May 01, 2019
Film ‘27 Steps of May’ Ingin Bantu Penyintas Kembali Melangkah

Film Indonesia baru menyoroti pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998 dari perspektif penyintas. Peringatan Pemicu.

by Elma Adisya, Reporter
Culture // Screen Raves
27th Steps of May_Film_Indonesia
Share:

Peringatan: Penyintas kekerasan seksual mungkin akan terpicu jika membaca ulasan berikut atau menonton film ini.

Dahi May (Raihaanun) dipenuhi bulir keringat. Matanya terus menatap waspada ke langit-langit kamarnya. Saat seisi rumah sudah tertidur pulas, ia tetap terjaga. Ketika pagi datang, ia menyetrika dan kemudian memakai rok terusan berkancing depan bernuansa krem kusam, sebelum menggelung rambut panjangnya dengan rapi.

Ketukan pintu kamarnya merupakan penanda bagi May bahwa sudah waktunya untuk bekerja. Bapaknya (Lukman Sardi) sudah berdiri di depan pintu kamar untuk membantunya mengangkat meja kecil tempat May menjahit baju-baju boneka Barbie pesanan. Tidak ada percakapan sama sekali di antara keduanya. Sesekali Bapak melirik dan memperhatikan May dengan tatapan khawatir.

Sudah delapan tahun rutinitas May sehari-hari tidak berubah. Ia lebih banyak diam dan berbicara dengan tatapan mata saja. May adalah korban pemerkosaan pada kerusuhan Mei 1998, saat ia masih berumur 14 tahun dan sekolah di SMP. Sejak peristiwa itu, ia tidak pernah lagi melangkahkan kaki keluar rumahnya.

May dan pergulatannya melawan trauma kekerasan seksual merupakan fokus film 27 Steps of May, karya sutradara Ravi L. Bharwani dan penulis skenario Rayya Makarim, yang didasarkan pada pemerkosaan sejumlah perempuan keturunan Cina pada kerusuhan Mei 1998.

“Film ini semacam alegori dari apa yang terjadi pada waktu itu. Kisah May ini sangat universal, siapa saja bisa mengalami, siapa saja bisa menjadi korban kekerasan seksual,” ujar Rayya dalam pemutaran film untuk wartawan, Selasa (23/4) di Plaza Indonesia.

Adegan film lebih banyak mengambil latar tempat di ruang makan dan kamar May, namun film ini berhasil membangun suasana yang intens dan menegangkan lewat detail-detail kecil yang dilakukan May. Penonton dibuat ngilu ketika May, yang diperankan dengan sangat baik oleh Raihaanun, menghadapi kepanikan akibat trauma dengan melukai pergelangan tangannya dengan silet.

Detail lain yang menarik adalah penggunaan nuansa warna, dari monoton dan tidak bersemangat menjadi semakin beragam ketika May mulai bangkit semangat hidupnya.

Tidak hanya menggambarkan penderitaan yang dihadapi May sehari-hari, 27 Steps of May juga mengambil sudut pandang Bapak yang terus-menerus merasa bersalah karena menganggap dirinya tidak becus menjaga putrinya dari kejadian tersebut. Untuk melampiaskan kemarahannya, tiap malam Bapak pergi ke arena tinju untuk bertarung.

Apa yang dinarasikan dalam film 27 Steps of May merupakan gambaran nyata dari penderitaan dan beban yang dialami oleh para penyintas kekerasan seksual. Bagi banyak penyintas, untuk memulai membicarakan apa yang terjadi pada dirinya saja membutuhkan waktu yang cukup lama, bahkan bisa bertahun-tahun, atau mungkin puluhan tahun. Dan trauma tersebut tidak akan hilang. Belum lagi, jika ada pihak-pihak yang menyalahkan korban, beban yang dibawa oleh korban semakin korban dan mengakibatkan korban bungkam.

Menarik untuk melihat bagaimana May dibantu tokoh pesulap (Ario Bayu) yang  menstimulasi beragam emosi yang selama ini May  pendam, melalui interaksi-interaksi kecil yang dilakukan oleh si pesulap. Dari celah kecil yang menghubungkan kamar May dengan ruangan si pesulap, May belajar untuk pulih dan berani membicarakan apa yang ia hadapi. Sayangnya, tokoh ini dan tokoh Bapak membuat film ini seperti mengamini male savior complex di mana hanya laki-laki yang diyakini bisa menyelamatkan perempuan.

27 Steps of May pertama kali ditayangkan di Busan International Film Festival pada September 2018. Film berdurasi 112 menit ini juga telah menyabet dua penghargaan, yaitu sebagai film terbaik  (Golden Hanoman Award) dan film panjang Asia terbaik di Jogja- NETPAC Asian Film Festival pada November 2018. Pada Festival Film Tempo 2018, Rayya Makarim terpilih menjadi penulis skenario pilihan Tempo, dan Raihaanun sebagai Aktris Pilihan Tempo.

Ada baiknya untuk tidak menonton film ini sendirian, terutama jika memiliki trauma kekerasan dan kecenderungan depresi, agar ada pihak yang bisa menguatkan.

Baca bagaimana mendampingi teman yang memiliki dorongan ingin bunuh diri.

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo