August, 16 2016
Agustus Dulu dan Kini

Agustus adalah citra bangsa ini namun Agustus hanya satu dari dua belas, terbatas dan sementara.

by Wella Andany
Issues // Politics and Society
Share:
Agustus, bulan yang begitu istimewa untuk bangsa Indonesia, bulan primadona yang setiap tahunnya dihiasi perayaan dari upacara khidmat hingga canda tawa di sela pembaruan warna serta tahun gapura. Bulan penuh agenda yang begitu ditunggu hingga dimahkotai panggilan kesayangan, Agustusan.
 
Agustus pun punya ciri khas tersendiri, ia berwarna merah dan putih, warna kebanggaan bangsa ini. Agustus tidak hanya menyimpan sejarah namun juga membawa tradisi bangsa ini dari generasi ke generasi. Tradisi yang tidak berubah signifikan dari tahun ke tahun: upacara bendera, pawai, atribut kemerdekaan di sekolah-sekolah dan perlombaan di hampir seluruh pelosok negeri ini.
 
Agustus punya tempat yang khusus di hati masyarakat Indonesia, ia membawa kesibukan yang menyenangkan bagi anak-anak sekolah, rezeki tambahan untuk sebagian dan untuk kebanyakan ia adalah cermin masa kecil yang ramai dan gembira. Disadari atau tidak Agustus adalah diri dan ciri bangsa ini dari bocah hingga dewasa.
 
Agustus begitu berapi-api, penuh dengan nyanyian, tari, puisi, pidato, segalanya dibumbui rasa patriotisme yang membara. Tak lupa juga hiruk pikuk dan hura-hura pesta kemerdekaan, berbagai lomba tidak pernah absen dari panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, bakiak dan berbagai perlombaan lainnya yang mengundang antusias dan tawa rakyat di negeri ini.
 
Agustus adalah Hari Valentine kedua di Indonesia, di saat muda-mudi di negeri ini berlomba-lomba mencurahkan cintanya pada negara kelahirannya. Era modern kini membawa warna baru dari perayaan Agustusan. Berbagai kreativitas dan kemampuan terbaik ditunjukkan para penerus bangsa, dari pengibaran bendera pusaka di puncak tertinggi hingga ke dasar laut, segalanya dilakukan dengan tujuan yang sama, untuk menunjukkan patriotisme anak bangsa yang menggebu.
 


Agustus adalah citra bangsa ini namun Agustus hanya satu dari dua belas, terbatas dan sementara. Selepas Agustusan tidak hanya riuh perlombaan yang luntur namun juga patriotisme yang tadinya dikenakan ikut terlucuti. Sebelas bulan yang lainnya kita kembali menjadi individu-individu yang lupa ingatan, yang melupakan makna surat proklamasi dan semangat pendiri bangsa ini yang memiliki harapan yang tinggi pada anak cucunya. Namun kita punya tradisi itu, Agustusan, sekali dalam setahun, berpesta, berlomba untuk kemudian lupa dan tak acuh.
 
Agustus dulu dan kini tidak banyak berubah. Perayaannya tidak banyak bergeser, protokol upacaranya masih sama, hanya beda peserta upacara benderanya dan oh, hadiah lombanya. Selebihnya Agustusan tidak berubah banyak, hanya angka di gapura saja yang bertambah dan dicat ulang.
 
Agustus di Indonesia memang tidak drastis perubahannya namun Agustusku tidak begitu ceritanya. Agustusku yang dulu begitu ceria, penuh lem dan keringat. Agustusku yang dulu penuh haru dan tawa. Agustusku yang dulu penuh dengan angan dan mimpi untuk menggantikan si kakak pembawa saka merah putih di layar TV. Lain lagi dengan Agustusku kini yang getir sebab menyadari bahwa patriotisme yang akan sering kudengar hanya tradisi yang diturunkan tanpa bermakna apa pun.
 
Agustus mewarisi tradisi pesta rakyat Indonesia namun tidak dengan praktik patriotisme dari para pendiri bangsa ini. Semangat itu tenggelam di antara sorak dan pesta, kebanggaan itu hanya ada di buku sejarah.
 
Agustus yang kurasakan kini begitu kelabu, entahlah Agustusku nanti atau Agustus anak-anakku nanti. Semoga Agustusku nanti akan cerah lagi seperti Agustusku yang dulu, yang penuh tawa dan optimisme meluap-luap, semoga saja, semoga.
 
Wella Andany adalah seorang mahasiswi yang berusaha mencuri-curi waktu untuk menulis, yang juga tengah berjuang agar suaranya bisa didengar di tengah lautan suara-suara lainnya.