Lifestyle Madge PCR

Mengenal Non-Monogami Etis: Tak Ada Perselingkuhan Selama Semua ‘Consent’

Masyarakat mononormatif menganggap hubungan non-monogami tabu. Padahal, relasi ini mengutamakan ‘consent’ dari seluruh pihak yang terlibat.

Avatar
  • June 23, 2023
  • 6 min read
  • 2037 Views
Mengenal Non-Monogami Etis: Tak Ada Perselingkuhan Selama Semua ‘Consent’

Saat pertama kali menonton 5 to 7 (2014) beberapa tahun lalu, aku mempertanyakan relasi Brian (Anton Yelchin), dan Arielle (Bérénice Marlohe). Di balik hubungan itu, Arielle adalah istri diplomat, Valéry (Lambert Wilson), sekaligus ibu dua anak. Sementara, Valéry berpacaran dengan editor.

Sebagai masyarakat mononormatif—memandang hubungan monogami dan monoseksual itu lumrah—kita cenderung enggak familier dengan relasi pernikahan Arielle dan Valéry. Terlebih keduanya saling tahu hubungan pasangan di luar pernikahan.

 

 

Jika ditarik sejarahnya, manusia mulai mengenal hubungan monogami sejak 1.000 tahun lalu, seperti diungkapkan peneliti Christopher Opie dalam Male infanticide leads to social monogamy in primates (2013).

Jauh sebelum hubungan monogami ada, manusia cenderung lebih suka hidup soliter dan kawin sesuka hati. Keinginan bermonogami sendiri bermula dari keinginan laki-laki mempertahankan hubungan dengan seorang perempuan, demi melindungi pasangan dan anaknya dari laki-laki lain. Sebab, saat itu ada ancaman pembunuhan terhadap bayi-bayi mereka. 

Lambat laun, jenis hubungan ini diperkuat oleh institusi agama, yang mengikat pasangan dalam pernikahan. Enggak cuma dalam pernikahan, perkara pacaran pun mengadopsi konsep monogami.

Jika kembali pada hubungan Arielle dan Valéry, apakah berarti keduanya menyelingkuhi satu sama lain?

Baca Juga: Saat Pacar Ingin Open Relationship: Ini yang Bisa Dilakukan

Mengenal Non-Monogami Etis

Dilihat dari sudut pandang feminisme, relasi pernikahan Arielle dan Valéry berbeda dengan perselingkuhan. Sebab, keputusan untuk memiliki pasangan di luar pernikahan dilakukan atas persetujuan bersama, dan sepengetahuan satu sama lain.

Berbeda dengan perselingkuhan yang dilakukan diam-diam tanpa consent, dan mengingkari komitmen untuk menjalin hubungan monogami. Dengan kata lain, pernikahan Arielle dan Valéry merupakan open marriage.

Namun, artikel ini enggak spesifik membahas open marriage. Namun, itu adalah istilah umum yang mencakup berbagai relasi romantis, dan melibatkan lebih dari satu pasangan atau non-monogami etis.

Menurut peneliti Jessica Wood, dkk. dalam riset Motivations for Engaging in Consensually Non-Monogamous Relationships (2021), ada berbagai alasan memilih hubungan non-monogami etis.

Di antaranya mengeksplorasi seksualitas, lewat berhubungan dengan orang yang gendernya berbeda dari pasangannya. Ada juga yang berusaha memenuhi kebutuhan emosional atau seksual, lantaran pasangannya tidak dapat memenuhi. Akan tetapi, tak menutup kemungkinan jika seseorang mampu dan ingin, memberikan kasih sayangnya pada lebih dari satu orang.

Namun, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi, dalam hubungan non-monogami etis. Di antaranya adalah kejujuran dan keterbukaan dalam komunikasi, terutama dalam membicarakan batasan dan keinginan oleh pasangan primer—seperti relasi suami istri antara Arielle dan Valéry—terhadap sekunder. Tujuannya agar tidak berdampak negatif pada kualitas hubungan primer, seperti menyebabkan kecemburuan atau kecemasan.

Yang tercakup dalam batasan itu adalah sejauh mana relasi dengan pasangan sekunder dapat dilakukan. Contohnya boleh melibatkan perasaan romantis, hanya berhubungan seksual, atau bertemu di waktu tertentu. Batasan ini ditentukan oleh pasangan primer, dan harus dipatuhi semua pihak yang terlibat. Bukan seperti Brian yang tiba-tiba meminta Arielle menikahinya.

Baca Juga: Apa itu Poliamori: Saat Kamu Mencintai Lebih dari Satu

Mengutip Verywell Mind, ada beberapa jenis hubungan non-monogami etis.

Pertama, open relationshiptermasuk open marriage. Tipe hubungan ini kerap dianggap sama dengan poliamori. Padahal, open relationship tidak melibatkan komitmen dengan pihak, yang terlibat di luar hubungan—seperti Brian di luar pernikahan Arielle dan Valéry.

Enggak hanya hubungan seksual, relasi bersama pasangan di luar hubungan primer juga boleh melibatkan ikatan emosional atau romantis. Namun, yang diprioritaskan tetap pasangan primer.

Kedua, poliamori, yang dipopulerkan penulis Zell-Ravenheart dalam tulisannya “A Bouquet of Lovers” pada 1990. Menurutnya, poliamori adalah situasi ketika seseorang memiliki lebih dari satu hubungan romantis dan seksual secara bersamaan. 

Seperti konsep non-monogami etis, poliamori juga mengutamakan consent seluruh pihak, yang terlibat dalam berkomitmen. Artinya, mereka mengetahui keberadaan lebih dari satu pasangan. Dan berbagai keputusan yang memengaruhi relasi akan dilakukan bersama.

Ketiga, poligami. Mungkin kamu lebih familier dengan jenis hubungan ini, karena praktiknya dilaksanakan dalam ajaran Islam. Yakni sistem pernikahan, yang mengizinkan seseorang punya lebih dari satu istri maupun suami.

Keempat, monogamish. Istilah yang dipopulerkan kolumnis Dan Savage ini, menggambarkan relasi yang komitmennya monogami, tetapi sesekali melakukan hubungan seksual dengan orang selain pasangannya. Hubungan seksual itu yang ditekankan dalam monogamish, tanpa melibatkan ikatan romantis dengan orang lain. 

Kelima, relationship anarchy. Mereka yang memilih tipe relasi ini tidak menggunakan istilah hierarki dalam memperlakukan pasangannya, memprioritaskan salah satu pihak, ataupun menetapkan aturan atau ekspektasi. Hal ini bertolak belakang dengan hierarki hubungan, yang umumnya memiliki hubungan utama dan memengaruhi cara seseorang memperlakukan pasangan.

Misalnya dengan tidak mengategorikan relasi sebagai platonik, romantis, maupun seksual. Selain itu, menurut Resnick, relasi ini fokus pada otonomi dan kebebasan individu. 

Meskipun tampaknya non-monogami etis dapat dilakukan hanya berdasarkan persetujuan, batasan, dan keterbukaan, ternyata praktiknya tidak sederhana. Ketika diwawancara Cosmopolitan, psikolog dan pakar seks Dr Lori Beth Bisbey mengatakan, dibutuhkan perhatian ekstra untuk keberhasilan hubungan.

“Kamu perlu terampil dalam komunikasi, mengatur emosi, dan negosiasi supaya relasinya bertahan dalam jangka panjang,” terang Dr Bisbey.

Menurutnya, banyak orang enggak benar-benar memahami consent. Jadi mereka berada dalam hubungan non-monogami etis, tanpa persetujuan semua pasangannya.

“Sebagian orang juga menggunakan istilah non-monogami etis untuk membenarkan perilakunya,” tambah Dr Bisbey.

Baca Juga: ‘Relationship Escalator’: Saat Jalani Hubungan Romantis Sesuai Tuntutan Publik

Stigma Hubungan Non-Monogami Etis

Relasi non-monogami etis tak luput dari stigma atau miskonsepsi. Hal ini karena masyarakat yang mononormatif, meyakini konsep the one atau soulmate, dan terikat dengan kesetiaanmemandang miring jenis hubungan tersebut.

Misalnya menganggap mereka hanya menginginkan pasangan untuk memenuhi hasrat seksual, tidak mampu berkomitmen, atau menyamakan dengan sugar baby. Ada juga yang melihat pasangan non-monogami lebih rentan terpapar infeksi menular seksual, karena memiliki banyak pasangan seksual.

Sementara dalam studinya, periset Terri Conley, dkk. menjelaskan, orang-orang yang terlibat dalam hubungan non-monogami cenderung mempraktikkan seks aman, dibandingkan pasangan monogami. Hanya saja mereka enggak setia pada pasangannya.

Dalam wawancara bersama Magdalene, seksolog Zoya Amirin menerangkan sifat manusia yang dinamis. Sayangnya, masyarakat gagal memahami hal itu, dan keburu menilai sesuatu yang enggak biasa sebagai hal buruk.

Di samping itu, stigma terhadap non-monogami diperkuat oleh cara masyarakat memandang “hubungan yang baik”. Yakni dua orang cis-heteroseksual jatuh cinta, berkomitmen, menikah, dan punya anak—mengikuti relationship escalator. Sedangkan relasi romantis lainnya dianggap menyimpang.

Dampaknya, mereka yang menjalin hubungan non-monogami terpaksa menyembunyikan relasinya dari orang-orang terdekat. Bahkan cenderung menjaga jarak, untuk menghindari penghakiman. Sayangnya, perilaku ini dapat menimbulkan depresi dan kecemasan.

Jika kamu berada di posisi itu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Pertama, ingat bahwa kamu berhak memilih menjaga kehidupan romantismu sebagai privasi. Terlebih jika kamu merasa lebih aman. Kedua, apabila kamu membutuhkan dukungan orang lain, carilah sosok yang bisa dipercaya dan bikin nyaman untuk membicarakan relasi romantismu.

Sementara, jika belum terbiasa dengan hubungan non-monogami, kamu bisa belajar untuk tidak langsung menghakimi dan menghargai pilihan orang tersebut.


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *