‘Next Time Will be Our Turn’: Bagaimana Perempuan Queer Tionghoa Menolak Diam
Peringatan: Spoiler!
Keluarga Chen selalu punya seribu satu cara mencuri perhatian. Namun kehadiran Nainai dalam perayaan Tahun Baru Imlek malam itu benar-benar tak tertandingi. Izzy Chen, 16 tahun, terpaku saat sang matriark melangkah masuk. Di usia 73 tahun, Nainai masih tampak anggun dalam balutan qipao merah. Posturnya tegak, langkahnya mantap, kehadirannya menguasai ruangan.
Awalnya, sorot mata para tamu tertuju pada kemegahan Nainai. Kekaguman itu segera berubah menjadi ketegangan. Di lengannya bertaut seorang perempuan Kaukasia berambut perak. Gestur mereka intim: Bertatapan, tubuh saling condong, jarak rapat.
Ibu Izzy terdiam dalam syok, lalu murka. Kerabat lain merasa dikhianati. Selama ini, Nainai dikenal sebagai istri setia mendiang suaminya. Ketakutan akan runtuhnya reputasi keluarga menjalar cepat di antara para tamu.
Nainai justru menikmati kekacauan itu. Ia tersenyum nakal, mengunci pandangan dengan Izzy, lalu mengedipkan mata. Ia berjinjit dan mencium perempuan tersebut—ciuman romantis ala film Hollywood—meruntuhkan citra nenek dan istri “sempurna” Indonesia-Tionghoa dalam satu gerakan.
Baca Juga: ‘Invisible Women’: Data Laki-laki yang Utama, Perempuan Nanti Saja
Menjadi Perempuan Indonesia-Tionghoa yang “Sempurna”
Izzy menyaksikan momen itu dengan kekaguman. Ia belum memahami peristiwa tersebut akan mengubah hidupnya. Nainai, bernama asli Magnolia, kelak membuka rahasia terbesar tentang hidup yang dihabiskan untuk melepaskan diri dari tuntutan sosial yang mengekang perempuan.
Pengakuan Magnolia menjadi jantung novel Next Time Will Be Our Turn karya Jesse Sutanto. Dengan latar 1990-an hingga awal 2000-an, Jesse memotret badai kehidupan Magnolia sejak remaja hingga dewasa.
Pembaca diajak menyelami benturan identitas berlapis: Perempuan, queer, dan bagian dari etnis Indonesia-Tionghoa. Kisah ini memperlihatkan perjuangan panjang mencari ruang hidup autentik di tengah masyarakat dengan tuntutan peran ketat.
Magnolia tumbuh dalam kultur Indonesia-Tionghoa yang kaku. Nilai tradisional dan peran gender tidak memberi ruang tawar. Anak perempuan lahir dengan peta hidup yang sudah digambar orang tua. Kesuksesan tidak diukur dari pencapaian personal, melainkan dari kemampuan menjaga citra keluarga melalui pernikahan “tepat”.
Sejak kecil, Magnolia dididik menjadi “perempuan baik-baik”. Ia diajarkan tidak berbicara lantang, tidak menonjolkan pendapat, dan selalu menjaga penampilan agar terhindar dari gunjingan. Perempuan Tionghoa ideal menjadi simbol kepatuhan dan kerendahhatian—being modest.
Orang tua Magnolia mendorongnya masuk universitas ternama. Dukungan itu menyimpan agenda lain. Pendidikan tinggi berfungsi sebagai modal simbolis.
Vanessa L. Fong, Profesor Sosiologi Amherst College, dalam studi China’s One-Child Policy and the Empowerment of Urban Daughters menunjukkan investasi pendidikan pada anak perempuan sering menjadi strategi hypergamy atau menikah ke atas. Pendidikan meningkatkan nilai tawar di pasar pernikahan, bukan membangun kemandirian finansial. Instrumen ini memperkuat citra keluarga, bukan membebaskan individu.
Magnolia sempat menjadi produk hampir sempurna dari sistem tersebut. Ia anak emas yang patuh, hingga dikirim ke Los Angeles untuk menempuh pendidikan. Di sana, ia bertemu Ellery, mahasiswa lesbian Amerika yang hidup terbuka tanpa beban ekspektasi keluarga.
Ellery menjadi antitesis dari nilai yang ditanamkan pada Magnolia. Ia tidak menyembunyikan jati diri dan tidak hidup demi penilaian orang lain. Kedekatan dengan Ellery memberi Magnolia keberanian melepas topeng. Ia belajar mengemudi, mencoba gaya berpakaian yang selama ini dilarang ibunya, dan bergaul di luar lingkaran etnis.
Namun ketika Magnolia menyadari perasaannya pada Ellery melampaui persahabatan, gejolak batin justru menghantamnya. Tekanan keluarga dan masyarakat telah berurat akar. Menjadi Indonesia-Tionghoa “sempurna” berarti menjadi heteroseksual.
Tekanan ini sejalan dengan laporan The Jakarta Post 2022 berjudul Hide and Seek: Being LGBT and Chinese Indonesian. Stephanus Budiman, seorang gay Indonesia-Tionghoa yang menetap di Melbourne, mengakui ia tidak bisa pulang ke tanah air jika ingin tetap jujur pada dirinya sendiri.
“Because I am gay, I know that I won’t be able to live a happy life in my own home country,” ujar Stephanus. Ia menilai komunitas Indonesia-Tionghoa masih sangat queerphobic, membuat banyak kelompok LGBT hidup dalam persembunyian akibat minim solidaritas internal.
Pengalaman serupa dialami Magnolia. Ia takut dicap sebagai “produk gagal” keluarga. Ketakutan itu mendorongnya menyangkal cintanya pada Ellery, memaksakan ketertarikan pada laki-laki, hingga Ellery memilih pergi ke London.
Kehilangan itu menjadi titik Magnolia memutuskan “mati secara jiwa”, kembali ke Indonesia, dan masuk lagi ke kepompong sebagai putri Indonesia-Tionghoa ideal.
Baca Juga: “Bagaimana Cara Mengatakan ‘Tidak’?” Tampilkan Perempuan di Lingkaran Kekerasan
Patriarki, Kekerasan di Ruang Privat, dan Harga Kepatuhan
Kepulangan Magnolia berujung pada pernikahan yang tampak sempurna di mata publik. Ia menikah dengan Parker, menantu idaman: Terpelajar, berasal dari keluarga terpandang, dan pewaris klinik medis sukses. Magnolia mengira mengikuti jalur “benar” membawa kedamaian.
Parker tidak memukul Magnolia, tetapi melakukan pembunuhan karakter perlahan. Ia mengontrol pakaian, relasi sosial, dan ruang bicara istrinya. Ia merasa terancam oleh kecerdasan Magnolia. Setiap ide yang lahir dari Magnolia diredam di rumah, lalu diklaim Parker di ruang publik.
Ketika Magnolia mengusulkan pengembangan klinik kesehatan mental, Parker menolaknya. Ia tidak ingin istrinya bekerja lebih keras dari dirinya. Magnolia diposisikan sebagai pajangan: diam, cantik, patuh.
Retakan mulai muncul saat Magnolia menyaksikan tragedi kakaknya, Iris. Berbeda dari Magnolia, Iris dikenal pembangkang. Ia menolak standar keluarga, menentang budaya keperawanan, dan memilih jalannya sendiri. Namun keberanian itu runtuh di ruang domestik. Iris mengalami kekerasan dalam rumah tangga sejak pacaran.
Ironisnya, orang tua mereka tidak menunjukkan empati. Iris dianggap istri tidak baik karena memicu kemarahan suami. Magnolia yang mendesak pelaporan justru dicegah. Keselamatan anak perempuan kalah penting dibanding muka keluarga.
Sikap ini mencerminkan konsep mianzi. Dalam Etnis Tionghoa di Indonesia, sosiolog Mely G. Tan menjelaskan menjaga mianzi bukan urusan individu, melainkan upaya kolektif mempertahankan status keluarga. Kehilangan muka dipandang sebagai bencana sosial.
Magnolia akhirnya melawan. Ia dan Iris dibuang, lalu membangun hidup sendiri hingga Iris melahirkan Hazel. Kebebasan itu singkat. Iris meninggal, dan hak asuh Hazel dipertaruhkan.
Baca Juga: ‘As Long As Lemon Trees Grow’: Trauma dan Perlawanan dalam Konflik Suriah
Magnolia menyadari dunia berdiri di atas fondasi heteropatriarki. Jika ia bercerai, hak asuh terancam karena ketiadaan aset. Jika ia menikahi Ellery, sistem tetap menolak karena mereka pasangan queer.
“Pada akhirnya, patriarki akan selalu mengalahkan kita. Sistem ini memang dirancang untuk membuat kita gagal di setiap kesempatan,” ujar Magnolia.
Magnolia kembali ke Parker, menyembunyikan identitas queer-nya hingga Parker meninggal. Semua demi Hazel, di dunia yang tidak setara.
Kisah Magnolia mencerminkan realitas banyak lansia queer. Laporan Out & Visible: The Experiences and Attitudes of LGBTQ+ Older Adults (2025) mencatat sekitar 34 persen lansia LGBTQ+ menyembunyikan identitas demi keamanan finansial dan dukungan keluarga, fenomena yang disebut delayed authenticity.
Bagi Izzy Chen, pengakuan Nainai bukan sekadar skandal keluarga. Itu warisan keberanian. Ciuman di malam Imlek menjadi penanda, kini giliran generasi berikutnya hidup tanpa topeng yang menghancurkan jiwa neneknya.




















