June 21, 2019
Ini Satu Alasan Lagi Mengapa Harus Menonton Drama Korea

Diversifikasi karakter perempuan dalam drama Korea mampu diwujudkan karena banyaknya jumlah penulis naskah perempuan.

by Oktariani
Culture // Screen Raves
Drakor_Drama_korea_TV Series_SarahArifin
Share:

Seorang laki-laki yang bukan penggemar drama Korea pernah bertanya kepada saya dengan nada heran, “Kenapa sih cewek suka menonton drama Korea?“ Seolah-olah drama Korea adalah tontonan yang tidak layak dinikmati dan terbatas ditonton oleh perempuan saja, meskipun memang didominasi oleh penonton perempuan. Berbagai alasan saya kemukakan, mulai dari kedekatan secara kultural, ragam topik dan genre yang diangkat, hingga kualitas hasil produksi yang secara umum lebih baik dibandingkan kualitas konten televisi dalam negeri. Tapi hal itu tidak juga menghilangkan keheranan dari raut wajah dan ucapannya.

Pada titik itu ada dugaan yang muncul di kepala saya, yaitu ia seseorang yang western-centrist yang berarti kurang mengeksplorasi konten dari bagian dunia lain, salah satunya drama dari Korea Selatan. Dugaan saya ternyata benar. Selain hanya menonton serial televisi Amerika Serikat, drama Korea yang ia ketahui terbatas pada judul drama seperti Boys Over Flowers, Dream High, dan The Heirs, yang sebetulnya tidak representatif dan bukan rekomendasi drama Korea yang baik di kalangan penggemar drama Korea.

Karena masih banyak orang yang menyangsikan kesukaan seseorang dengan kesinisan yang tidak didasarkan oleh pengetahuan, maka saya ingin membagikan satu alasan utama yang menjadikan saya penonton dan penggemar drama Korea sampai saat ini. Dan alasan utama itu adalah perempuan.

Setelah lebih dari 10 tahun mengonsumsi konten dan informasi soal drama Korea, diversitas karakter perempuan di hampir setiap judul drama Korea yang pernah saya tonton membuat saya jarang merasa bosan dan menikmati aktivitas menonton drama Korea ini. Karakter perempuan dalam drama Korea tidak melulu digambarkan sebagai karakter sederhana dan lemah yang menunggu laki-laki untuk membuat hidupnya lebih baik. Perempuan digambarkan dengan latar belakang dan kepribadian yang kompleks, memiliki profesi dari berbagai ranah pekerjaan, berada dalam jalinan hubungan yang tidak hanya terpusat pada laki-laki, dan yang terpenting perempuan memiliki ruang untuk membicarakan beragam topik dan permasalahan dalam kehidupan mereka.

Ji Hae Soo dari drama It’s Okay That’s Love (2014), Cha Soo Hyeon dari Signal (2016), dan Go Hye Ran dalam Misty (2018) adalah karakter perempuan yang paling saya sukai.

Ji Hae Soo adalah seorang psikiater yang memiliki ketakutan dalam melakukan hubungan seksual karena trauma masa kecil ketika melihat ibunya berciuman dengan lelaki yang bukan ayahnya. Ia kemudian mencoba mengatasi trauma tersebut dengan memahami arti cinta berdasarkan hubungan sosial dan personal, serta konflik yang terjadi di dalam hidupnya.

Sementara itu, Cha Soo Hyeon adalah seorang polisi perempuan yang dalam perjalanan kariernya sebelum menjadi detektif mencoba membuktikan kemampuannya di badan kepolisian yang memiliki budaya patriarki yang kuat. Dan, save the best for the last, Go Hye Ran adalah seorang pewarta berita terkemuka yang memiliki ambisi untuk berada di posisi atas dalam piramida kelas sosial untuk menegakkan keadilan dengan cara-cara yang tidak dapat dikatakan hitam maupun putih. Ambisinya itu yang kemudian membuatnya terlibat dalam berbagai kasus yang disebabkan oleh inferioritas, ketamakan, dan obsesi pria di sekitarnya.

Karakter perempuan dalam drama Korea memiliki latar belakang dan kepribadian yang kompleks, dengan profesi dari berbagai ranah pekerjaan, berada dalam jalinan hubungan yang tidak hanya terpusat pada laki-laki, dan yang terpenting memiliki ruang untuk membicarakan beragam topik dan permasalahan dalam kehidupan mereka.

Kemudian perlu diketahui, diversifikasi karakter perempuan seperti Ji Hae So, Kim Hye Soo, dan Go Hye Ran pada dasarnya tidak terlepas dari peran penulis naskah perempuan di balik layar. Penulis naskah dari ketiga drama itu adalah Noh Hee Kyung, Kim Eun Hee, dan Jane/Kim Jae In yang memiliki kredibilitas dan reputasi yang sangat baik di industri pembuatan drama.

Para penulis naskah perempuan ini, tanpa melakukan seksualisasi terhadap perempuan, mampu menciptakan karakter perempuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini terutama karena orisinalitas cerita dan penulisan karakter yang kuat. Penulis naskah perempuan ini seolah mengukuhkan pernyataan bahwa setiap individu, tanpa memasukkan perempuan ke dalam satu golongan khusus, berbeda dan unik. Kesamaan dari ketiga karakter perempuan yang mereka tulis hanyalah terbatas pada moralitas yang dimiliki karakter, seperti memegang prinsip independensi dalam aspek kehidupan mereka, namun tentu saja tetap dituliskan dan disesuaikan dengan karakter dan latar belakang tokoh masing-masing.

Berdasarkan laporan Women of China pada 2014 yang dikutip Beijing Metro Reader, hampir 90 persen penulis naskah di Korea adalah perempuan. Hal ini tercermin diversifikasi karakter perempuan memang mungkin diwujudkan karena adanya penulis naskah perempuan ini di balik layar. Tidak hanya diversifikasi karakter perempuan, drama women centric dengan cerita yang bertumpu pada sudut pandang tokoh perempuan sudah banyak diproduksi.

Beberapa di antaranya yang saya sukai adalah Jewel in the Palace (2003) yang ditulis oleh Kim Young Hyun, Age of Youth Season 1 (2016) yang ditulis oleh Park Yeon Sun, Dear My Friends (2016) karya favorit saya Noh Hee Kyung, Misty (2018) yang ditulis Jane, dan drama yang sedang tayang saat ini Search WWW (2019) yang ditulis Kwon Do Eun. Semua karakter perempuan di beberapa judul drama ini dituliskan dengan sangat baik, mereka memiliki kekuatan tersendiri tanpa harus menghilangkan feminitas yang dimiliki oleh perempuan. Sehingga tidak heran jika saat ini drama Korea menjadi tontonan yang menarik dan adiktif.

Namun perlu ditekankan di akhir tulisan ini bahwa tujuan penulisan ini terbatas pada level menyebarkan awereness, artinya tidak ada paksaan bagi mereka yang tidak menyukai drama Korea untuk mengubah perilaku mereka seperti menonton atau menggemari drama Korea setelah membaca tulisan ini.  

“The beauty of social awareness is that a few simple adjustments to what you say can vastly improve your relationships with other people.” – Travis Bradberry

Oktariani adalah seorang lulusan Industri Kreatif Penyiaran yang menikmati tontonan dan tulisan.