August 02, 2019
5 Novel Indonesia Bertema LGBT yang Wajib Dibaca

Mari dukung upaya para penulis yang menormalisasi isu LGBT dengan membaca buku-buku ini.

by Sheila Lalita
Culture
Share:

Intoleransi masyarakat Indonesia terhadap komunitas LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) semakin terasa menyedihkan. Menurut para kelompok intoleran, seseorang dapat terjangkit “virus” LGBT ketika mengonsumsi konten yang memuat karakter gay, lesbian, maupun trans, sehingga jika sebuah film sejenis Kucumbu Tubuh Indahku ditayangkan di layar perak, segala bentuk protes akan segera dilakukan demi menurunkan penayangan film tersebut.

Sayangnya, akibat pola pikir ini, konten yang memuat isu LGBT menjadi sulit ditemukan di negeri yang seharusnya memuliakan perbedaan ini. Ketakutan terhadap respons dari masyarakat pun biasanya menjadi alasan utama mengapa banyak orang enggan untuk mengangkat topik tabu ini. Sehingga ketika seorang penulis berani untuk menentang ekspektasi masyarakat dan menerbitkan sebuah karya yang mengangkat isu LGBT, hal tersebut justru menjadi sebuah hal yang mengejutkan. Bahkan inspiratif.

Salah satu novel bertema LGBT pertama yang terbit di Indonesia adalah Relung-relung Gelap Hati Sisi (1983) karya novelis produktif Mira W. Setelah itu, beberapa novel dari penulis lain bermunculan, namun yang paling populer mungkin Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh karya Dee Lestari.

Baca juga: 10 Film dan Serial TV Bertema LGBT yang Wajib Ditonton

Berikut adalah novel-novel pop kontemporer bertema LGBT yang menurut saya wajib dibaca. Yuk, kita dukung para penulis yang telah berupaya untuk menormalisasi isu ini dengan membaca buku-buku di bawah ini. Mungkin jika minat terhadap buku-buku bergenre LGBT banyak digemari, akan makin banyak buku dengan tema serupa yang diterbitkan.

1. Cowok Rasa Apel (2012)

Novel teenlit karya Noel Solitude ini mengisahkan seorang remaja SMA bernama Dimas yang sedang kasmaran. Seperti kebanyakan remaja lainnya, pusat perhatiannya kemudian tertuju pada siswa paling populer di sekolah. Ya, seorang murid laki-laki, namanya Erik.

Menjadi seorang gay bukan hal yang dianggap memalukan bagi Dimas. Ia pun dengan gigih berupaya untuk mendekatkan diri dengan Erik.

Kebanyakan orang mungkin merasa bahwa buku ini terlalu “aman”, dalam artian bahwa buku ini tidak mengangkat topik tabu lain selain kehidupan seorang remaja gay. Tapi hal tersebut justru menjadikannya sebuah buku yang menyenangkan untuk dibaca. Meski buku ini masih membahas isu-isu penolakan terhadap seorang lelaki gay, yang menjadi fokus utama tetaplah kisah cinta monyet Dimas. Perasaannya terhadap Erik akan mengingatkan para pembaca pada perasaan hangat yang timbul dari cinta pertama kita.

  1. Pencarian (2015)

Buku pertama dari trilogi Keris Tiga Naga ini berbeda dari buku-buku bertemakan LGBT lainnya, karena kisah cinta karakternya tidaklah menjadi fokus dari jalan cerita novel.

Ditulis oleh Yuu Sasih dan Aulyta, buku ini justru berkisah tentang Aga Adiwangsa yang sejak kecil selalu menghindari senjata-senjata pusaka yang dikoleksi oleh kakeknya. Alasannya satu, karena ia mampu melihat jiwa dari senjata itu. Namun, ketika kakeknya meninggal, jelas tertulis dalam surat wasiat yang ditinggalkannya bahwa Aga adalah pewaris perusahaan keluarga harus memiliki sebuah keris. Meski awalnya ia tak dapat merasakan jiwa keris tersebut, hidupnya kemudian berubah ketika ia mulai dirundung mimpi buruk.

Aga kemudian bertemu dengan Warangka, seorang jurnalis budaya yang tertarik untuk mempelajari kerisnya. Keduanya kemudian mulai menyelidiki misteri keris tersebut bersama-sama. Dalam prosesnya, mereka juga mulai mengungkap ketertarikan mereka pada satu sama lain.

Novel ini memberikan perspektif segar terhadap fiksi LGBT, yang tidak membuat seksualitas sebagai suatu hal yang harus dibesar-besarkan. Ketertarikan kedua tokoh terjadi secara alami, tanpa adanya konflik batin yang memaksa mereka untuk menaruh label pada rasa ketertarikan mereka. Buku ini dapat memuaskan mereka yang mencari fiksi yang menormalisasi karakter LGBT dalam jalan ceritanya, dan memperlakukan mereka layaknya karakter heteroseksual di novel pada umumnya.

  1. Gerhana Kembar (2007)

Penulis produktif Clara Ng menampilkan kisah tiga perempuan dari tiga generasi yang berbeda dalam buku ini. Dimulai dari sang cucu, Lendy, yang menemukan naskah-naskah yang menunjukkan hubungan neneknya dengan seorang perempuan. Naskah-naskah itu tidak hanya menghidupkan lagi perjalanan hidup sang nenek, namun juga merefleksikan hubungan Lendy dengan ibunya.

Selain berfokus pada sebuah pasangan lesbian, novel ini juga menceritakan tentang pengorbanan dan cinta seorang ibu. Kisah keluarga yang ada disajikan dalam tiga karakter perempuan lintas generasi menghasilkan sebuah cerita yang menyentuh dan bermakna bagi para pembacanya.

Sebelum Gerhana Kembar, Clara juga menulis Dimsum Terakhir (2006), yang salah satu karakternya adalah seorang laki-laki yang merasa terjebak dalam tubuh perempuan.

4. Jakarta Love Story (2013)

Novel ini mengisahkan tentang seorang lelaki bernama Rifai yang mendapati dirinya lambat laun menyukai Fabio yang ia temui di Lapangan Banteng. Rifai kemudian mengalami konflik batin karena ia merasa bahwa ia masih memiliki ketertarikan pada perempuan, sementara Fabio sendiri lebih yakin dengan perasaannya terhadap Rifai.

Sibuk lari dari perasaannya sendiri, Rifai baru merasakan artinya kehilangan ketika Fabio tiba-tiba hilang tanpa jejak. Konflik batin Rifai mungkin dapat menjadi sesuatu yang relatable bagi para pembaca, terutama bagi mereka yang masih mempertanyakan orientasi seksual mereka.

  1. Sanubari Jakarta (2012)

Untuk menutup judul-judul yang sudah saya kemukakan, buku ini saya rasa layak dianggap sebagai sebuah hadiah bagi komunitas LGBT. Buku ini memuat 10 cerita pendek yang dibuat berdasarkan film omnibus dengan judul yang sama. Laila Nurazizah berkonsultasi pada dua aktivis LGBT Dimas Hary dan Sri Agustine dalam penggarapan kumpulan cerpen ini.

Cerita yang disampaikan di dalamnya pun beragam. Dalam cerpen karya Hally Ahmad berjudul “Malam ini Aku Cantik”, dikisahkan seorang pria bernama Agus yang harus berpakaian layaknya perempuan demi membiayai hidup keluarganya. Ada pula cerpen yang menceritakan kenyataan pahit bahwa terkadang seorang lesbian maupun gay harus tetap menikah hanya untuk mendapatkan status sosial. Atau, bahkan cerita kocak tentang pasangan gay yang disela saat ingin bercinta. Mau menangis, tertawa, atau merasa tersentuh, semuanya tersedia di dalam buku ini.

Sheila Lalita adalah reporter magang Magdalene. Ia mahasiswa Hubungan Internasional yang gemar menulis sejak ia SMP. Sheila sendiri mulai mempertanyakan kenapa ia memilih Hubungan Internasional sebagai jurusan yang ia pilih.