January 26, 2026
Issues

5 Cara Laki-laki Berhenti Jadi ‘Anak Tambahan’ di Rumah

Banyak laki-laki merasa sudah “membantu” padahal masih menambah “mental load” pasangan, mulai dari minta diingatkan sampai menunggu disuruh.

  • January 26, 2026
  • 6 min read
  • 86 Views
5 Cara Laki-laki Berhenti Jadi ‘Anak Tambahan’ di Rumah

Sebagai laki-laki, saya sering merasa sudah cukup baik hanya karena tidak melakukan kekerasan dalam rumah tangga, transparan soal keuangan keluarga, dan tidak mengontrol ruang gerak pasangan. Saya merasa sudah jadi suami teladan karena gesit saat dimintai tolong, serta selalu bilang “terserah” ketika istri ingin melakukan apa saja.

Saya yakin ada banyak suami lain yang merasa seperti saya. Padahal semua itu baru bare minimum—hal yang memang sudah sepatutnya dilakukan setiap anggota rumah tangga, bukan prestasi. “Tidak menyakiti” belum sama artinya dengan “ikut merawat”.

Lalu saya mulai bertanya, pernahkah terpikir oleh kita, para suami (atau laki-laki lain di rumah), untuk mengambil inisiatif tanpa menunggu disuruh atau dimintai tolong?

Karena itu, saya ingin mengajak sesama suami mencoba eksperimen sosial kecil di rumah. Bagaimana kalau kita berhenti menunggu “dimintai tolong” dan mulai bergerak duluan? Mari coba beberapa hal sederhana di bawah ini, lalu perhatikan efeknya di rumah. Pasangan punya ruang bernapas, suasana lebih ringan, dan kita berhenti jadi sumber ‘tugas tambahan’. Kadang dampaknya lebih terasa daripada gestur romantis yang musiman karena ini menyentuh keseharian.”

Baca juga: ‘Mental Load’: Beban Tak Terlihat Perempuan Pemikul Kehidupan

​1. Ganti “Mah, Ingetin Aku Nanti Ya…” dengan memasang alarm di ponsel sendiri

​Ini kebiasaan yang sering terbawa tanpa sadar: “Mah, ingetin aku bayar internet ya tanggal 20,” atau “Mah, ingetin aku bawa jas hujan besok.” Pak, istri kita bukan asisten pribadi, loh. Bukan Google Calendar, dan juga bukan alarm berjalan.

Saat kita bilang “ingetin aku”, kita sedang menaruh beban mental (mental load) ke kepalanya. Dia jadi harus mengingat jadwalnya sendiri, jadwal anak, jadwal belanja, DAN jadwal kita. Itu sungguh melelahkan.

​Mulai hari ini, kalau ada sesuatu yang harus kita ingat, ambil ponsel, buka aplikasi kalender atau alarm. Catat sendiri. Biarkan ruang di kepala istri kita dipakai untuk memikirkan hal-hal yang lebih penting, bukan menjadi manajer kehidupan kita. Lebih baik lagi, bantu dia mengurangi to-do list-nya dengan berbagi beban rumah tangga.

​2. Ambil porsi duluan bukan minta dilayani

Budaya patriarki sering memanjakan kita. Pulang kerja, duduk, lalu teriak, “Mah, kopi dong.” Sekarang mari kita coba ubah  skenarionya. Daripada minta dibuatkan minuman seperti sedang di kafe, coba tawarkan duluan, “Mah, aku mau bikin kopi nih, mau aku buatin sekalian?”

​Atau saat lapar tengah malam, jangan minta dimasakin. Langsung ke dapur ambil wajan atau panci, lalu masak untuk berdua. Tidak perlu jago masak ala Chef Juna. Masak nasi goreng pakai bumbu racik atau mi instan juga enak, kok. Jangan lupa pakai telur ya, Pak. Ceplok atau dadar, terserah.

Itu hal sederhana, tapi dampaknya besar. Pekerjaan rumah tidak otomatis jadi ‘tugas pasangan’, dan kita tidak membangun kebiasaan minta dilayani.

Baca juga: Neverland, Manchild, dan Hidup yang Tak Pernah Bergerak Maju

3. Lakukan tanpa menunggu instruksi

Mari kita coba  lakukan pekerjaan rumah tanpa disuruh. Cek tempat sampah secara berkala. Sudah penuh? Ikat kantongnya dan buang ke depan, atau di mana pun tempat sampah lingkungan sekitar kita. Lihat piring menumpuk di bak cucian? Cuci, dong, minimal piring bekas kita makan.

Jangan menunggu istri teriak, “Pah, itu sampahnya udah bau!” baru kita bergerak. Karena bagi istri, harus “menyuruh” dulu itu rasanya seperti mengasuh anak kecil. Bergerak duluan tanpa disuruh sering terasa sangat menenangkan bagi pasangan.

​4. Biarkan istri punya “me-time

Saat kita pulang kerja, kita sering merasa “sudah selesai”. Padahal pekerjaan rumah dan pengasuhan jalan terus, dan seringnya, bebannya otomatis jatuh ke pasangan. Apalagi kalau ada anak kecil.

Coba sekali-sekali di hari libur, ambil alih tanpa menunggu diminta. Bilang begini:
“Mah, kamu mau ngapain biar istirahat? Salon, ngopi, jalan, atau tidur siang juga boleh. Hari ini anak-anak aku pegang.”

Bukan “mengizinkan” dia pergi, tapi memastikan ia punya waktu pulih—karena itu hak, bukan bonus. Dan ya, rumah mungkin lebih enggak rapi (walaupun saya tahu beberapa laki-laki bahkan lebih resik daripada istri). Dapur bisa berantakan. Tidak apa-apa. Yang kita latih bukan kesempurnaan, tapi kebiasaan berbagi beban.

Saat beban tidak ditanggung sendirian, ruang pulih itu nyata, dan ritme rumah jadi lebih masuk akal.

Baca juga: Perempuan Matang dan Laki-laki yang Belum Selesai

5. Jangan tunggu habis, belajar cek persediaan

Ini adalah bentuk invisible labor yang paling sering kita abaikan. Kita cuma tahu gas ada, sabun ada, shampo ada. Tapi kita enggak tahu kapan harus beli lagi.

Selama ini, yang sering mengecek dan mengingat detailnya biasanya pasangan, dan itu membuat beban mental menumpuk. Kita juga perlu tahu merek atau jenis yang cocok, jadwal beli, dan stoknya, karena itu bagian dari tanggung jawab bersama.

Mulai sekarang, mari kita amati sendiri Pak. Lihat tabung gas: kalau sudah terasa ringan, langsung telepon abang gas atau beli saja ke warung depan. Jangan lupa sekalian dipasang, Pak. Lihat botol sabun cuci piring: kalau udah tinggal seperempat, catat di notes ponsel atau langsung beli saat belanja bulanan, atau sempatkan beli sekalian pulang kerja.

Jangan tunggu istri bilang, “Pak, gas mau habis nih,” baru kita mikir. Karena kalau dia harus ngomong duluan, artinya dia udah mikirin itu sejak kemarin-kemarin. Dan otak dia sudah lelah mengingat hal-hal teknis yang seharusnya bisa kita handle sendiri.

Pro tip: Bikin shared notes di Google Keep atau aplikasi serupa. Tulis barang-barang rumah tangga yang perlu diingat. Jadi kalau ada yang habis, siapa saja bisa update dan siapa aja bisa action. Ini namanya kolaborasi, bukan delegasi.

Istri kita bukan inventory manager rumah tangga. Dia adalah partner hidup kita. Dan partner yang baik adalah yang sadar terhadap kebutuhan bersama tanpa harus selalu diingatkan.

Mengapa kita harus melakukan ini?

Ada satu hal yang sering luput. Selama ini, banyak pekerjaan tak terlihat di rumah berjalan karena pasangan kita terus “mengantisipasi”—mengingat jadwal, membaca situasi, memastikan rumah tetap berfungsi. Tanpa disadari, kita ikut menikmati hasilnya, sementara beban pikirnya menumpuk di kepala satu orang.

Lima langkah kecil di atas bukan soal jadi “suami baik” atau “membantu istri”. Ini soal membangun sistem yang lebih adil: tanggung jawab rumah tangga dikelola bersama, tanpa satu pihak harus jadi manajer, pengingat, sekaligus eksekutor. Ukurannya juga bukan “pasangan jadi selalu tersenyum”, tapi apakah beban keputusan kecil—dari stok rumah, jadwal, sampai urusan anak—bisa kita pegang dan jalankan tanpa menunggu disuruh.

Pada akhirnya, rumah tangga bukan kompetisi siapa paling benar atau paling berkuasa. Rumah tangga adalah kerja sama dua orang dewasa, supaya tidak ada yang hidup dengan mode “siaga” sendirian, dan tidak ada yang merasa terpaksa menjalankan semuanya.

About Author

Akhmad Yunus Vixroni