July, 05 2018
Warga Perempuan Bergerak Lawan Intoleransi dan Radikalisme

Sejumlah LSM menghimpun massa perempuan dan membangunkan warga perempuan bahwa mereka tidak sendirian dalam melawan intoleransi dan radikalisme.

by Tabayyun Pasinringi
Issues // Politics and Society
Share:
Libur Hari Raya Idulfitri menjadi momentum berkumpul dan menjalin kebersamaan dengan keluarga. Namun, “Siska” mengalami insiden yang sedikit bertentangan dengan semangat silaturahmi itu pada Lebaran tahun ini. Salah satu keponakannya yang baru lulus kuliah menolak bersalaman dengan paman yang tidak sedarah dengannya.

“Saya bersaudara dengan ibunya, jadi suami saya tidak ada hubungan darah. Maka dia bilang seperti ini ‘Maaf, Om, kita tidak bersaudara. Mohon maaf saya tidak bisa bersalaman.’ Untuk bersalaman saja tidak mau,” ujar Siska dengan wajah terheran-heran.
Ia menambahkan bahwa keponakannya juga tidak ingin menerima pemberian apa pun dari orang tuanya karena mereka bekerja di bank yang tidak menggunakan sistem syariah.

“Saya bilang (ke ibunya) saya tidak punya otoritas tentang anakmu (untuk mengubah pola pikir) karena dia melihat saya bukan seorang muslim yang baik,” ujarnya.

Siska mengatakan keponakannya berubah sejak mengikuti pengajian di salah satu masjid besar di daerah Jakarta Selatan. Hal tersebut membuat Siska resah karena perilaku intoleran dan ajaran radikal sudah merambah ke ranah keluarga.
Pengalaman Siska hanya satu dari banyak perilaku intoleran lain yang kemudian menjadi salah satu  alasan dibentuknya Warga Perempuan Bergerak (WPB).



Koordinator Warga Perempuan Bergerak, Sabrina Fitranty mengatakan, WPB dibuat karena situasi radikalisme, intoleransi, dan terorisme sudah dalam tahap gawat darurat.

Aksi teror bom di Surabaya yang melibatkan perempuan dan anak-anak juga menjadi pendorong besar lahirnya WPB, ujar Sabrina yang merupakan konsultan indpenden dan konselor untuk kekerasan domestik terhadap perempuan.

“Kami membentuk WPB ini atas keprihatinan, kemarahan, dan kemuakan akan isu dan insiden berkaitan dengan intolernasi, radikalisme, dan terorisme yang marak terjadi di Indonesia,” ujarnya pada Deklarasi Warga Perempuan Bergerak di Restoran Bumbu Desa, Jakarta, Selasa (3/7).

Sabrina menambahkan bahwa sebagai koordinator dia ingin menghimpun massa perempuan dan membangunkan warga perempuan bahwa mereka tidak sendirian dalam melawan intoleransi.

“Jadi kami mau menghimpun warga perempuan dan menggerakkan. Terus menginspirasi bahwa mereka tidak sendirian dan banyak memiliki perasaan yang sama,” ujarnya.

WPB sendiri terdiri dari tujuh lembaga swadaya masyarakat (LSM), seperti Komunitas Insan Psikologi Indonesia di Jakarta, Rumpun di wilayah Bandung, dan Himpunan Serikat Perempuan Indonesia (HAPSARI) di Sumatra Utara, yang semua memiliki tujuan sama, yaitu melawan intoleransi dan radikalisme.

“Idenya bukan membentuk organisasi, tapi kami sebagai warga perempuan yang peduli. Jadi ekspresi kami ekspresi warga,” ujar Arimbi Heroepoetri, Direktur Eksekutif PKP Berdikari.

Dalam pembacaan deklarasi, Laili Zailani, Ketua Dewan Pengurus HAPSARI, organisasi massa perempuan akar rumput di Deli Sedang Sumut, mengatakan perempuan adalah populasi terbesar di Indonesia dan WPB merasa perlu untuk memperjuangkan kepentingan serta pendapat kaum perempuan agar menjadi perhatian para pengambil keputusan. Sehingga sumbangan suara serta aksi perempuan dalam pembangunan keadaban bangsa dihargai dan dihormati.

“Kondisi ini merusak masa depan anak dan generasi muda sebagai penerus keberlangsungan keberadaan bangsa. Hal ini tidak bisa diatasi hanya dengan berdiam diri. Karena itu kami sadar bahwa sudah saatnya ada aksi nyata untuk menangkal segala kegiatan yang merobek pelangi kebangsaan kita,” lanjut Sely Martini, seorang aktivis anti korupsi dan menjadi perwakilan Rumpun dalam deklarasi WPB.

Karena terdiri dari komunitas dan organisasi dengan identitas dan wilayah berbeda, WPB mengajak warga melawan intoleransi dan radikalisme sesuai dengan kebutuhan wilayah masing-masing.

“Karena Indonesia sangat beragam jadi pendekatannya juga berbeda, tidak bisa disamaratakan,” kata Sabrina.

Rumpun misalnya, yang merupakan ruang media perempuan untuk membangun keluarga berintegritas, melakukan pendekatan dengan seni untuk menanggapi isu intoleransi. Lalu Insan Psikolog Indonesia yang mengembangkan edukasi psikologi dengan mengundang enam psikolog untuk berbincang dengan komunitas mengenai cara meningkatkan perlawanan terhadap bahaya radikalisme dimulai dari keluarga.

“Sebenarnya bebas saja cara melawan karena masing-masing punya kapasitas dan kemampuan yang berbeda. Jadi nanti akan mengimbau warga perempuan, terserah melawan dengan seni budaya atau media sosial. Tapi memang tujuan kita akan menciptakan program lewat Forum Discussion Group (FDGs),” ujar Sabrina.

Dia menambahkan, WPB akan membuka ruang berdialog serta berdiskusi bersama warga untuk menemukan ide atau gagasan baru melawan intoleransi dan radikalisme.

“WPB kemudian akan menyatukan gerakan yang sudah dilakukan selama ini dalam satu semangat perlawanan bersama melawan intoleransi dan radikalisme,” tambah Laili.

 Baca juga tentang kelompok-kelompok Islam yang menentang feminisme.