March, 28 2017
Apa yang Salah dari Perempuan Independen?

Bagi penulis, menjadi seseorang yang independen merupakan carany menghargai diri sebagai perempuan.

by Adisti Pratiwi
Issues // Politics and Society
Share:
Beberapa waktu yang lalu, sebagai perempuan berusia 22 tahun yang belum pernah merasakan lika-liku dunia asmara dua sejoli hingga kerap diledek oleh teman-teman sebagai “calon jomblo perak”, saya penasaran dan iseng bertanya kepada beberapa teman kuliah laki-laki, “Eh, emang cowok kalo nyari cewek itu yang gimana sih? Terus menurut pandangan kalian sebagai laki-laki, aku itu gimana?”

Dari pertanyaan tersebut, saya mendapat jawaban yang lebih kurang sama, “Cowok sih nggak munafik, yang dilihat pasti tampang dulu. Kalau kamu, kamu orangnya terlalu independen, Dis, cowok nggak suka.” Jawaban ini membuat saya berpikir keras. Apa yang salah dengan menjadi seorang perempuan independen?

Tumbuh sebagai anak tengah dan perempuan satu-satunya, ditambah pengalaman bersekolah di sekolah homogen sedikit banyak memengaruhi cara berpikir dan tingkah laku saya. Cenderung cuek, serampangan, dan terbiasa melakukan banyak hal sendiri. Hal yang berlanjut hingga saat ini, seperti senang naik motor sendiri ke mana-mana, bahkan pernah naik motor dari Yogyakarta ke Malang, suka bergabung di divisi perlengkapan setiap ada acara kampus, dan banyak hal lain yang dianggap terlalu macho untuk dilakukan oleh seorang perempuan.

Saya sadar betul, setiap orang, tak terkecuali perempuan punya batasan kemampuan dalam melakukan hal-hal tertentu. Saya juga tidak bermaksud untuk sok kuat dengan bersikap seolah-olah tidak butuh bantuan orang lain dalam melakukan berbagai hal. Hal yang sangat saya sayangkan adalah saat ini, banyak dari kita yang cenderung menggunakan alasan keperempuanan untuk mendapat perlakuan khusus. Sebagai contoh, saat membawa barang yang sebenarnya bisa kita bawa sendiri, kita malah meminta untuk dibawakan laki-laki. Contoh lain, saat kita sebenarnya bisa pergi ke suatu tempat sendiri, kita lagi-lagi mengandalkan laki-laki. Mungkin hal ini tidak terlepas dari konstruksi masyarakat yang menganggap laki-laki jauh lebih kuat dan lebih bisa menjaga diri.

Saya tidak memiliki niat untuk merendahkan perempuan-perempuan di luar sana, akan tetapi terkadang saya justru merasa dikerdilkan oleh kaum saya sendiri, perempuan. Di tengah gencarnya isu-isu dan kampanye mengenai emansipasi, dimana banyak dari kita yang menuntut kesetaraan, kita sendiri belum paham betul seperti apa konsep kesetaraan, yang bisa dimulai dari hal yang terkesan sangat sederhana, yaitu menghargai diri sendiri sebagai seorang perempuan.



Bagaimana mungkin kesetaraan tercipta jika kita sendiri masih merasa jenis kelamin kita sebagai sebuah kelemahan. Rasa inferior ini tak jarang membuat kita terlena dan merasa bahwa kita adalah makhluk yang tak berdaya dalam melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa kita lakukan. Parahnya, banyak dari masyarakat yang seolah mengamini hal itu, contohnya teman-teman laki-laki saya dengan pernyataannya yang tidak suka dengan perempuan yang terlalu independen.  

Bagi saya pribadi, menjadi seseorang yang independen merupakan cara saya menghargai diri saya sebagai seorang perempuan. Sama seperti ketika saya akan naik gunung bersama adik saya, ia menawarkan diri untuk membawa beberapa barang saya karena takut saya akan kelelahan membawa beban, saya tidak akan serta merta mengiyakan jika merasa masih mampu.

Perlu saya tekankan lagi, perempuan independen tidak berarti kita menutup diri dari bantuan orang lain, termasuk laki-laki, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri. Kita hidup di tengah masyarakat, secara otomatis kita pasti membutuhkan orang lain. Pasti akan ada saat dimana kita benar-benar berada di titik batas kemampuan kita, dan saya rasa tidak ada salahnya menerima bantuan orang lain selama ia mau dan mampu, akan tetapi saya tidak sepakat jika perempuan harus selalu bergantung pada laki-laki.

Kita dianugerahi kemampuan untuk melakukan dan menyelesaikan berbagai hal, bukankah akan menjadi sebuah kebahagiaan jika dapat mengerjakannya sendiri daripada merepotkan orang lain? Lagi, saya pernah berbincang dengan seorang teman laki-laki ketika ia diminta untuk membawakan barang bawaan teman perempuan saya. Teman laki-laki saya mengatakan bahwa sebenarnya ia agak keberatan, karena menurutnya barang bawaan tersebut dapat dibawa sendiri oleh teman saya yang perempuan. Lalu saya bertanya kenapa ia mau membawakan, dan ia menjawab karena tidak enak jika laki-laki menolak.

Kemudian saya berpikir, bukan tidak mungkin ada banyak laki-laki di luar sana yang merasakan hal yang sama dengan teman saya, terjebak stereotip bahwa laki-laki harus bersedia membantu perempuan, bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh perempuan itu sendiri.

Pada akhirnya, berusaha menjadi seorang perempuan independen merupakan sebuah pilihan yang menurut saya tepat, terlepas dari ada sebagian laki-laki yang tidak begitu menyukainya karena membuat mereka merasa kurang dibutuhkan keberadaannya.

Saya kemudian teringat lirik lagu Banda Neira yang berjudul Sebagai Kawan: “Jangan berdiri di depanku karena ku bukan pengikut yang baik. Jangan berdiri di belakangku karena ku bukan pemimpin yang baik. Berdirilah di sampingku sebagai kawan.” Lagu ini sedikit banyak menjadi penyemangat saya bahwa masih ada orang-orang di luar sana yang setuju dengan konsep mitra, bukan pengikut-pemimpin dalam sebuah hubungan.

Adisti Pratiwi adalah penikmat lelahnya perjalanan mendaki gunung lewati lembah dan seorang mahasiswi selo Sosiologi UGM 2012 yang sedang menikmati proses menyelesaikan skripsi di tengah gempuran pertanyaan, “Kapan lulus, Dis?”