January 27, 2026
Culture Prose & Poem

Novel ‘Kamarina Rindu Cinta’ Rayakan Hidup Setelah Perceraian

‘Kamarina Rindu Cinta’ adalah novel romansa ringan yang membongkar realita perceraian di Indonesia dan mengapa perempuan tidak perlu takut terhadapnya.

  • January 27, 2026
  • 6 min read
  • 63 Views
Novel ‘Kamarina Rindu Cinta’ Rayakan Hidup Setelah Perceraian

Kamarina, 37 tahun, tampak seperti cetak biru perempuan “berhasil”: mapan, mandiri, rapi di mata orang, dan—kalau perlu—selalu terlihat baik-baik saja. Tapi Kamarina Rindu Cinta tidak berhenti di permukaan itu. Dengan gaya bertutur yang cair seperti curhat, Firliana Purwanti mengajak pembaca masuk ke ruang yang sering tidak diberi tempat dalam narasi tentang “perempuan kuat”: rindu, lelah, dan keputusan-keputusan yang kerap disederhanakan orang luar.

Cara bercerita yang akrab ini membuat 379 halaman novel perdana Firliana terasa ringan untuk diikuti. Kita seolah sedang duduk berhadapan dengan tokohnya, mendengar kisahnya pelan-pelan, tanpa perlu banyak jeda. Dan dari sana, satu isu penting muncul dengan jelas, tanpa perlu dijadikan jargon: perceraian.

Dalam novel ini, perceraian Kamarina bukan datang dari konflik bombastis dan penuh skandal, tapi dari sesuatu yang kerap tak terlihat dan mudah dibantah: manipulasi. Hendra tidak memukul, tetapi ia mengontrol, membelokkan realitas, dan membuat Kamarina meragukan dirinya sendiri. Novel ini seperti mengingatkan bahwa luka tidak selalu berbentuk lebam, dan keputusan pergi tidak selalu lahir dari “kurang sabar”, melainkan dari keberanian untuk menyelamatkan diri.

Sejak menikah, Hendra tidak memiliki pekerjaan tetap, sementara kebutuhan rumah tangga berjalan terus. Kamarina yang menanggung biaya sehari-hari—makan, tagihan listrik dan air, bensin hingga parkir—termasuk kredit apartemen dan cicilan mobil. Masalahnya bukan semata siapa yang menjadi pencari nafkah, melainkan ketimpangan kontribusi yang dibiarkan terjadi, lalu dipertahankan melalui pola manipulasi. Setiap kali Kamarina mengkonfrontasi, Hendra justru memutarbalikkan situasi sampai Kamarina yang merasa bersalah.

Keintiman memudar, relasi yang tidak aman membuat Kamarina kian menjauh. Butuh waktu buat Kamarina untuk melihat apa yang dilakukan oleh Hendra sudah keluar batas hingga akhirnya ia pergi ke Pengadilan Agama untuk menggugat cerai. 

Baca Juga:  ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja

Novel yang memotret realitas perceraian

Gambaran dalam novel Kamarina Rindu Cinta begitu dekat dengan realitas di lapangan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024 menunjukkan mayoritas perceraian merupakan gugatan dari pihak istri, dan alasan yang paling sering dicatat adalah perselisihan yang terus-menerus. Angka ini bisa dibaca sebagai tanda bahwa semakin banyak perempuan memilih menggunakan jalur hukum untuk keluar dari relasi yang tidak lagi sehat. Bukan karena “gagal menjaga rumah tangga”, tetapi karena menolak bertahan dalam situasi yang menggerus diri.

Faktor ekonomi menjadi alasan terbanyak kedua para istri menggugat cerai. Data BPS menunjukkan sekitar 14,37 persen pekerja perempuan di Indonesia adalah pencari nafkah utama atau satu-satunya. Angka ini berarti setidaknya 1 dari 10 pekerja perempuan menanggung beban ekonomi keluarga. 

Para perempuan pencari nafkah ini sangat rentan menanggung beban ganda. Mereka mungkin bisa mandiri secara ekonomi, tetapi masih juga menanggung kerja perawatan. Dalam novel ini, beban kerja ganda dipikul oleh Kamarina, yang masih bangun pagi untuk memasak sarapan dan melakukan kerja domestik lainnya. Sementara Hendra digambarkan santai saja bangun siang dan tidak berkontribusi apa-apa.

Bias gender yang mengakar ini tampak dalam survei Organisasi Buruh Internasional (ILO) bersama Katadata (2023), yang menemukan masih banyak responden yang menyetujui narasi stereotip bahwa perempuan dianggap lebih telaten dan penyabar sehingga “lebih cocok” memikul kerja mengasuh dan merawat. Narasi semacam ini bukan sekadar opini. Ia bekerja seperti pembenaran sosial yang membuat beban domestik terasa “wajar” jatuh pada satu pihak.

Sayangnya, stereotipe itu bisa terinternalisasi begitu dalam sehingga tak sedikit perempuan—termasuk sosok mandiri seperti Kamarina—perlahan merasa bahwa melayani dan menanggung kerja domestik sendirian adalah “kewajaran” yang tak perlu dipertanyakan. Di titik inilah kelelahan menjadi berlapis. Bukan hanya capek fisik, tetapi juga lelah karena relasi yang seharusnya setara justru berjalan timpang.

Ketika energi tersedot habis untuk memastikan roda rumah tangga tetap berputar sementara pasangan bersikap pasif atau abai, perempuan perlahan-lahan akan kehilangan koneksi dengan dirinya sendiri. Rasa lelah yang terakumulasi ini bukan sekadar capek fisik yang bisa hilang dengan tidur semalam, melainkan kelelahan eksistensial karena merasa dieksploitasi dalam relasi yang seharusnya berlandaskan kemitraan.

Baca Juga: “Bagaimana Cara Mengatakan ‘Tidak’?” Tampilkan Perempuan di Lingkaran Kekerasan

Perceraian yang membebaskan

Kepada Magdalene (20/1), Firliana mengatakan stigma terkait perceraian juga bersumber dari interpretasi ajaran Islam yang menyatakan bahwa Tuhan membenci mereka yang bercerai. 

“(Padahal) ternyata, setelah ditelusuri, hadis (soal perceraian) itu enggak sahih! Bayangkan, yang membuat perempuan merasa terpuruk saat bercerai itu karena dia enggak cuma ditekan secara sosial, tapi juga secara agama,” ujarnya.

Berangkat dari kegelisahan terhadap tafsir yang membelenggu itu, Firliana mencoba menggeser cara kita memandang perceraian. Bukan sebagai cap “kegagalan”, melainkan sebagai keputusan untuk kembali aman dan pulih. Alih-alih mengajak pembaca meromantisasi perpisahan, novel ini menyorot satu hal yang sering luput, bahwa keluar dari relasi yang merusak bisa menjadi titik balik yang memberi ruang bernapas, dan itu sah.

Dalam bab berjudul provokatif “Janda Kolagen”, Firliana membedah dampak relasi yang tidak setara. Ketika beban ganda dinormalisasi, perempuan sering kehilangan waktu, tenaga, bahkan ruang untuk mengenali kebutuhan dirinya sendiri. Setelah bercerai, Kamarina baru menyadari betapa lama ia menunda pemulihan. Ia mulai merawat diri bukan untuk mengejar validasi atau standar kecantikan sosial, melainkan sebagai cara mengambil kembali kendali atas tubuh, ritme hidup, dan kesehatan mentalnya—sebuah bentuk penghargaan pada diri yang selama ini tergerus.

Kamarina pun memutuskan menjalani solo travelling dan kembali menjadi seorang petualang cinta. Selama ini, ada mitos sosial yang menghantui perempuan bahwa setelah bercerai, pintu cinta akan tertutup rapat dan mereka akan menua dalam kesepian. Kamarina mendobrak anggapan itu. Baginya, perceraian justru membuka kesempatan kedua untuk memupuk relasi yang lebih dewasa dan sehat tanpa beban ekspektasi yang menekan.

Baca Juga:  ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah

Sejumlah studi psikologis dan sosiologis, seperti riset Kingston University di Inggris (2013), menunjukkan sebagian perempuan, terutama yang keluar dari relaksi toksik atau timpang, melaporkan kesejahteraan yang meningkat setelah bercerai. Hal ini terjadi karena setelah lepas dari belenggu relasi semacam itu, perempuan cenderung memiliki lebih banyak waktu berkualitas untuk diri sendiri (me-time), mampu mengeksplorasi minat yang sempat terkubur, serta memiliki otonomi penuh atas kesehatan mental mereka. Kemandirian ini memberikan suntikan hormon kebahagiaan yang jauh lebih stabil daripada bertahan dalam relasi toksik.

Pada akhirnya, novel romansa ringan ini menjadi pengingat bahwa hidup tidak harus selesai ketika sebuah pernikahan berakhir. Firliana seperti ingin mengatakan bahwa tidak ada perempuan yang pantas disudutkan karena status “janda”, apalagi ketika ia memilih keluar dari kekerasan yang tak selalu kasat mata. Melalui Kamarina, ia mengajak pembaca melihat perceraian sebagai keputusan yang dapat membuka ruang aman, otonomi, dan pemulihan. Dan bahwa memilih bebas dari kekerasan adalah bentuk keberanian yang layak dihormati.

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.