July 25, 2018
Surat Terbuka untuk Ustaz Gaul Pujaan Ukhti dan Akhi

Para ustaz "terlalu perhatian" pada perempuan, menjadikan perempuan kaum yang selalu disalahkan dan penuh dosa.

by Selvi Dimyati
Issues // Politics and Society
Share:
Assalamualaikum wr. wb

Apa kabar, Ustaz Hanan Attaki? Perkenalkan saya, perempuan yang masih jauh dari sifat salihah. Beberapa hari lalu saya dikirimkan tautan berita tentang ustaz dari sahabat saya, berisikan ceramah ustaz bahwa perempuan yang salihah itu beratnya tidak lebih dari 55 kilogram. Waduh, saya langsung kaget membacanya sekaligus tercenung mengingat diri saya yang sudah gemuk dari kecil ini.

Ustaz yang baik, ucapan ustaz itu terus berulang di kepala saya sampai saya tidak bisa tidur sehabis membaca beritanya. Akhirnya saya memutuskan untuk mencari video ceramah ustaz; menonton dan meresapi isi video berdurasi sekitar 2 menit itu, dan hati saya semakin tidak karuan. Di video itu ustaz bilang bahwa definisi perempuan salihah tersebut merunut teks-teks yang bersumber dari hadis yang ustaz baca tentang Aisyah, istri Nabi Muhammad.

Masih menurut ceramah ustaz, Aisyah itu cewek gaul, traveler banget, kurus, tinggi, berat maksimalnya sekitar 55 kilogram. Kemudian ustaz sekonyong-konyong menyimpulkan bahwa ciri perempuan salihah beratnya tidak lebih dari 55 kilogram. Dan di bagian akhir video cuplikan itu ustaz bilang, kalau ibu-ibu sehabis dengar tausiah ini pulang dan beratnya masih lebih dari 55 kilogram, ibu-ibu agar berolahraga seperti lari di treadmill, zumba, dan lain-lain.

Ustaz yang lembut tutur bahasanya, tahukah ustaz bahwa banyak dari kami ini sedang belajar untuk bisa istikamah dan bermimpi untuk jadi perempuan salihah di mata Allah. Saya jadi lemas dan sedih dengan pernyataan ustaz yang menyuruh kami olahraga dengan giat supaya bisa dikatakan salihah. Apa iya perempuan yang beratnya lebih dari 55 kilogram tidak berhak menjadi salihah? Bukannya menjadi perempuan salihah itu dilihat dari banyaknya amal baik dan khusyuknya ibadah kami? Dari bergunanya ilmu yang kami punya dan bisa dibagi untuk orang-orang sekitar kami? Bukan dari banyaknya kami nge-gym dan zumba supaya berat kami turun menjadi 55 kilogram agar dikatakan salihah?



Ustaz yang bijaksana, saya paham, mungkin hal itu cuma selipan guyonan atau sebagai intermezzo dalam ceramah, meskipun ustaz menyampaikannya dengan muka datar tanpa ekspresi. Tapi, apakah sebelum membuat materi ceramah ini ustaz tidak memikirkan bagaimana reaksi kami yang punya berat badan lebih dari 55 kilogram ini? Kami yang sensitifnya minta ampun kalau dibilang “kok sekarang gemukan?” sama sahabat apalagi pacar kami. Kok saya ya makin merasa sedih dibilang sama ustaz kami ini enggak salihah. Padahal bukannya Allah tidak membeda-bedakan ciptaannya, mau pendek-tinggi, kurus-gemuk, cantik-atau enggak cantik? Iya ‘kan, ustaz?

Mungkin ustaz khilaf atau tidak terpikir sebelumnya bahwa ceramah tentang perempuan salihah ini akan menjadi viral seperti ini. Sebagai pendakwah, penting untuk berhati-hati dalam menyampaikan konten, apalagi di era media sosial seperti sekarang ini.

Ustaz yang cerdas, banyak hal yang akhirnya ingin saya pelajari dari ceramah ustaz tadi. Misalnya dari mana asal muasal teks-teks hadis tentang Aisyah, apakah yang ustaz bilang tentang Aisyah itu benar atau tidak. Jika memang asumsi ustaz tentang berat badan menjadi salah satu faktor kesalihan seorang hamba Allah, saya jadi mempertanyakan karena kesannya Islam seperti melakukan body shaming.  Bagaimana ustaz? Banyak loh yang tingkat penalaran dan kecerdasannya tidak sama dengan ustaz, jadi pasti ada saja yang berpikiran seperti itu dan sakit hati kan? Lagi-lagi tidak mudah menjadi pendakwah ataupun orang yang menyiarkan kebaikan; harus bisa peka, simpati bahkan berempati terhadap keadaan sekitar.

Ustaz yang memiliki banyak subscriber dan viewer, sebenarnya saya tidak ambil pusing dengan berat badan saya yang lebih dari 55 kilogram ini. Saya bangga dengan diri saya. Tapi digolongkan tidak salihah oleh orang sekaliber ustaz terasa sangat sedih dan miris. Ternyata ustaz belum cukup bijaksana dalam memilah dan memilih konten tausiah serta belum cukup cerdas untuk peka dan berempati. Apakah saya reaktif? Mungkin iya, karena menurut saya salihah atau tidaknya seseorang bukan ustaz atau sesama manusia yang mengklasifikasikan.
 
Untuk para ustaz yang sangat begitu perhatian kepada kami kaum perempuan, kenapa kami ini menjadi kaum yang selalu disalahkan dan penuh dosa? Yang selalu dengan gampangnya diberikan “batasan” tentang apa yang harus atau tidak kami lakukan. Mulai dari tidak boleh menolak jodoh, soal pakaian, riasan, pemakaian sepatu hak tinggi, bagaimana cara kami melahirkan, sampai yang terakhir menyoal berat badan kami atas nama dalil agama. Apa ustaz-ustaz pernah sedikit bersimpati dan berempati bahwa menjadi perempuan sungguh sangat susah dan berat?
 
Untuk para ustaz yang saleh, biarkanlah kami sendiri yang mendefinisikan tubuh kami. Biarkan kami sendiri yang menentukan, apa yang ingin kami lakukan dengan tubuh kami. Biarkanlah kami istikamah dengan cara kami, bukan karena stigma dan stereotip atas nama dalil agama yang kadang disuarakan dalam balutan kental budaya patriarki. Sebagai perempuan yang masih belum salihah versi ustaz-ustaz YouTube ini saya marah dan geram, saya tersinggung, dan saya merasa punya hak untuk bersuara juga. Apakah saya berdosa, ustaz? 

Sebagai penutup, Semoga kita sama-sama dirahmati oleh-Nya dan menjadi hamba-Nya yang bisa istikamah. Urusan saleh dan salihahnya kita, serahkan saja kepada Yang Maha Tahu Segalanya ya, ustaz. Ah, terakhir kalau boleh tahu, berapa berat badan ustaz ya?

Wassalamualaikum wr. wb.

Dari saya, perempuan yang berat badannya lebih dari 55 kilogram.
 
Selvi Dimyati gemar membaca, pecinta buku dan pendengar suportif yang selalu menjadi tempat sampah teman, sahabat bahkan orang yang baru dikenal. Mencintai kajian feminisme dari awal kuliah, sering dikategorikan sebagai perempuan alpha. Tertarik dengan ilmu psikologi dan kriminologi karena alter-ego yang sangat ingin menjadi kriminolog. Kalau ada tujuh benda yang mewakilkan “jiwa saya” layaknya horcruxes di film Harry Potter, itu pasti buku, film, puisi, kacamata, hitam, hujan, dan dimsum. Temui dia di Instagram dan Twitter: @ssdimyati.

Ilustrasi oleh Sarah Arifin.