January 26, 2026
Environment Issues

Beban Bertumpuk Perempuan di Desa Oko-Oko Usai Digempur Tambang dan Smelter Nikel 

Nikel diklaim sebagai solusi energi ramah lingkungan. Namun di Oko-Oko, Sulawesi Tenggara, kehadiran nikel justru menambah beban kerja dan risiko kesehatan perempuan.

  • January 26, 2026
  • 6 min read
  • 64 Views
Beban Bertumpuk Perempuan di Desa Oko-Oko Usai Digempur Tambang dan Smelter Nikel 

*Ket. foto: Area pembangunan smelter PT. Indonesia Pomalaa Industri Park (IPIP)*

Marlina, 50 sibuk menyerok air ke luar rumahnya di Desa Oko-Oko, Kecamatan Pomalaa,  11 November 2025. Air yang merendam perabotan rumah Marlina berasal dari hujan malam sebelumnya. Hujan tidak berlangsung lama, tetapi genangan berwarna coklat berhasil masuk ke rumah hingga setinggi betis orang dewasa. 

“Mungkin besok baru kering, dua hari baru kering,” kata Marlina ketika ditemui Magdalene. Namun pekerjaan belum selesai ketika air surut. Lumpur sisa banjir harus dibersihkan berhari-hari. “Lima hari berturut-turut disiram, disikat, baru bisa bersih,” lanjutnya. 

Menurut Marlina, banjir berwarna coklat mulai rutin terjadi sejak pembangunan smelter nikel PT Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP). Sebelumnya, banjir baru datang jika hujan mengguyur Desa Oko-Oko satu hari satu malam. Kini, hujan pada 10 November 2025 yang hanya berlangsung sekitar dua jam, sudah cukup merendam rumah dan sawah warga. 

Dugaan Marlina diperkuat peta hasil pemetaan organisasi nonpemerintah Satya Bumi yang memperlihatkan aliran Sungai Oko-Oko masuk ke area pembangunan smelter PT IPIP dan pertambangan PT Vale. Berdasarkan pantauan Magdalene, perusahaan membangun jembatan di Sungai Oko-Oko sehingga aliran air menyempit. Tanah merah bekas galian bercampur dengan air saat hujan turun. 

Saat ditanya kerugian apa saja yang ia alami setelah banjir melanda rumahnya, Marlina kembali menunjuk perabotan yang terendam. “Ini saja.” Namun di balik itu, aktivitas hariannya merawat sang ibu yang sudah sulit bergerak ikut terganggu. Marlina harus membantu ibunya melangkah di air keruh menuju kamar mandi untuk buang air atau mandi. 

Sungai di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, yang sudah berwana kemerahan akibat aktivitas tambang dan pembangunan smelter. (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene)

Baca juga: ‘Dynamite Kiss’: Drama Klise dan Ciuman yang Mengubah Hidup 

Menambah Beban Kerja Domestik 

Marlina bukan satu-satunya warga Oko-Oko yang harus bekerja ekstra menghadapi banjir. Karni, 50 dan anaknya terjaga larut malam untuk mengungsi ke kios terdekat. Tujuh orang, termasuk cucu dan anak Karni, menunggu hingga bisa kembali ke rumah. Sekitar pukul 08.00 pagi, mereka mendapati kondisi rumah sudah kacau. 

Sejumlah peralatan rumah tangga, seperti mesin cuci dan kulkas, rusak. Lemari lapuk karena terendam banjir. Air masuk sekitar pukul 01.00 dini hari sehingga mereka tak sempat memindahkan barang. Bekas basah masih terlihat di tembok rumah, kira-kira setinggi betis orang dewasa. Cucu Karni tidak masuk sekolah karena sakit akibat kurang tidur. 

Karni tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi setelah banjir. Yang pasti, ia harus mencuci pakaian dengan tangan dan makanan di kulkas tidak akan bertahan lama. Suami Karni, Saman, langsung berjanji membelikan mesin cuci baru. “Sabar ini nanti kalau habis panen, beli mesin cuci, kalau ada rezeki,” timpalnya. 

Masalahnya, tak ada sawah di Desa Oko-Oko yang selamat dari banjir. Fathia, 39, petani sekaligus pemilik sawah seluas satu hektare, harus memutar otak memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sawahnya tak lagi bisa menopang kebutuhan harian keluarga yang terdiri dari suami dan empat anak. Suami Fathia juga bekerja di lahan yang sama. 

“Baru ada anakku masuk di pondok (pesantren), yang kuliah satu, satu di pondok, jadi berat ini setelah perusahaan (IPIP) masuk. Biasanya bisa jual banyak sekarang tidak,” ungkapnya, (23/1). 

Baca juga: ‘Mens Rea’: Fakta Lama dan Kepanikan Moral yang Enggak Perlu 

Pekerjaan Ganda 

Dua kali panen di sawah Fathia terganggu sejak IPIP membangun smelter dan mess pekerja. Sebelumnya, ia bisa menjual 40 karung padi. Sejak air coklat masuk ke sawah melalui irigasi dan banjir, hasil panen turun menjadi 20 karung. 

“Sebelumnya, sekali panen bersihnya Rp45 juta, setahun bisa dua kali panen. Tapi padinya jadi kerdil karena tertutup lumpur. Kalau sekarang, lebih dari Rp20 juta, karena bagi duanya, toh,” pungkasnya. 

Dekan Fakultas Pertanian, Perikanan, dan Peternakan Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Marlina Mustafa, menjelaskan bahwa kerusakan akar akibat paparan logam berat dari aktivitas tambang dan smelter dapat membuat padi tumbuh kerdil. Ia sempat melakukan pengabdian masyarakat di Desa Pesouha, Kecamatan Pomalaa. 

Kondisi padi yang sudah terendam lumpur merah di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. (Foto: Andrei Wilmar/Magdalene)

Saat mencabut tanaman padi, Marlina menemukan akar yang terkontaminasi logam berat. “Dan memang ada perbedaan di akar. Kalau dia kena logam berat itu agak keras akarnya, sehingga memang untuk kemampuan menyerap nutrisi air dan sebagainya itu kan terbatas,” tuturnya pada 14 November 2025 di Universitas Sembilanbelas November Kolaka. 

Kondisi ini memaksa Fathia mengambil pekerjaan tambahan sebagai juru masak katering perusahaan tambang. Pekerjaan kedua tersebut mengharuskannya masuk pukul 00.00 dan pulang pukul 09.00 setiap hari. “Aku digaji sama perusahaan dua juta per bulan. Ini harus kayak gini sampai anak-anakku selesai kuliah,” ucapnya. 

Malam hari, Fathia meninggalkan anak bungsunya yang berusia empat tahun tidur bersama sang ayah. Sepulang kerja, ia biasanya hanya tidur tiga jam. Setelah bangun, Fathia mengajak anaknya memantau kondisi sawah yang kian hari kian memburuk. Penghasilannya memang bertambah sedikit, tetapi risiko kesehatan ikut meningkat. 

Sakit kepala dan gangguan siklus menstruasi menghantui keseharian Fathia. Sesekali ia meluapkan kekesalan di perjalanan. Di atas motor, Fathia berteriak, “Kalau bukan karena anakku enggak harus aku sampai begini.” Ia berharap anak-anaknya tak perlu mengalami hal yang sama. “Mudah-mudahan anakku tidak begini, apapun yang sa rasakan toh, semoga tidak.” 

Baca juga: Bagaimana Media Jadi Sponsor Kekerasan: Pelajaran Penting Usai Baca ‘Broken Strings’

Respons yang Tak Setimpal 

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia, salah satu perusahaan dalam konsorsium PT IPIP, Budiawansyah, mengatakan perusahaan terbuka terhadap diskusi yang konstruktif. Menurutnya, keberlanjutan bukan sekadar jargon. 

“Kita harus bangun berdasarkan aspek sosial, ekologi, lingkungan, dan juga aspek human right yang harus dipertanggungjawabkan hari ini, bukan nanti,” ucap Budi dalam peluncuran laporan Di Balik Kilau Janji Keberlanjutan Kawasan Industri Pomalaa di Morrissey Hotel, Jakarta Pusat, (22/1). 

Namun Marlina, Karni, dan Fathia mengaku tidak pernah diajak berbicara oleh perusahaan terkait aktivitas tambang dan pembangunan smelter. Warga Desa Oko-Oko sempat melayangkan protes terhadap pembangunan smelter IPIP dan aktivitas pertambangan di sekitar wilayah mereka, tetapi respons yang diharapkan tak kunjung datang. 

Alih-alih mendatangi warga untuk meminta maaf, mengganti kerugian, atau menghentikan pembangunan, perusahaan justru memberikan kompensasi Rp500 ribu kepada warga melalui kepala desa setiap kali banjir datang. Marlina dan Fathia mengaku pernah menerima uang tersebut. 

Laporan yang disusun Satya Bumi dan Pusat Studi Hukum dan Hak Asasi Manusia merekomendasikan PT Vale Indonesia menghentikan pembukaan lahan di daerah aliran Sungai Oko-Oko serta menghentikan aktivitas pertambangan sebelum terlaksananya persetujuan bebas, didahulukan, dan diinformasikan. 

Menanggapi pernyataan Budiawansyah, bagi warga Oko-Oko, “nanti” telah berubah menjadi hari ini. Marlina, Karni, dan Fathia sudah lebih dulu menanggung konsekuensi dari aktivitas pertambangan yang diklaim berkelanjutan. 

Catatan: Semua nama korban disamarkan demi keamanan narasumber. 

About Author

Andrei Wilmar

Andrei Wilmar bermimpi buat jadi wartawan desk metropolitan.