February 24, 2024
Politics & Society

Hijab di Indonesia: Sejarah dan Kontroversinya

Tren peningkatan pemakaian hijab menjadi peluang bisnis pakaian yang sangat menggiurkan.

Avatar
  • March 5, 2019
  • 6 min read
  • 477 Views
Hijab di Indonesia: Sejarah dan Kontroversinya

Hijab di Indonesia sudah
menjadi lebih populer sejak dua dekade belakangan ini. Sejarah mencatat bahwa
budaya pemakaian hijab
sebenarnya ada sejak abad ke-17. Namun demikian perdebatan terkait dengan
hijab ini masih terjadi walaupun pemakai hijab di Indonesia semakin banyak dari
tahun ke tahun.

 

 

Seorang kepala
sekolah di Riau mendapatkan kecaman  setelah menyuruh siswi di
sekolahnya menggunakan hijab walaupun siswi tersebut bukan muslim. Sementara
itu publik juga dikejutkan dengan kasus seorang atlet judo perempuan dari
Aceh yang didiskualifikasi dari pertandingan di Asian Para Games 2018
karena memakai hijab.

Artikel ini
menganalisis budaya penggunaan hijab di Indonesia dan mengapa sampai saat ini
masih menjadi kontroversi.

Tidak ada data
yang pasti terkait dengan jumlah pemakai hijab di Indonesia secara menyeluruh.
Namun sebuah survei pada 2014
melaporkan ada sekitar 63,58 persen dari 626 responden perempuan muslim yang
mengatakan bahwa mereka telah memakai dan akan memakai hijab dan hanya sekitar
4,31 persen dari mereka yang tidak akan memakai hijab.

Tren peningkatan
pemakaian hijab ini menjadi peluang bisnis pakaian yang sangat menggiurkan.
Salah satu pasar hijab di Bandung, Jawa Barat melaporkan bahwa peluang bisnis
meningkat lima kali lipat dari Rp3 miliar pada 2012 menjadi Rp15 miliar
pada 2018. Hal ini juga berdampak positif terhadap perkembangan industri mode
yang diekspor dari Indonesia. Pada 2014, nilai ekspor Indonesia untuk pakaian
muslim mencapai AS$7,18 miliar, menurut data Kementerian Perdagangan.
Indonesia menempati urutan ketiga terbesar di dunia setelah Bangladesh dan
Turki.

Pada 2020,
Indonesia diperkirakan akan menjadi pusat pakaian muslim di dunia, menurut
Global Business Guide Indonesia.

Ragam model hijab

Berdasarkan
pengamatan saya, paling tidak ada tiga macam model hijab di Indonesia

  1. Hijab sederhana. Hijab model ini
    berukuran pendek sebahu dan ada banyak warna dan model. Model jenis ini
    paling populer dan pemakainya sampai sekitar 70 persen muslimah.
  2. Hijab konservatif. Hijab ini lebar,
    menutup seluruh tubuh bagian atas dan biasanya warnanya putih, hitam dan
    coklat. Beberapa orang menamakannya sebagai hijab syar’i atau
    hijab yang berdasarkan ajaran Islam. Hijab model ini digunakan oleh
    sekitar 10 persen oleh muslimah Indonesia.
  3. Hijab modis. Hijab model ini
    mempunyai beragam model dan warna. Kalangan menengah ke atas biasanya
    menggunakan hijab model ini. Harganya beragam dari berkisar Rp50 ribu
    sampai jutaan rupiah.

Hijab telah
menjadi bagian gaya hidup bagi banyak perempuan muslim di Indonesia. Banyak
selebriti yang mulai memakainya. Para selebriti ini kemudian menjadi acuan mode
hijab buat masyarakat.

Salah satunya
adalah desainer Dian Pelangi. Dian dan 30 temannya mendirikan Hijaber Community
(HC) pada 2010 di Jakarta. HC telah membuka banyak cabang di kota-kota besar di
Indonesia, seperti di Jakarta; Bandung, Jawa Barat; Yogyakarta; Padang, Sumatra
Barat; Medan, Sumatra Utara; Lampung; Pontianak, Kalimantan Barat; dan
Makassar, Sulawesi Selatan. Anggotanya sudah mencapai lebih dari 6.000 orang.

Sejarah hijab
di Indonesia

Berdasarkan catatan
sejarah, hijab pertama kali dipakai di Indonesia oleh seorang muslimah
bangsawan dari Makassar, Sulawesi Selatan pada abad 17. Cara berhijabnya
lalu ditiru oleh perempuan Jawa pada awal 1900-an setelah berdirinya organisasi
perempuan muslim Aisyiyah, yaitu salah satu organisasi Islam terbesar yang
sampai saat ini cukup berpengaruh di masyarakat melalui kegiatan pendidikan,
ekonomi, sosial dan juga kesehatannya.

Sebuah penelitian yang
dilakukan oleh Jean Gelman Taylor, seorang profesor Sejarah dari Universitas
New South Wales, Australia, menemukan bahwa tidak ada gambar hijab di foto-foto
perempuan Aceh pada tahun 1880-an and 1890-an. Sayangnya, Taylor tidak
menjelaskan mengapa demikian.

Hanya beberapa
pahlawan perempuan Indonesia yang memakai hijab di masa lalu. Banyak di antara
pahlawan perempuan muslim justru tidak memakainya. Hal ini menunjukkan bahwa
pemakaian hijab adalah sebuah pilihan personal.

Selama Orde Baru,
pemerintah sempat melarang  pemakaian hijab di sekolah-sekolah.
Pemerintahan di era Soeharto secara ketat mengendalikan isu agama di arena
publik. Pemerintah beranggapan bahwa hijab adalah simbol politis yang berasal
dari Mesir dan Iran yang situasi politiknya tidak sama dengan situasi budaya
Indonesia. Pemerintah saat itu khawatir bahwa hijab akan dijadikan sebagai
identitas politik yang akan mengganggu stabilitas pemerintahan.

Setelah itu,
pemakaian hijab semakin diterima di masyarakat. Tidak lama kemudian, hijab
telah menjadi tren terbaru di kalangan para muslimah. Hal ini juga didukung
oleh dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yaitu Muhammadiyah and
Nahdlatul Ulama, telah menyatakan bahwa hijab adalah pakaian ideal
untuk muslimah. Pengakuan dari kedua organisasi inilah yang menjadikan semakin
banyak orang yang menerima hijab sebagai pakaian ideal bagi muslimah di
Indonesia.

Segala jenis tekanan yang ada, baik yang
menyangkut dorongan untuk memakai atau tidak memakai hijab ataupun bagaimana
cara memakainya serta model seperti apa yang digunakan, dimaksudkan untuk mengendalikan
tubuh perempuan.

Alasan
pemakaian hijab

Seorang
antropolog Saba Mahmood dari Mesir menyatakan bahwa banyak muslimah yang
memakai hijab karena alasan identitas agama dan ekspresi kesalehan
seseorang. Artinya, dengan menggunakan hijab, seorang muslimah mempercayai
bahwa dirinya lebih saleh daripada mereka yang memutuskan untuk tidak
menggunakannya.

Banyak muslimah
Indonesia juga mempunyai alasan ini saat memutuskan untuk menggunakan hijab.
Survei pada 2014 menyebutkan bahwa 95 persen responden
dari para hijaber mengatakan bahwa
alasan menggunakan hijab adalah karena alasan agama. Sebagian yang lain
menggunakan hijab karena alasan keamanan, kenyamanan dan alasan politis.

Feminis dan
akademisi Indonesia Dewi Candraningrum menuliskan di bukunya yang
berjudul Negotiating Women’s Veiling, Politic & Sexuality in
Contemporary Indonesia
, bahwa sebagian politikus perempuan terkadang
menggunakan hijab untuk keperluan politis. Para politikus perempuan ini berharap
mereka akan mendapatkan suara pemilih dengan penampilannya yang religius.

Otonomi perempuan

Walaupun
perempuan muslim Indonesia dapat memakai jilbab dengan lebih bebas di tempat
umum saat ini, usaha-usaha yang mengatur cara pemakaiannya masih saja terjadi.

Salah satu
contohnya, akhir tahun lalu Kementerian Dalam Negeri menginstruksikan pegawai
perempuan muslim yang memakai hijab untuk memasukkan kerudungnya ke dalam baju
seragamnya. Namun baru beberapa hari diberlakukan, kebijakan ini menuai protes,
karena sebagian pegawai merasa nyaman kalau mereka mengenakan hijab sampai
menjulur ke dadanya. Dan akhirnya kementerian mencabut kebijakan tersebut.

Berbagai macam
tekanan terkait dengan model berhijab datang dari masyarakat sendiri. Kalangan
konservatif mengklaim bahwa hijab yang longgar dan lebar adalah yang paling
baik dan benar, sesuai dengan ajaran Alquran. Namun kalangan ilmuwan progresif
dan feminis berusaha melawan klaim ini karena khawatir klaim tersebut
akan menghalangi kebebasan perempuan untuk menentukan apa yang ingin
dikenakannya.

Bagi saya, segala
jenis tekanan yang ada, baik yang menyangkut dorongan untuk memakai atau tidak
memakai hijab ataupun bagaimana cara memakainya serta model seperti apa yang
digunakan, dimaksudkan untuk mengendalikan tubuh perempuan.

Jika kita berkaca
pada para pahlawan perempuan muslim Indonesia pada masa lalu terkait dengan
keputusan mereka untuk memakai hijab atau tidak, maka kita seharusnya mendorong
para perempuan sekarang untuk memilih memakai atau tidak memakai hijab.
Perempuan harus bebas memilih berdasarkan preferensi pribadi.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The
Conversation
, sumber berita dan analisis yang independen dari
akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.


Avatar
About Author

Alimatul Qibtiyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *