Women Lead
October 20, 2020

Apa Kuntilanak dan Sundel Bolong Tak Ingin Potong Rambut?

Kenapa hantu-hantu perempuan Indonesia seperti kuntilanak dan sundel bolong selalu berambut panjang?

by Wulandari Pratiwi
Culture
Suzanna
Share:

Pada suatu sore di tahun 2018, sesaat setelah mengeringkan rambut saya yang basah, sebuah pertanyaan muncul dalam benak: Kenapa rambut hantu perempuan, khususnya di Indonesia, selalu panjang? Apakah para hantu itu tak pernah bergosip dan berniat untuk memotong rambutnya menjadi model pixie, misalnya?

Mungkin bagi kalian pertanyaan saya lucu. Mungkin juga kedengaran absurd. Tapi sungguh, di balik rambut panjang para Kuntilanak dan Sundel Bolong—yang sudah diterima sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja itu, ada isu gender yang mungkin luput dari perhatian dan butuh penelaahan lebih lanjut.

Pertanyaan itu pulalah yang akhirnya menggerakkan saya untuk menelisik lebih jauh mengenai representasi perempuan dalam film horor. Tentu saja dengan mengabaikan keseraman dan beberapa pandangan aneh atau komentar macam, “Beneran deh, enggak ada kerjaan banget lu!” dan “Yaelah, lebay!”

Keteguhan hati saya nyatanya membuahkan hasil. Penelitian ini pada akhirnya menjadi sebuah makalah linguistik berjudul “Dominasi Hantu Perempuan dalam Film Horor Indonesia: Apa Artinya?” dan telah beroleh kesempatan untuk dipresentasikan dalam sebuah konferensi internasional di Universitas Katolik Atma Jaya.

Dengan menggunakan kerangka teori semiotika sosial, visual grammar, dan analisis wacana kritis, kajian ini menelaah empat judul film horor Indonesia yang dirilis pada era 1980-an, 1990-an, 2000-an, dan 2010-an. Hasil analisis menemukan bahwa terdapat hubungan antara posisi perempuan dalam masyarakat dengan dominasi hantu perempuan dalam film-film horor Indonesia.

Baca juga: 'Pengabdi Setan': Simbol Kekerasan terhadap Perempuan

Selain itu, hantu perempuan dalam film horor Indonesia digambarkan sebagai sosok yang lebih kuat ketimbang saat menjadi manusia. Dan terakhir, hantu perempuan selalu dimunculkan dengan rambut panjang.

Ketika temuan-temuan tadi disinkronisasi, pertanyaan baru seperti, “Memangnya apa makna dan ideologi yang tersirat di balik rambut panjang hantu perempuan? Ataukah itu hanya perasaanmu saja?” kembali menggelitiki zona nyaman di prefrontal cortex saya. Dan itu rasanya seperti saya menjadi Iron Man.

Rambut panjang digunakan sebagai penanda, pengejawantahan, dan penguatan identitas bahwa si hantu adalah wanita dan memiliki sifat kewanitaan. Namun, di sisi lain, Paul Lester, penulis buku In Visual Communication: Images with Messages, menyebutkan bahwa rambut panjang juga telah lama dipercaya masyarakat sebagai simbol kecantikan perempuan. Artinya, selain penanda identitas, rambut panjang memiliki makna dan ideologi lain. Makna dan ideologi di balik rambut panjang itu, bisa jadi, adalah bahwa perempuan harus tetap cantik meski telah menjadi hantu, lebih-lebih ketika masih menjadi manusia.

Betapa menyedihkan bila ideologi tersirat ini tanpa disadari telah berpuluh-puluh tahun menggiring perempuan untuk meyakini opini bahwa kualitas terpenting dari diri mereka ialah cantik. Sementara baik hati, berani, berjiwa besar, cerdas, berpikiran terbuka, bermental baja, dan berpendidikan tinggi dianggap tidak lebih penting dari kecantikan.

Di balik fenomena yang dianggap wajar, seperti hantu perempuan berambut panjang, selalu ada saja hal-hal yang perlu untuk dipertanyakan kembali.

Kontrol sosial

Makna dan ideologi tersirat di balik rambut panjang ini juga telah meyakinkan saya untuk bersepakat dengan teori mitologi fungsional yang digagas oleh seorang antropolog kelahiran Polandia, Bronislaw Malinowski. Dalam The Role of Myth in Life, Malinowski menyatakan bahwa segala produk yang bernaung di bawah sebuah pohon besar bernama mitologi (termasuk di dalamnya urban legend dan folktale) adalah produk dari budaya masyarakat setempat yang fungsinya ditujukan sebagai kontrol sosial dan penanaman nilai-nilai moral.

Teori yang dikemukakan Malinowski di atas setidaknya memiliki dua implikasi penting. Pertama, mitologi adalah hasil konstruksi masyarakat. Kedua, adalah naif jika mitologi dianggap hanya sebagai sebuah kumpulan kisah nyata yang pernah terjadi.

Sebagai contoh, cerita Sundel Bolong dibuat dan disebarluaskan untuk mencegah perempuan berkeliaran di malam hari sehingga tindak kejahatan pemerkosaan tidak marak. Lalu, cerita Malin Kundang dipopulerkan agar anak-anak menghargai jasa orang tua dan tidak berbuat sesuatu yang berpotensi menjadikan mereka kualat.

Kedua implikasi dari teori Malinowski juga menjelaskan mengapa hantu perempuan Indonesia selalu digambarkan memiliki rambut panjang. Tentu saja karena masyarakat kita adalah masyarakat patriarkal yang menitikberatkan penilaian kualitas perempuan dari kecantikannya. Tak mengherankan jika pada akhirnya penampilan para urban legend pun mengikuti kaidah yang disukai masyarakat patriarkal. Masyarakat kita masih menganggap perempuan berambut panjang lebih cantik, kan?

Baca juga: Film Horor Simbol Ketakutan Atas Kekuatan Perempuan

Anyway, dengan menulis artikel ini, saya tentu saja bukan sedang mencocok-cocokkan dengan momen Halloween. Bukan pula untuk menyarankan kalian agar melakukan studi kualitatif dengan bertanya langsung pada sang Kuntilanak dan sang Sundel Bolong perihal kenapa mereka sepertinya ogah potong rambut, meski sebetulnya ya boleh-boleh saja sih, kalau kalian mau coba.

Saya hanya berharap, suatu saat para perempuan akan memahami bahwa sejatinya, di balik fenomena-fenomena yang dianggap wajar atau benar oleh masyarakat, selalu ada saja hal-hal yang perlu untuk dipertanyakan kembali. Nilai dan norma dalam masyarakat yang bahkan dianggap telah ajek pun sebetulnya selalu patut dipertanyakan lagi.

Perempuan diharapkan pula untuk menjadi lebih kritis dalam memandang kewajaran dan keajekan. Bukan untuk sekadar iseng atau agar terlihat cerdas, melainkan supaya perempuan meyakini betul bahwa keputusan yang mereka ambil atau keyakinan yang mereka percayai ialah betul hasil kontemplasi pribadinya dan bukan karena pengaruh dari apa yang disukai dan disepakati oleh masyarakat patriarkal.

Wulandari Pratiwi adalah seorang ibu dari dua anak laki-laki yang merasa enggak ada kerjaan kalau kedua anaknya itu sudah tidur. Daripada makan mi instan tengah malam, ia memilih untuk menulis. Ia juga memiliki mimpi untuk meraih gelar Magister untuk yang kedua kalinya karena belum ingin jadi Doktor. Sejak tahun 2013 aktif meneliti dan membuat makalah linguistik. Selain itu, tiga artikelnya juga telah terbit di harian The Jakarta Post.