Gender & Sexuality Issues Opini

Apa itu Cisgender, Semua Fakta yang Harus Kamu Tahu

Istilah “cisgender” diperkenalkan agar bahasa bisa lebih adil, inklusigf, dan membuat kita lebih sadar akan pengalaman gender setiap orang. Namun, istilah ini juga menuai pro dan kontra.

Avatar
  • July 13, 2023
  • 4 min read
  • 963 Views
Apa itu Cisgender, Semua Fakta yang Harus Kamu Tahu

Kita tentu sudah relatif familier dengan istilah dan konsep “transgender”. Di Australia, dalam beberapa minggu terakhir ini, ada berita besar tentang pesepakbola transgender, Hannah Mouncey; komentar Perdana Menteri Scott Morrison tentang gender whisperers; dan Universitas Australia Barat membatalkan seminar yang akan disampaikan oleh akademisi Amerika Serikat (AS) yang anti transgender.

“Transgender” memiliki padanan linguistik yang penting yang tidak umum digunakan, tetapi kini semakin lazim. Istilah “cisgender” (diucapkan “sis-gender”) mengacu pada orang-orang yang identitas dan ekspresi gendernya sesuai dengan jenis kelamin biologis yang diberikan kepada mereka saat lahir. Sebagai contoh, musisi Moby mengatakan ia adalah “laki-laki, cisgender, dan heteroseksual”.

 

 

Istilah “cisgender” diperkenalkan agar bahasa kita bisa lebih adil dan inklusif, dan untuk membuat kita lebih sadar akan pengalaman gender setiap orang. Namun, istilah ini juga menuai pro dan kontra.

Baca juga: Pengalaman Membesarkan Anak Gay dalam Paradigma Heteroseksual

Asal Kata “Cisgender”

Awalan “trans-” berasal dari bahasa Latin, yang berarti “di seberang” atau “di sisi lain”. Sebaliknya, awalan “cis-” berarti “di sisi ini”. Awalan ini biasanya digunakan dalam kimia dan dalam kaitannya dengan fitur geografis, seperti kata “cisalpine”.

“Cisgender” pertama kali dibahas dalam artikel jurnal akademik pada 1990-an. Istilah ini mulai mendapatkan popularitas yang lebih luas sejak sekitar 2007, ketika ahli teori transgender Julia Serano mendiskusikannya dalam bukunya Whipping Girl. Selama dekade berikutnya, para aktivis, akademisi, dan forum-forum online membantu, secara harfiah, menyebarkan berita ini.

Istilah ini sebagian besar digunakan oleh mereka yang peka terhadap isu-isu gender dan identitas. Namun demikian, penerimaan umum dan keberlangsungannya sebagai sebuah istilah dan konsep diakui ketika istilah ini ditambahkan ke dalam Kamus Bahasa Inggris Oxford pada 2015.

Cisgender secara khusus lebih berhubungan dengan gender daripada seksualitas. Seseorang dapat menjadi cisgender (sering disingkat menjadi cis) dan memiliki jenis kelamin apa pun. Sebagai contoh, dua orang laki-laki mungkin sama-sama cisgender, tetapi yang satu heteroseksual dan yang satu gay (homoseksual).

Karena ini adalah kategori identitas pribadi, sulit untuk mengetahui hanya dengan melihat seseorang apakah mereka cisgender.

Moby berfoto di tahun 2009: dia baru-baru ini menggambarkan dirinya sebagai laki-laki yang biasa-biasa saja, cisgender, dan heteroseksual. Estela Silva/EPA

Baca juga: Magdalene Primer: Memahami Gender dan Seksualitas

Kegunaan Istilah “Cisgender”

Istilah ini dianggap memiliki beberapa kegunaan penting. Salah satunya adalah membantu kita membedakan antara identitas seksual dan identitas gender. Namun, fungsi yang paling penting adalah bahwa penamaan sesuatu memungkinkan kita untuk memikirkan maknanya dengan lebih jelas.

Memiliki kata untuk identitas gender yang dianggap “biasa saja” memungkinkan kita untuk memahami bahwa itu sebenarnya adalah identitas gender yang spesifik. Oleh karena itu, gagasan bahwa seseorang adalah cisgender menunjukkan bahwa, siapa pun kamu, hubungan antara tubuh dan rasa diri kamu adalah spesifik.

Dengan memperhatikan gender dengan cara ini, kita juga dapat menyoroti bahwa beberapa orang telah dirugikan karena identitas gender mereka. Artinya, istilah ini dapat menciptakan kesadaran bahwa orang-orang yang bukan cisgender sering kali mengalami kesulitan dalam masyarakat kita dibandingkan mereka yang cisgender. Sebagai contoh, beberapa transpuan melaporkan tingkat pelecehan fisik dan verbal yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang cisgender.

Baca juga: Asha bukan Oscar: Membongkar Miskonsepsi Soal Transgender

Kritik

Terlepas dari potensi inklusivitas, istilah ini juga menuai banyak kritik yang mencakup dampak negatif yang mungkin terjadi. Beberapa orang percaya bahwa istilah ini menciptakan perbedaan yang berbahaya antara orang transgender dan orang lain. Dalam hal ini, istilah tersebut dapat menjadi kontra-intuitif dan justru menghambat transgender untuk menjadi lebih diterima dan dianggap normal.

Hal ini juga dapat secara keliru menyiratkan bahwa hanya orang transgender yang mengalami ketidaksesuaian antara tubuh/jenis kelamin dan identitas gender mereka. Sebagai contoh, orang-orang lesbian, gay, dan biseksual khususnya dapat dianggap sebagai cisgender tapi mengalami konflik antara identitas gender mereka dan bagaimana masyarakat mengharapkan mereka untuk mengekspresikan gender mereka.

Beberapa pihak telah mengidentifikasi bahwa istilah tersebut tidak tepat untuk menjelaskan individu interseks. Karena orang interseks memiliki karakteristik jenis kelamin yang tidak umum (misalnya alat kelamin, hormon, kelenjar reproduksi dan/atau kromosom), maka mendefinisikan identitas gender mereka dalam kaitannya dengan jenis kelamin saat mereka dilahirkan adalah hal yang bermasalah.

Dari perspektif ini, cisgender dianggap membatasi dan memecah belah karena mengindikasikan hanya ada dua kemungkinan identitas gender yang terkait dengan dua jenis kelamin.

Terakhir, beberapa orang berpikir bahwa “cisgender” tidak akan sepenuhnya diintegrasikan ke dalam bahasa umum karena tidak lazim untuk dieja dan diucapkan. Untuk alasan ini, istilah yang lebih jelas seperti “nontrans” lebih disarankan.

Seiring dengan pemahaman kita tentang gender yang terus berubah, kata-kata yang kita gunakan untuk menggambarkan pengalaman kita tentang gender juga akan berkembang. Idealnya, kata-kata ini akan membantu kita memperbaiki ketidaksetaraan antara identitas gender.

Joanna McIntyre, Dosen Senior Media Studies, Swinburne University of Technology. Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.


Avatar
About Author

Joanna McIntyre

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *