‘She Loves to Cook, She Loves to Eat’: Makanan, Seks, dan ‘Rasanya’ Jadi Perempuan
(Artikel ini mengandung spoiler)
Yuki Nomoto suka sekali memasak. Dapur apartemennya tak pernah absen mengeluarkan aroma masakan yang menggugah selera. Setiap hari ada saja resep baru yang ia coba. Berbagai makanan lintas negara pun ia hasilkan lalu dikemas rapi sebagai bekal kantor, atau ia nikmati sendiri saat pulang kerja dan di kala waktu senggang akhir pekan.
Meski gemar memasak, Nomoto merasa hari-harinya masih kurang lengkap. Ia menghadapi dilema kecil. Ia senang memasak dalam porsi besar, sementara kapasitas makannya sendiri terbatas. Dulu saat masih di kampung halaman, selalu ada orang yang siap menghabiskan porsi jumbo masakannya. Namun sejak merantau, ia terpaksa menahan diri dan harus puas hanya memasak porsi kecil untuk dirinya sendiri.
Semua itu perlahan berubah saat ia bertemu dengan Totoko Kasuga dalam satu lift suatu malam. Saat itu, Kasuga baru pulang dari kantornya dan membawa dua keranjang ayam goreng dan tiga kotak kentang goreng serta nugget. Awalnya, Nomoto mengira Kasuga sedang kedatangan tamu. Namun, saat tahu tetangganya itu akan menghabiskan semua makanan sendirian, ia menyadari bahwa hobinya memasak dalam porsi besar bisa menemukan tujuannya kembali lewat Kasuga.
Nomoto kemudian memberanikan diri mengajak Kasuga untuk makan bersama. Kasuga yang memang dasarnya hobi makan menyambut baik tawaran itu. Mereka lalu mulai rutin memasak serta makan bersama. Dari momen kebersamaan ini, benih persahabatan mulai tumbuh dan perlahan berubah menjadi rasa ketertarikan satu sama lain.
Baca Juga: Kalau Kamu Tenang dan Santai Saat Nonton Animasi Ghibli, Kamu Enggak Sendiri
Representasi Aseksual Lesbian yang Akhirnya Dapat Sorotan
She Loves to Cook, She Loves to Eat hadir sebagai drama slice of life dengan kemasan yang ringan. Premisnya sangat sederhana, dengan durasi per episode yang hanya berkisar 15 menit. Namun, di balik format yang simpel, serial ini mampu menghadirkan percakapan mendalam soal seksualitas dengan tingkat kedalaman yang jarang ditemukan dalam serial queer pada umumnya.
Diadaptasi dari manga karya Sakaomi Yuzaki, serial ini berupaya memotret betapa kompleks dan cairnya orientasi seksual manusia. Selama ini, masyarakat cenderung memahami identitas seseorang hanya melalui satu label yang kaku. Bahkan, banyak film atau serial bertema queer terjebak dalam pola yang sama dengan sekadar melabeli karakter sebagai gay, lesbian, atau biseksual tanpa menggali adanya lapisan spektrum lain di dalamnya.
Lebih jauh lagi, terdapat “aturan tak tertulis” bahwa seorang queer harus memiliki garis waktu (timeline) yang pasti, di mana mereka wajib memahami jati dirinya sebelum mencapai usia dewasa. Narasi ini sayangnya terus muncul dalam banyak karya. Melalui struktur cerita coming-of-age yang linier, karakter queer biasanya digambarkan sudah merasa “berbeda” sejak kecil, mengalami krisis identitas saat remaja, lalu coming out sebelum beranjak dewasa. Seolah-olah, garis waktu tersebut adalah standar wajib yang harus dipatuhi oleh semua orang queer agar identitas mereka dianggap sah.
Padahal pada kenyataannya, tidak demikian. Di komunitas aseksual contohnya, kesadaran sebagai queer baru muncul di usia dewasa. Hal ini terekam dalam Laporan Survei Komunitas Ace 2024, di mana dari 10.397 responden, usia rata-rata responden yang pertama kali mengidentifikasi diri sebagai aseksual atau berada dalam spektrum aseksual adalah 21,4.
Ketiadaan narasi queer dewasa ini, menciptakan symbolic Annihilation (penghapusan simbolis), di mana queer merasa bahwa jika mereka tidak merasakannya sejak kecil, maka perasaan mereka saat dewasa tidak valid. Hal ini sempat dikritik dalam penelitian Not getting your story straight: queering heroes’ journeys and heteronormative timelines (2014). Dalam penelitian tersebut ditekankan bahwa garis waktu heteronormatif memaksa cerita queer untuk selalu memiliki momen “epifani” di masa muda sebagai syarat mencapai kematangan identitas.
Itulah sebabnya coming age story queer banyak terfokus pada cerita remaja dan menihilkan perjalanan seksualitas queer dewasa. Inilah yang berusaha didobrak oleh She Loves to Cook, She Loves to Eat.
Dalam serial ini, Nomoto digambarkan sebagai sosok yang baru menyadari identitasnya sebagai lesbian sekaligus aseksual di usia 20-an. Sejak kecil, ia tidak pernah merasakan ketertarikan seksual terhadap siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan. Pertanyaan sederhana mengenai “tipe pacar ideal” selalu menjadi teka-teki yang gagal ia pecahkan, membuatnya merasa berbeda tanpa tahu apa penyebabnya.
Jarak emosional dengan teman-teman seusianya kian melebar saat Nomoto menginjak remaja. Teman-teman yang dulu asyik bermain bersamanya kini mulai sibuk pacaran hingga waktu bermain bersama makin berkurang. Bahkan saat bermain sekalipun, perbincangan mereka berubah arah menjadi riuh rendah cerita jatuh cinta dan patah hati. Nomoto pun terjebak dalam keheningan. Ia tidak mampu memahami, apalagi merasakan, gairah yang sedang dirayakan teman-temannya.
Keterasingan ini terus membayangi Nomoto hingga ia menjadi pekerja kantoran. Sementara rekan sejawatnya sibuk menelusuri aplikasi kencan atau memadu kasih selepas kerja, Nomoto hanya menjadi pengamat dari kejauhan, merasa asing di tengah lingkungan yang merayakan romansa.
Namun, dunia yang sunyi itu mulai terjungkir balik saat Nomoto bertemu dengan Kasuga. Kehadiran Kasuga memaksa Nomoto untuk mendefinisikan ulang arti kasih sayang yang selama ini ia belum pahami. Awalnya, ia mengira rasa nyaman dan bahagia saat bersama Kasuga hanyalah bentuk persahabatan biasa. Namun, seiring waktu, perasaan itu tumbuh melampaui batas pertemanan hingga ia menyadari ingin menjadi seseorang yang spesial dan disayangi oleh Kasuga.
Namun karena selama lebih dari 20 tahun tak pernah suka siapapun, Nomoto sempat bingung mendeskripsikan perasaan dan identitasnya. Di sinilah pertemuannya dengan Kaname Yako, lesbian aseksual di media sosial jadi katalis yang membebaskan. Melalui Yako, Nomoto disadarkan bahwa tidak ada timeline khusus bagi seseorang untuk menyadari seksualitasnya.
Interaksi tersebut akhirnya menyadarkan Nomoto tentang adanya lapisan identitas yang bisa beririsan dalam satu jiwa tanpa harus saling meniadakan. Ia belajar bahwa seseorang bisa menjadi seorang aseksual sekaligus lesbian secara bersamaan tanpa mengurangi validitas salah satunya. Dengan merangkul kedua identitas ini, Nomoto tidak lagi merasa terbebani untuk mencari cara menjadi seorang “lesbian yang semestinya” menurut standar umum.
Sebelumnya, Nomoto sempat didera perasaan tidak layak menyandang label lesbian. Selama proses pencarian jati dirinya, ia banyak menonton film dan serial lesbian bersama Yako. Di satu sisi, ia merasa sangat terhubung dengan perasaan kasih sayang dan ketertarikan karakter-karakter tersebut terhadap sesama perempuan. Namun, ketika narasi tersebut masuk ke ranah hubungan seksual, Nomoto justru merasa asing dan tidak mampu memahaminya.
Ia mengamati bagaimana hubungan queer di media sering kali digambarkan sangat seksual yang dalam bahasa Jepang ia sebut dengan 情熱 (jounetsu) atau penuh gairah. Bagi Nomoto, intensitas gairah seksual yang meledak-ledak itu terasa sangat jauh dari realitas pribadinya, yang pada akhirnya sempat membuat ia meragukan keabsahan identitasnya sendiri.
Apa yang dirasakan Nomoto sangat valid dan merupakan pengalaman kolektif aseksual. Dunia kita ini dibangun lewat gagasan compulsory sexuality. Gagasan ini dalam buku Ace: What Asexuality Reveals About Desire, Society, and the Meaning of Sex menekankan bahwa setiap orang normal adalah seksual. Tidak menginginkan seks adalah tidak wajar dan salah, dan orang yang tidak peduli dengan seksualitas kehilangan pengalaman yang sangat penting dalam hidup mereka.
Dalam komunitas queer lanjut Angela Chen dalam buku tersebut, compulsory sexuality makin kental karena masyarakat sering menyangkal eksistensi queer dan menganggapnya sebagai sebuah fase atau anomalitas yang perlu dihilangkan. Akibatnya, ada sebuah anggapan yang tercipta bahwa hubungan yang “berhasil” atau “valid” harus melibatkan seks. Ini mengapa dalam komunitas queer sendiri, aseksual sebagai orientasi seksual seriang kali dianggap tidak valid dan membuat individu seperti Nomoto merasa tidak pantas mengemban label lesbian.
Baca Juga: 7 Rekomendasi ‘Anime’ Tentang Pengasuhan Anak
Memahami Diskriminasi Gender dari Makanan
Makanan adalah jantung dari She Loves to Cook, She Loves to Eat. Dari makanan, seksualitas dieksplorasi. Bukan kebetulan protagonis utamanya adalah seorang aseksual.
Jika seks dianggap sebagai “kebutuhan utama” manusia oleh masyarakat, komunitas aseksual menawarkan kontra narasi lain, yaitu makanan.
Komunitas aseksual bahkan memiliki lelucon internal sendiri yang tertuang dalam ungkapan populer, “I’d rather have cake” (aku lebih baik makan kue saja). Lelucon internal yang dipopulerkan oleh AVEN (Asexual Visibility and Education Network) pada awal tahun 2000-an ini mempunyai makna tersendiri sebagai pernyataan politis aseksual yang menawarkan bentuk keintiman tanpa eros (hasrat seksual).
Logikanya, dengan makanan, seseorang memberikan waktu, perhatian, dan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka sendiri. Ini adalah bentuk keintiman emosional murni yang mampu menciptakan ruang aman (safe space) tanpa harus melibatkan tekanan seksual.
Ruang aman ini memberikan kesempatan bagi individu aseksual untuk memahami diri dan dunianya. Dalam She Loves to Cook, She Loves to Eat, ruang aman yang tercipta lewat makanan membawa para karakter perempuannya pada kesadaran tentang diskriminasi gender sistemik. Dengan kondisinya masing-masing, mereka dihantam realita pahit bagaimana eksistensi perempuan tak pernah bisa lepas dari peran dan ekspektasi gender mereka.
Nomoto misalnya menyadari bahwa kecakapannya dalam memasak tidak pernah benar-benar diakui sebagai sebuah keahlian mandiri. Meski sejak sekolah kerap menerima pujian atas kemahirannya tersebut, apresiasi dari orang-orang di sekitarnya justru meninggal perasaan hampa yang mengganjal.
Ia dikerdilkan menjadi sekadar calon istri atau ibu ideal di masa depan hanya karena dalam masyarakat patriarki, perempuan yang idealkan bisa memasak untuk suami dan anak-anaknya. Ini pula mengapa orang tuanya terus mendesak Nomoto menikah. Di mata mereka, membiarkan seorang anak perempuan yang pandai memasak tetap melajang adalah sebuah kesia-siaan, seolah bakat Nomoto tidak memiliki nilai jika tidak diabadikan dalam institusi pernikahan.
Di sisi lain, makanan membuat Kasuga menyadari bahwa dalam masyarakat patriarki, perempuan selalu diharapkan berkorban demi laki-laki. Tumbuh besar di keluarga dengan budaya patriarki yang kental, laki-laki di keluarga Kasuka selalu mendapatkan prioritas dalam hal apapun di kehidupan. Salah satunya lewat jatah makanan.
Kakak laki-lakinya selalu dapat camilan lebih banyak darinya. “Anak laki-laki harus makan lebih banyak,” begitu kata ibu dan ayahnya. Sedangkan di meja makan, laki-laki dalam keluarganya selalu mendapatkan jatah pertama mengambil makanan. Ayah, kakak laki-lakinya, Kasuga, lalu ibu. Selalu begitu alurnya.
Jika Kasuga ingin menyelak mengambil makanan sebelum ayah atau kakak laki-lakinya, ia akan diomeli. Alhasil, Kasuga seringkali tidak mendapatkan protein yang cukup untuk memenuhi nafsu makannya yang besar.
Pernah satu malam sangking kelaparannya, Kasuga diam-diam ke dapur dan memakan roti dengan mayonaise. Di tengah kegelapan dan sunyinya malam, Kasuga menyadari bagaimana perempuan harus menanggung penderitaan demi laki-laki bisa tidur pulas.
Normalisasi penderitaan perempuan dalam masyarakat patriarkal semakin nyata dirasakan Kasuga saat neneknya jatuh sakit. Tanpa peringatan, sang ayah menghubunginya dan menuntut Kasuga untuk melepas karier serta kehidupan yang telah ia bangun di kota. Ayahnya berdalih bahwa sebagai satu-satunya anak perempuan, sudah menjadi “kodratnya” untuk pulang dan mengurus keluarga.
Tentu saja, Kasuga meradang. Selama sepuluh tahun ia berjuang dari titik nol untuk mandiri di perantauan, namun ayahnya justru hendak merenggut kedaulatan hidupnya secara sepihak tanpa pertimbangan sedikit pun. Logika patriarki yang timpang kian mengusik benak Kasuga. Mengapa bukan kakak laki-lakinya saja yang merawat sang nenek? Toh, kakaknya tinggal di kampung yang sama. Bahkan, ia mempertanyakan tanggung jawab ayahnya sendiri sebagai anak kandung.
Baca Juga: ‘Superstore’: Kombinasi Karakter Nyeleneh dan Isu Buruh yang Jadi ‘Superlucu’
“Itu kan ibu Ayah, kenapa tidak Ayah saja yang merawatnya?”. Pertanyaan jujur Kasuga itu justru dibalas dengan cacian, sebuah reaksi defensif yang membuktikan betapa kakunya struktur keluarga yang meletakkan beban perawatan sepenuhnya di pundak perempuan.
Beruntung bagi Kasuga, ia tidak lagi menghadapi badai ini sendirian karena telah memiliki Nomoto. Begitu pula bagi Nomoto. Di tengah tekanan heteronormatif yang mengerdilkan talenta memasaknya menjadi sekadar syarat ‘istri idaman’, kehadiran Kasuga menjadi napas baru yang membebaskan.
Melalui setiap suapan lezat dan keintiman yang terbangun di meja makan, keduanya perlahan saling membuka diri. Di ruang aman yang mereka bangun bersama itulah, kekuatan baru muncul. Ini adalah sebuah daya untuk melawan diskriminasi gender yang mematikan dengan saling merangkul satu sama lain.
Sejatinya, setiap hidangan yang tersaji dalam She Loves to Cook, She Loves to Eat melampaui sekadar keramahtamahan antar karakter. Makanan di sini menjelma sebagai jembatan untuk menemukan jati diri yang selama ini terkubur di bawah dikte ekspektasi masyarakat.
Di satu sisi, meja makan menjadi cermin pahit yang menyadarkan bahwa perempuan masih terbelenggu oleh peran gender yang kaku. Namun, di sisi lain, dari meja makan jugalah perlawanan itu lahir—sebuah ruang untuk saling menguatkan dan meruntuhkan belenggu tersebut demi meraih kedaulatan hidup bersama
















