March, 21 2018
3 Alasan Utama Budaya Patriarki Masih Melekat di Masyarakat

Hipotesis mengenai mengapa perempuan masih saja dianggap warga kelas dua.

by Farrah Aulia Azliani
Issues // Gender and Sexuality
Share:


Minggu lalu, saya berangkat sekolah dengan naik ojek daring seperti biasa, karena mudah diakses dan cepat sampai tujuan. Sang pengemudi sepertinya sedang tidak dalam suasana hati yang enak, mungkin sedang dilanda masalah, terlihat dari nada bicaranya yang selalu agak tinggi dan cara mengendarai sepeda motor yang serampangan.

Kemudian sampailah kami pada penghujung jalan yang bercabang dua. Ke kanan menuju jalan A, ke kiri menuju jalan B. Saya biasa lewat jalan A yang biasanya tidak macet dan ruas jalannya lebih besar. Namun, pengemudi ini bersikeras lewat jalan B karena menurutnya itu jalur tercepat dan tidak macet. Padahal setahu saya, jalur itu sempit sehingga jika macet kita akan terjebak di situ. Saya kemudian pasrah saja, karena pengemudi ini begitu sewot jadi saya enggan berdebat.

Benar saja dugaan saya, kami terjebak kemacetan di jalan yang sempit itu. Setelah beberapa lama, baru kami berhasil menerobos kemacetan dan menembus jalan tikus yang membawa kami ke… jalan A! Saya pun habis kesabaran lalu berkomentar, “Tahu gitu dari tadi kita belok kanan aja mas, jadi enggak harus ngelewatin macet”. Ia naik pitam mendengar celetukan saya.

“Mbak ini dari tadi bawel banget! Saya pengemudinya, saya yang tahu! Mbak tinggal duduk diem aja nurut sama saya!” Saya terpancing perdebatan hebat sampai  kemudian pengemudi itu mengembalikan uang saya dan menurunkan saya di pinggir jalan. Mungkin karena tidak tahan dengan saya yang terus membalas semua ucapannya.



Kesan yang saya dapat dari pengemudi itu adalah karena saya anak kecil dan perempuan, jadi saya tidak boleh mengeluarkan pendapat saya. Saya hanya diperbolehkan untuk duduk diam dan mengikuti semua keputusannya walaupun keputusannya tidak tepat. Saya miris sekali dengan masih adanya laki-laki atau masyarakat di luar sana yang masih berpikir perempuan adalah manusia nomor dua setelah laki-laki, dan pendapatnya sering kali dianggap lalu. Saya yakin jika saya laki-laki, meskipun saya tetap anak kecil, paling tidak ia akan mendengarkan saya dan tidak akan menurunkan saya di pinggir jalan.

Memang di mana pun perempuan sudah banyak yang menempati posisi memimpin, seperti di ranah politik, ekonomi, pemerintahan dan lain-lain. Tapi untuk dapat menempati posisi tersebut, kami para perempuan harus berusaha dua kali lipat dari para laki-laki. Kami para perempuan seperti harus membuktikan diri kepada masyarakat bahwa sebagai perempuan kami juga bisa melakukan sesuatu yang dianggap “pekerjaan laki-laki”. Menurut saya, hal seperti ini masih belum bisa disebut kesetaraan gender.

Kemudian saya membuat tiga hipotesis singkat berikut mengenai mengapa masih ada kesenjangan gender dan budaya patriarki yang masih ada di setiap lapisan masyarakat.
 
1. Peran Orang Tua

Menurut saya, akar dari semua perilaku patriarkal kebanyakan bersumber dari lingkungan sekitar tempat tinggal dan orang tua. Sejak kecil, banyak keluarga yang mengarahkan anak laki-laki untuk bermain mobil-mobilan atau bermain bola karena itu dianggap lebih “macho” dan kuat dibanding bermain boneka. Boneka dianggap seperti permainan yang sudah disegmentasikan secara paten untuk perempuan karena bersifat mengasuh sebagaimana kodratnya, menurut pendapat masyarakat umum. Pembentukan awal laki-laki yang diarahkan menjadi kuat dan macho sedangkan perempuan mengasuh boneka saja di rumah, adalah bibit dari masyarakat patriarki.

Pola pikir ini akan menuntun laki-laki ke depannya untuk mempunyai hasrat atas otoritas terhadap perempuan karena menganggap dirinya lebih kuat secara fisik dan psikis. Jika di lingkungan tempat tinggalnya tidak ada edukasi yang memadai tentang kesetaraan gender apalagi untuk menghargai semua gender, bagaimana ia bisa mengaplikasikannya ke sekolah, kantor atau bahkan kepada mbak warung dekat rumahnya?

2. Konstruksi Sosial Masyarakat tentang Laki-Laki

Sering dengar ungkapan masyarakat seperti “Laki-laki enggak boleh nangis! Kayak perempuan aja, lemah!” atau “Masa gaji suami lebih rendah daripada istri, malu lah!”? Baik, pihak laki-laki maupun perempuan sangat dirugikan dengan ungkapan ini. Selain menghujani laki-laki dengan berbagai tuntutan, ungkapan ini juga menganggap perempuan sebagai manusia yang derajatnya tidak boleh lebih dari laki-laki.

Laki-laki diwajibkan untuk membayar tagihan, bekerja banting tulang, memimpin rumah tangga dan lain-lain. Laki-laki juga dipaksa untuk tidak menunjukkan emosinya secara berlebih seperti menangis karena akan dianggap lemah, padahal tidak ada tolok ukur pasti tentang kelemahan itu sendiri. Laki-laki dibebani tanggung jawab superior secara fisik, psikis maupun finansial yang begitu banyak sehingga sering kali berakhir pada kesimpulan pola pikir laki-laki berhak mengatur ini itu terhadap perempuan. Karena laki-laki merasa sudah ditekan sana-sini oleh masyarakat,  jadi seakan punya kewajiban untuk mengarahkan perempuan. Padahal alangkah baiknya jika kita bisa membagi tugas superior ini dengan adil untuk mengurangi beban laki-laki maupun perempuan bukan?

3. Peran Media Dalam Menilai Substansi Seorang Perempuan

Berapa banyak iklan di media televisi, radio dan majalah yang kita lihat hanya mengedepankan nilai seorang perempuan dapat diukur dari kecantikannya saja? Sebagai contoh, premis cerita iklan produk A yang pada awalnya si tokoh utama perempuannya berkulit gelap (memang apa salahnya sih berkulit gelap?) dan tidak ada satu pun laki-laki yang meliriknya apalagi mendekatinya. Hidupnya menjadi abu-abu, datar, diiringi latar belakang musik  bernada minor dan kalau bisa hujan. Lalu tokoh pendukung datang, memberinya krim A dan voila! Kulit si tokoh utama perempuan jadi putih bersih bersinar sehingga ia didekati banyak laki-laki dan tiba-tiba hidupnya jadi berwarna sambil diiringi musik bernada riang. Selesai.

Iklan dengan premis cerita yang sangat mengedepankan opini lawan jenis ini membuat laki-laki merasa mereka adalah satu-satunya hal yang  membuat hidup perempuan bahagia. Mereka bagaikan penentu utama dari kepuasan fisik seorang perempuan. Maka, jika laki-laki mempunyai standar fisik tertentu untuk perempuan kita harus mengikutinya untuk menjadi bahagia. Padahal banyak sekali sifat-sifat perempuan (maupun laki-laki jika tokoh utama pada iklan adalah laki-laki) yang bisa dihargai selain cantik atau tampan. Misalnya, pekerja keras, optimis, pintar dan lain-lain. Sayangnya, iklan di kebanyakan media masih mengedepankan pujian lawan jenis berdasarkan fisik ini yang perlahan akan membentuk pola pikir masyarakat patriarki (lagi).

Memang, ada beberapa iklan yang sudah mengusung konsep yang bagus selain pemujaan fisik tetapi jumlahnya masih sedikit dan mirisnya karena pasar masih menginginkan premis cerita yang mudah dicerna alias kembali lagi ke premis cerita si krim A!
 
Menurut saya, pola pikir yang dibentuk oleh masyarakat seperti ini, sudah kita dengar setiap hari di lingkungan sekitar kita. Secara tidak sadar dan perlahan tapi pasti kita memaklumi semua itu seperti hal yang lumrah lalu berujung pada hidup berdampingan dengan bibit patriarki tersebut. Kita tidak mau bibit ini tumbuh dan menyebar luas bukan?

Farrah Aulia Azliani adalah seorang pembuat film amatir yang kritis terhadap cara kerja dunia dan kadang merasa umurnya lebih tua dari yang tertera di kartu tanda pengenalnya. Salah satu filmnya bisa ditonton di sini.

*Ilustrasi oleh Karina Tungari