May 07, 2019
Seruan untuk Penggemar K-Pop: Stop Bela Pelaku Pelecehan Seksual

Kita harus memberi seruan agar penggemar fanatik K-Pop berhenti mendukung idola yang melakukan pelecehan seksual.

by Novi
Culture
Korea K POP 77 Thumbnail, Magdalene
Share:

“I hope they find it’s a hoax and lies.”

“They deserve it.”

“Too much trash talk about our beloved celebrities.”

“You’re disgusting. They’re rapists, human traffickers, and you defend these? Shame on you”

Kalimat-kalimat di atas hanya sebagian kecil dari komentar pro dan kontra mengenai skandal yang menimpa beberapa idola K-Pop. Ketika ada bias (sebutan sosok idola di ranah K-Pop) diberitakan tersangkut kasus kriminal, akan selalu ada warganet garda depan yang siap berperang melawan mereka yang menghujat. Dan akhir-akhir ini, lini masa media sosial, terutama Instagram, sungguh ribut dengan perang komentar antara penggemar K-Pop.

Hal itu terkait skandal pelecehan seksual yang menimpa beberapa penyanyi K-Pop yang sangat menghebohkan hingga diberitakan media internasional. Perang komentar muncul dan bahkan pada titik ekstrem, saya menemukan beberapa foto yang telah diedit, bertuliskan kalimat bernada mendukung artis yang diduga melakukan pelecehan seksual.

Misalnya di sebuah akun Instagram penggemar Jung Joon Young (salah satu pelaku pelecehan), ada foto dirinya dan kalimat dukungan dari penggemar. Inti tulisan-tulisannya adalah, apa pun yang terjadi pada pelaku, penggemar tetap mendukung. Malah sebuah akun penggemar fanatik menuliskan bahwa pemilik akun tersebut sudah lelah dengan semua pemberitaan negatif dan memilih akan tetap percaya pada idolanya.

Saya sudah belasan tahun menjadi penggemar K-Pop, tapi baru kali ini saya sangat gerah dengan mereka yang fanatik. Penggemar seperti ini menurut saya mencederai akal sehat ketika mereka berusaha melindungi pelaku pelecehan seksual. Apalagi ketika para pendukung tersebut datang dari Indonesia, sungguh ini membuat geram. Ketika kita semua ramai-ramai mendorong pengesahan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS), penggemar-penggemar fanatik dari Indonesia ini justru mendukung pelaku pelecehan seksual.

Di mana pun kita bisa melihat bahwa kelompok yang fanatik, baik itu terhadap agama, ideologi, atau selebriti, sama-sama memiliki filter pikiran yang hitam-putih. Idolanya adalah benar dan yang kontra dengan mereka adalah salah. Dalam Psychology Today dikatakan, bukan apa yang mereka percaya yang membuat mereka fanatik, tapi bagaimana mereka mempercayainya. Bahwa mereka memiliki kesimpulan, dan mereka tidak perlu mempertimbangkan bukti lebih lanjut, serta tidak perlu bertanya-tanya atau meragukan diri mereka lagi.

Maka dari itu sulit untuk beradu argumen dengan kaum fanatik. Taklid buta adalah satu-satunya hal yang mereka percaya. Itulah kenapa jiwa militansi penggemar fanatik pasti terlihat di lini masa pada saat-saat seperti ini. Walaupun saat ini penggemar laki-laki semakin banyak, tetapi bisa kita yakini bahwa penggemar perempuan selalu lebih banyak. Sangat disayangkan jika mereka belum menyadari betapa buruknya pelecehan seksual, dan sedikit atau bahkan sama sekali tidak memahami tentang pemberdayaan perempuan.

Ketika fanatisme bergabung dengan ketidakpahaman tentang pelecehan seksual dan pemberdayaan perempuan, maka apa yang harus kita lakukan? Kita harus memberi seruan agar penggemar fanatik berhenti mendukung selebriti pelaku pelecehan seksual. Bersikap diam saja pada penggemar fanatik seperti ini bukan pilihan yang baik, meskipun tidak menghiraukan mereka juga tidak ada ruginya.

Menurut Huffington Post, ada dua dari sejumlah cara yang bisa kita harapkan untuk mereduksi fanatisme secara umum. Cara-cara tersebut adalah memberikan mereka rasa tanggung jawab terhadap komunitas dan mengedukasi mereka untuk membedakan fakta sebenarnya dari kepalsuan tersembunyi. Dan masih menurut sumber yang sama, salah satu faktor pendukung fanatisme adalah rasa nyaman menjadi bagian dari sebuah komunitas tertutup yang memiliki pemikiran serupa. Jika kita bisa memberikan rasa nyaman berupa citra sebagai bagian dari komunitas seluruh perempuan, maka penggemar fanatik perempuan akan mampu merasakan empati terhadap korban-korban pelecehan seksual yang dilakukan idolanya.

Karena pada dasarnya semua perempuan di dunia ini adalah satu komunitas, maka kita bisa mengembalikan pada mereka, apa yang akan mereka lakukan jika ada orang lain melukai bagian dari komunitasnya. Seharusnya ketika anggota dari sebuah keluarga dilukai, yang lain ikut terluka, bukan? Maka, sebagaimana merujuk pada dua cara tadi, dalam obrolan singkat di Instagram, mungkin kita bisa menanggapi secara singkat agar mereka mempelajari tentang pelecehan seksual dan implikasinya, serta tentang pemberdayaan perempuan. Saran-saran ini dapat memberikan rasa tanggung jawab terhadap komunitas, dan memberikan edukasi untuk membedakan fakta dari kepalsuan.

Kira-kira mungkin itu hal paling sederhana yang bisa kita lakukan untuk menyeru pada penggemar-penggemar fanatik. Kita memang tidak bisa berharap terlalu tinggi, tapi kita tetap perlu berupaya. Saya kira menanggalkan akal sehat hanya untuk sok bersikap patriotik pada idola adalah perbuatan dangkal. Penggemar fanatik K-Pop memang memiliki sejarah panjang, tapi sudah waktunya dukungan terhadap  idola berperilaku kriminal sudah kita hilangkan dari sejarah tersebut. Mari kita tetap menikmati musik K-Pop tanpa mencederai kemanusiaan dan rasionalitas.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Novi adalah penulis lepas yang mencoba hidup seperti masyarakat Skandinavia. Ia memuja kehidupan sederhana namun berarti seperti di Little Forest.