August 16, 2019
Anyaman Rambut Agnez Mo: Apresiasi atau Apropriasi?

Agnez Mo memanfaatkan budaya dari grup etnis marginal di negaranya sendiri untuk karyanya dan ini enggak banget.

by Nikita Devi
Culture
Share:

Menurut kabar terbaru, Agnez Mo (d/h Agnes Monica), bintang musik Indonesia yang sedang berjibaku di Amerika, akan meluncurkan album terbarunya bertajuk Diamond. Dia juga berbagi tentang konsep album barunya melalui Instagram yang, menurut para penggemarnya, memperlihatkan bahwa ia kacang yang tidak lupa dengan kulitnya.

Walaupun berkarier skala internasional, Agnez Mo dikenal sebagai penyanyi yang tidak pernah melupakan asal-usulnya. Sebut saja penampilannya di video musik dari album terdahulu, “Long As I Get Paid” dengan kostum berbahan batik yang katanya “Indonesia banget”. Namun alih-alih menunjukkan busana tradisional Indonesia, penampilan Agnez malah kelihatan  seperti manifestasi dari fantasi laki-laki Barat berpandangan Orientalis. Artinya, secara singkat, hal itu memperlihatkan bagaimana perempuan “Timur” digambarkan secara erotis dan eksotis untuk kesenangan pria-pria “Barat”.

Untuk album terbarunya kali ini, Agnez Mo tampil dengan penampilan yang berbeda, dengan rambut panjang dianyam dan warna kulit yang tampak lebih gelap dan mengilap. Keren? Pastinya. Para penggemar sontak mengelu-elukan penampilan baru Agnez, memuji kulitnya yang kelihatan makin “eksotis”, juga model rambutnya yang “edgy” tersebut. Aliran pujian kian memuncak ketika Agnez mengunggah sebuah foto dirinya mengenakan bodysuit tanpa bawahan bersama model-model kulit gelap berbalut kain dan aksesori tradisional Papua.

Foto itu disertai teks berikut:

“#Diamonds #WeAre Indonesians. We’re wearing one of many Indonesian traditional outfits (incl. accessories), from Papua (east side of Indonesia)

#Diamonds

“Precious stones. The hardest naturally occurring substance. It has four sides of equal length forming two opposite acute angles. And two opposite obtuse angles.

#Diamonds.

Symbol of rarity and beauty.
Purity and innocence.
Yet it represents strength in character and ethics.
Loyalty to one and another.

#Diamonds.

The beauty in each one of us.
Strength in diversity.
Bhinneka tunggal ika.
Unity in diversity.

#Diamonds #weare #embracingmyculture

Baca juga: The Orientalist Gaze in Agnez Mo’s American Persona

Teks ini saja sudah mengandung banyak tanda tanya. Apa dia mengibaratkan budaya yang ia pinjam sebagai sesuatu yang “langka”, “murni”, dan “polos”? Kemiripan adjektiva yang Agnez gunakan dengan adjektiva yang kerap digunakan kelompok Orientalis untuk mendeskripsikan dunia Timur ini sangat mengganggu. Belum lagi baju yang dikenakannya tidak ada kaitan apa pun dengan budaya Papua yang seharusnya menjadi fokus di sini.

Seperti yang sudah-sudah, reaksi penggemar dan media sangatlah positif. Agnez disanjung kembali sebagai perwakilan Indonesia yang membawa budaya Indonesia mendunia. Namun, pendapat-pendapat berlawanan juga bermunculan dengan gencar menuding tindakan Agnez menggunakan budaya Papua untuk estetika proyeknya sebagai tindakan apropriasi budaya.

Apa, sih, apropriasi budaya itu? Sederhananya, apropriasi budaya berarti tindakan adopsi budaya tertentu oleh orang yang berasal dari grup etnis berbeda. Inspirasi dari dan apresiasi terhadap budaya tertentu adalah sebuah kewajaran, tapi ada garis yang jika dilewati akan menjadi masalah. Misalnya, ketika orang-orang dari kelompok etnis yang dominan memanfaatkan budaya dari kelompok etnis minoritas atau malah marginal. Inilah yang terjadi dengan Agnez Mo saat ini: memanfaatkan budaya dari grup etnis marginal di negaranya sendiri untuk karyanya dan ini enggak banget.

Loh, kok Agnez dituduh memanfaatkan budaya? Kan, dia orang Indonesia juga? Boleh, dong, dia pakai budaya Indonesia?

Masalahnya, Papua adalah salah satu daerah di Indonesia yang mengalami marginalisasi akibat kolonialisme oleh Indonesia. Sebagai perempuan keturunan Jawa dengan privilese yang membawa kariernya hingga titik saat ini, tindakan Agnez dan timnya menunjukkan rendahnya sensitivitas terhadap dinamika budaya-politik, dan merundung Papua. Menggunakan budaya Papua sebagai estetika tanpa mengakui apa yang dihadapi masyarakat Papua adalah apropriasi budaya secara blak-blakan.

Permasalahan lainnya datang dari pilihan Agnez dan timnya untuk menganyam rambut Agnez. Ia dan timnya yang cukup lama wara-wiri di Amerika Serikat seharusnya lebih akrab dengan the do’s and the don’ts dalam mengadopsi budaya anyam rambut. Namun, jelas tidak semua orang menentang keputusan ini. Pengguna Twitter @NyimasLaula membagikan sebuah perspektif menarik melalui utasnya berkenaan dengan penggunaan anyam rambut Agnez.

Argumen yang diberikan adalah bahwa asal rambut anyam, dreadlock atau cornrow di AS juga masih menjadi perdebatan. Bisa dikatakan, rambut anyam tidak eksklusif menjadi “milik” suatu budaya tertentu. Namun, sejak awal pun Agnez sudah melekatkan rambut anyam yang ia kenakan kepada budaya Papua, sebagaimana yang ia tulis dalam unggahannya di Instagram. Setidaknya, kita bisa sama-sama setuju bahwa rambut anyam yang dikenakan Agnez adalah rambut anyam “milik” budaya Papua.

Ada pula yang memberi argumen bertentangan dengan utas di atas:

Akun @DA_sarwen berargumen bahwa rambut anyam dan kepang adalah “milik” komunitas kulit hitam secara eksklusif. Orang Papua, yang kebetulan adalah bagian dari Indonesia, adalah salah satu sub-grup yang meneruskan budaya ini. Dengan demikian, @DA_sarwen berpendapat, mutlak bagi orang Indonesia yang bukan kulit hitam untuk tidak melakukan anyam rambut. Pasalnya, dengan pemahaman yang demikian, berarti budaya rambut anyam di Indonesia pun mengandung berabad-abad penderitaan dan perjuangan komunitas kulit hitam.

Adalah kenyataan bahwa masyarakat Papua masih menghadapi sederet diskriminasi, marginalisasi, dan kekerasan hingga hari ini karena faktor-faktor inheren, seperti tekstur rambut dan warna kulit mereka. Bahkan, hingga hari ini, kota-kota pelajar dan lingkungan kampus masih saja membudayakan isu rasialisme dengan menolak kamar-kamar indekos atau asrama disewa oleh mereka yang diidentifikasi sebagai orang Papua. Hal ini didasarkan pada stereotip yang dilekatkan pada orang Papua, seperti selalu telat bayar atau berisik ketika mabuk. Orang Indonesia yang bukan kulit hitam tidak akan pernah mengalami pengalaman seperti ini.

Pengalaman serupa soal rambut pun dibagikan oleh @notnorgaard:

Mungkin, mungkin, jika saja peminjaman budaya Papua oleh Agnez Mo dapat meringankan sedikit beban orang Papua, mungkin tidak apa-apa. Andai rambut anyam Agnez mengurangi kependudukan militer di Papua, tentu banyak orang akan senang. Sayangnya, pengadopsian budaya ini tidak hanya mengabaikan perjuangan orang Papua selama ini, tapi juga menutupinya lebih jauh lagi dari peredaran.

Nikita Devi adalah pembelajar sepanjang hidup, beraspirasi menjadi penulis, dan pencinta kucing. Ia tertarik dengan studi gender dan seksualitas, dan sangat bersemangat menyapa kucing dan anjing yang ditemuinya di jalan.