“Banyak laki-laki di desa, kenapa tidak ngambil? Kenapa harus perempuan? Apakah dia bisa memimpin?”
Kristina sering mendengar ungkapan itu dari orang-orang di sekitar. Hal tersebut menjadi tantangan baginya, sejak menjabat sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), di sebuah desa di Sumba Timur pada 2022. Menurut Kristina, orang-orang di desa mengasumsikan ia akan melakukan korupsi karena memegang banyak uang. Kemampuannya sebagai pemimpin pun diragukan, hanya karena Kristina seorang perempuan.
Baca Juga: Kenapa Kita Butuh Perempuan Jadi Pemimpin di Desa?
Namun, Kristina mengabaikan omongan orang-orang di desa. Ia menjalankan tugas dan tanggung jawab yang sudah dipercayakan. Sebab, Kristina berprinsip mencoba sekuat mungkin dan memaksimalkan kesempatan yang ditawarkan.
Sebagai direktur BUMDes, Kristina berperan memimpin kelompok perempuan untuk meningkatkan kapasitas mereka. Contohnya membuat bakul dan kain tenun ikat untuk suvenir, yang bermanfaat untuk menambah perekonomian rumah tangga. Selain itu, Kristina juga sempat mengelola kios usaha tani, untuk membeli dan memasarkan hasil tani.
Perjalanan Kristina menjadi direktur BUMDes, berawal dari pelatihan program ENVISION (Enabling Civil Society for Inclusive Economic Development), yang dilaksanakan pada 2020 sampai 2023 oleh Wahana Visi Indonesia—sebuah yayasan sosial kemanusiaan Kristen, yang tak membedakan suku, ras, agama, maupun gender. Program tersebut bertujuan meningkatkan pembangunan ekonomi desa, dengan memberdayakan organisasi masyarakat sipil yang beranggotakan perempuan dan pemuda.
“Kami melihat banyak potensi alam dan warisan budaya di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang bisa dikembangkan. Untuk itu, Wahana Visi Indonesia hadir untuk memberdayakan masyarakat. Bukan sekadar mendampingi, tapi mendorong masyarakat supaya bisa bergerak dan maju secara mandiri dengan menggali potensi dan keunikan yang mereka miliki dan bisa ditawarkan,” ungkap National Director Wahana Visi Indonesia, Angelina Theodora.
Tak dimungkiri, dukungan keluarga juga berperan dalam perjalanan Kristina sebagai direktur BUMDes selama tiga tahun terakhir. Misalnya suaminya, yang bersedia melakukan pekerjaan rumah tangga. Ini membuat Kristina tak terbebani peran domestik, karena bisa membagi tanggung jawab tersebut.
“Suami saya ikut masak dan beres-beres rumah,” cerita Kristina.
Baca Juga: Rambu Dai Mami, Pemimpin Perempuan dari Tanah Sumba
Pentingnya Dukungan Laki-laki
Dukungan suami Kristina dalam pekerjaan domestik, termasuk hal “tak biasa” di NTT. Budaya patriarki yang melekat di masyarakat menempatkan laki-laki dalam posisi yang diprioritaskan, sedangkan perempuan sebagai warga kelas dua. Contohnya saat menghadiri pesta pernikahan atau acara adat, tamu laki-laki duduk di bagian depan, sementara perempuan di belakang. Pembagian makanan pun diutamakan bagi laki-laki terlebih dahulu, dan perempuan mendapatkan yang tersisa.
Sebagai laki-laki yang menormalisasi pekerjaan domestik, Bapak Nelson—seorang kepala desa di Kupang—sempat dianggap aneh oleh warga, karena membersihkan sayur. Kemudian, ia mengajak bapak-bapak untuk terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, seperti memasak, cuci piring, menyapu, dan mengepel melalui program ENVISION. Hasilnya, bapak-bapak mulai ikut memasak.
“Lama-lama warga mengikuti jejak kami. Jadi istilah-istilah kalau itu (pekerjaan domestik) itu pekerjaan perempuan, mulai hilang perlahan,” tutur Nelson.
Selain itu, ketika acara musyawarah desa, Nelson juga menyuarakan pada masyarakat, tokoh agama, dan pemuda, tentang pentingnya meningkatkan ekonomi warga secara inklusif. Yakni melibatkan perempuan dan disabilitas. Ia menjelaskan mengapa perempuan perlu diberikan kesempatan untuk bekerja, supaya penghasilan di keluarga juga bertambah.
Sementara di tingkat BUMDes, Nelson melihat, perempuan lebih aktif berpartisipasi sebagai direktur, sekretaris, dan bendahara. Mereka pun ikut musyawarah dan menyuarakan pendapat. Menurut Nelson, ini terjadi ketika perempuan diberikan ruang. Artinya, dengan adanya kerja sama antara laki-laki dan perempuan, perubahan bisa dimulai dari keluarga dan lingkungan sekitar.
Baca Juga: Kenapa Kita Masih Tak Percaya pada Politisi Perempuan?
Upaya tersebut juga menunjukkan, pentingnya dukungan serta partisipasi laki-laki dalam mendorong kesetaraan gender. Sebab, laki-laki dapat mengubah cara pandang, dengan mempraktikkan budaya yang lebih inklusif dan merangkul semua pihak.
Sementara ketimpangan gender, menurut Angelina, menjadi salah satu penyebab kemiskinan di Sumba yang tak mudah diputus. Ini dikarenakan laki-laki yang dibebankan sebagai pencari nafkah, dan perempuan hanya di ranah domestik. Namun, sejak perempuan juga berpenghasilan dengan menenun kain ikat, kondisi ekonomi keluarga membaik. Ini membuktikan bahwa perempuan dapat berkontribusi untuk membangun desa.
“Kami melihat kondisi masyarakat yang kami dampingi menjadi lebih baik, setelah perempuan berkesempatan untuk bekerja dan berkarya di kampungnya. Termasuk di Sumba,” ujar Angelina.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
















