menuju arah matahari terbenam.

Dengan tak berprasangka apa pun, aku sampai di sana ketika seekor anjing memandangiku dan menjulur-julurkan lidahnya. Aku memandangnya sekilas saja. Namun sepersekian detik berikutnya kutatap kembali anjing itu. Kuamati dengan saksama dan mendapati bahwa mata anjing itu menunjukkan rasa meminta iba. Aku tak mengerti apa yang diinginkannya. Namun kuputuskan untuk menghalaunya dengan kakiku agar tidak mendekat. Mungkin hal itu pula yang dilakukan oleh yang lain hingga membuatnya semakin terpuruk.

“Lha, ini Bu Marina. Apa ibu tidak tahu suaminya menjadi serigala?” kata Bu Asih―tetangga yang rumahnya berjarak tujuh belas langkah dari rumahku ke arah matahari terbit―kepada Bu Trinah, pemilik toko ketika menyadari kedatanganku. Ia seperti memintaku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menunggu tanggapan yang kuberikan.

Tapi aku benar-benar tidak paham. Bagaimana mungkin suami yang saban malam berbaring di sampingmu berubah menjadi serigala dan diketahui oleh banyak orang namun kau sebagai istrinya tidak mengetahui apa pun? Tak wajar jika hal itu terjadi. Jikapun terjadi hal itu sama halnya dongeng yang menggelitik. Sehingga tanggapan yang diharapkan itu tidak pernah sampai di telinga Bu Asih.

Aku memilih tersenyum dan tidak memberi jawaban. Lebih memilih mengembangkan bibir dan tidak menelurkan sepatah kata pun. Mungkin senyumku itu bagi mereka adalah jawaban yang membingungkan. Tapi siapa peduli. Bukankah jika memang tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi lebih baik diam. Memilih bungkam agar tidak malah salah dan menjadi masalah atau kelak akan jadi bahan pembicaraan yang lebih besar dan mungkin akan menjadikan situasi menjadi gawat.

Baca juga: Ayah Pergi Menyalakan Lampu

“Apa Bu Marina benar-benar tidak mengetahuinya?” Bu Asih mengulang penuh selidik disetujui oleh pemilik toko dengan tatapan yang begitu tajam padaku.

Perasaanku tidak keruan ketika pertanyaan itu diajukan. Aku seperti terdampar di sebuah bus yang melaju lambat dan tidak ada seorang pun selain diriku bersama sopir dan kondekturnya ketika berharap ada orang yang berdiri menunggu di pinggir jalan dan masuk bus sehingga uang setoran mereka akan genap dan tidak harus merogoh saku lebih dalam untuk menutupi kekurangannya. Suasana yang sunyi dan penuh ketegangan. Aku seperti berada di keheningan hutan dan berharap dapat keluar secepatnya agar tidak dimangsa binatang buas. Aku seperti menghadapi dua ekor serigala yang buas dan siap menerkamku ketika diriku lengah. Aku kehilangan diriku.

“Sungguh, Bu. Pernah suatu malam, suami saya yang saat itu jaga di pos ronda, beberapa kali mendengar auman dari rumah ibu. Suami saya dan bapak-bapak yang lain juga melihat orang asing yang hilir mudik lewat depan rumah Bu Marina. Sepertinya mereka bukan orang dekat-dekat sini karena suami saya dan bapak-bapak yang lain sama sekali tidak mengenalnya. Tapi ya memang belum mencoba menanyakan apa tujuan mereka kemari,” suara Bu Trinah begitu mantap seperti orang yang menyaksikan sendiri apa yang dikatakannya. Entah apa yang dipikirkannya.

Mengenai orang yang hilir mudik, aku juga tidak mengetahuinya. Aku tidur di samping suamiku dengan tenang dan tak pernah terganggu sedikit pun. Seperti tidak terjadi apa-apa dan memang menurutku tak pernah terjadi apa-apa yang mengusikku. Segalanya normal-normal saja.

“Iya, Bu Marina. Apa yang sebenarnya terjadi?” Bu Asih menekanku.

“Sungguh, Bu Asih, Bu Trinah. Saya tidak pernah merasakan hal yang aneh apa lagi sampai mengalami kejadian seperti yang diceritakan ibu-ibu ini. Saban malam, di rumah tidak ada yang aneh. Saya berbaring di samping suami saya. Saya juga tidak merasa terganggu dan memang tidak ada yang mengganggu,” jawabku ketika memang sudah tidak dapat lagi mengelak atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Setelah aku membayar gula dan bergegas meninggalkan mereka berdua, perasaan kegelisahan meledak-ledak dalam hati. Apa yang mereka katakan begitu mengganggu pikiran dan perasaanku. Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Bunga dianggap sempurna ketika mekar. Sebelum mekar, ia tidak dipedulikan. Ada proses yang panjang untuk mencapai kesempurnaan. Bertahan menghadapi musim yang tak menentu, bertahan dari hama, juga kadang ulah manusia yang semena-mena karena menganggapnya tak berguna. Begitu pula hidup. Akan mencapai kesempurnaan ketika dihadapkan dengan masalah. Masalah akan membesarkan hati setiap orang. Dengan menghadapi masalah, seseorang akan terasah kedewasaannya. Sehingga lahirlah diri yang sempurna. Sempurna perasaannya, sempurna menyikapi masalah, dan sempurna tabiatnya dalam menghadapi masalah-masalah baru.

Setahuku, manusia yang menjadi serigala hanya terjadi di film-film murahan di negara ini yang mencontoh film gubahan Catherine Hardwicke. Tapi itu tak bisa kujadikan acuan. Mustahil rasanya jika manusia menjadi serigala. Berat untuk diterima secara akal sehat dan juga tak bisa dipercaya.

Masalah mengenai suamiku masih saja mengiang di kepalaku. Aku seperti dilumat hingga lembut oleh suara-suara yang tak mengenakkan itu. Suamiku masih saja dijadikan bahan pembicaraan. Suara-suara tak mengenakkan itu terus saja menjadi bayang-bayang menakutkan. Aku merasa diriku berada di ruangan yang kosong dan hampa. Aku tak harus berbuat apa.

Setahuku, manusia yang menjadi serigala hanya terjadi di film-film murahan di negara ini yang mencontoh film gubahan Catherine Hardwicke. Sialnya adalah film yang begitu memesona itu diadaptasi secara sembrono dan malah menjadi film yang begitu tampak murahan. Tapi itu tak bisa kujadikan acuan. Mustahil rasanya jika manusia menjadi serigala. Berat untuk diterima secara akal sehat dan juga tak bisa dipercaya.

Lalu mengapa pula mereka bisa menyimpulkan bahwa itu adalah suara suamiku? Jika benar itu suara serigala, mengapa pula mereka menyimpulkan bahwa suamikulah yang menjadi serigala. Mengapa bukan orang lain. Padahal pemukiman kampung ini bisa dikatakan cukup padat. Banyak suara yang lahir dari satu tempat dan terdengar dari tempat lain. Seperti gema suara yang pecah. Mengapa hal itu tidak dipikirkan oleh mereka dan langsung saja memberi cap bahwa suamiku berubah menjadi serigala. Bukan yang lain!

“Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang dibicarakan orang-orang, Mas?” pertanyaan itu kuajukan dengan keengganan. Aku bimbang dan takut. Bimbang ketika akan mengajukan pertanyaan itu dan takut jika saja pertanyaan itu akan menyinggung perasaannya. Namun kebimbangan dan ketakutanku kuredam demi kebaikan. Karena menurutku, seburuk apa pun yang terjadi, jika dibicarakan, semua akan melunak dan baik-baik saja.

Mas Jatmika, suamiku, menatapku dengan datar. Raut mukanya menunjukkan ketenangan. Ia seperti rusa yang cerdas dan agung. Seperti halnya rusa-rusa suci dalam kepercayaan Shinto di Taman Nara Jepang. Rusa-rusa yang hidup di kompleks rumah bekas Klan Kofokuji itu merupakan simbol dari kecerdasan dan begitu takzim pada manusia. Aku melihat gambaran itu di wajahnya.

“Kau memercayainya?” Mas Jatmika menimpali pertanyaanku dengan takzim. Penuh hormat pada lawan bicaranya. Sebagai istrinya, aku sudah paham dengan tabiatnya. Itulah yang membuatku begitu mencintainya.

Baca juga: Tentang Romi dan Yuli, Dosa, dan Pak Samin

“Mungkin, Mas. Mungkin saja iya dan mungkin saja tidak. Iya karena hampir semua tetangga kita mengatakan hal yang sama. Kau menjadi serigala. Mereka mendengar suara serigala dari dalam rumah kita. Namun mungkin saja tidak percaya. Aku saban malam selalu di sampingmu, dan kupikir memang tak terjadi apa-apa. Semuanya normal-normal saja,” aku menjelaskan dengan kecerewetanku. Berbanding terbalik dengan keramahan suamiku.

Lagi-lagi senyumnya mengembang. Aku selalu luluh dengan tabiatnya itu. Tapi kupikir sekarang bukanlah saatnya untuk pasrah dan menyerahkan diri. Aku juga memerlukan jawaban atas segala kebimbanganku. Sehingga kupikir Mas Jatmika harus memberi jawaban. Jawaban yang kutunggu demi memecah dan menguraikan rasa penasaranku.

Namun sebelum ia mengatakan jawabannya. Kudengar teriakan dari luar rumah. Ada yang memukul pagar dan sebagian lagi kudengar mulai menggedor pintu. Mungkin mereka melompat pagar yang tak seberapa tinggi. Mungkin hanya setinggi dada orang dewasa. Suara-suara tak mengenakkan terus saja kudengar dan semakin kencang. Aku dan Mas Jatmika berjalan bersisian menuju arah pintu. Ia menggenggam tanganku erat dan itu kuanggap sebagai cara untuk menenangkanku tanpa berkata “semuanya akan baik-baik saja”.

Tapi tak lama kemudian mereka yang sebelumnya menggedor-gedor pintu tiba-tiba bisa masuk dengan mendobrak pintu. Dihampirinya Mas Jatmika dan langsung saja diseret keluar. Aku terpelanting ke belakang dan mataku menatap lekat pada mereka.

Aku mengingat sesuatu. Mereka adalah orang-orang yang pernah kulihat sebelumnya dan mungkin saja mereka juga yang diceritakan oleh Bu Asih dan Bu Trinah. Mereka adalah orang-orang Pak Basyir yang tak lain adalah mantan kepala mandor yang kini posisinya ditempati oleh Mas Jatmika. Mungkin saja Pak Basyir merasa tersingkir dan mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan hal buruk. Hal itu sudah lama kuketahui pula karena pekerjaan Mas Jatmika cukup bersih bahkan tidak berani menyalahgunakan pekerjaannya tidak seperti Pak Basyir.

Mas Jatmika diseret keluar dan dinaikkan mobil. Aku meronta-ronta mengejarnya namun terempas karena terdorong oleh salah seorang dari mereka. Beberapa tetanggaku hanya diam saja tak melakukan apa pun. Mungkin bingung harus melakukan apa. Aku masih berusaha mempertahankan Mas Jatmika namun memang hal itu sia-sia belaka. Lantas dalam kepalaku terngiang, apakah auman yang dimaksud tetangga adalah Mas Jatmika yang disiksa oleh mereka. Entahlah. Aku tak mengetahuinya. Mas Jatmika entah dibawa ke mana.

Eko Setyawan adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dia bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar dan telah menerbitkan kumpulan puisi pada 2017 berjudul ‘Merindukan Kepulangan’.