February 05, 2019
Apa yang Saya Pelajari dari Perceraian Orang Tua

Dari perceraian orang tua dan teman-teman saya yang menikah muda, saya belajar bahwa banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan pernikahan.

by Erina Oktaviani
Issues // Politics and Society
Share:
Berita soal perceraian tiba-tiba pasangan artis yang biasanya terlihat harmonis di media sosial tidak mengejutkan saya. Saya hanya berharap semoga anak mereka diberi kekuatan dan tidak trauma dengan pernikahan.

Saya sendiri mengalami perceraian orang tua dan saya baik-baik saja, meskipun tentu saja tidak sepenuhnya baik. Orang tua saya bercerai saat saya masih berumur delapan tahun. Pada waktu itu, saya belum bisa menentukan pilihan akan dengan siapa saya tinggal, sehingga hak asuh jatuh kepada ibu saya. Saya tidak mengerti apa-apa, selain menyadari bahwa ibu dan ayah saya tidak akan lagi tidur di atas ranjang yang sama, tidak akan ada lagi rutinitas sarapan sambil berbincang tentang isu dunia, dan lebih baiknya, saya tidak akan lagi melihat pertengkaran mereka.

Beranjak dewasa, saya sangat selektif dalam mencari pasangan hidup. Memasuki usia kepala dua, orang tua saya semakin sering berpesan tentang standar dalam memilih suami demi pernikahan yang abadi, atau apa saja yang harus saya persiapkan sebagai seorang perempuan agar mampu mempertahankan janji pernikahan sampai usia senja nanti.

Namun pesan-pesan dari orang tua saya justru membuat saya semakin ragu. Saya semakin skeptis dalam memandang cinta dan janji pernikahan. Seberapa hebat saran yang diberikan, toh mereka tidak mampu mempertahankannya. Banyaknya kasus perceraian yang saya jumpai di media juga membuat saya bertanya-tanya, apakah janji pernikahan hanya semata di atas kertas? Pada akhirnya saya belajar, tidak hanya dari orang tua saya, tapi juga dari teman-teman saya yang memilih menikah di usia muda dan pernikahannya tidak berhasil, bahwa banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan pernikahan.

Mencari kebahagiaan bukanlah tujuan menikah



Melihat mewahnya sebuah pesta pernikahan, nafsu saya untuk tidak menundanya terlalu lama semakin membuncah. Namun sebuah pertanyaan selalu membuat saya sadar, akan bagaimana kita setelah kemewahan ini? Orang tua saya berpesan, “Kau akan jadi pengantin bahagia hanya dalam sehari.” Mungkin maksudnya, selama pesta pernikahan ini berlangsung, kita akan dimanjakan kemewahan dekorasi, ucapan dari kerabat, bahkan senyum bahagia yang tersungging di bibir kita. Namun yang nyata adalah kehidupan setelah semua ini selesai. Mampukah kita mempertahankan senyuman itu? Jika tujuan menikah adalah untuk bahagia, maka niatmu menikah perlu dipertimbangkan lagi. Sebab hidup tidak melulu soal romansa dan jatuh cinta. Banyak faktor pemicu ujian yang mungkin datang tak terduga.

Waktu saya kecil, saat sedang bersama ayah, dia mengeluh tentang ibu. Begitu pun sebaliknya. Saya masih terlalu kecil untuk mengerti, namun saya menyadari bahwa  mereka tidak bahagia. Akan ada banyak masalah yang muncul, banyak kesedihan yang datang, faktor-faktor lainnya yang membuatmu meragukan pasanganmu. Pernikahan bukan tentang kebahagiaan, namun tentang komitmen, apakah ketika kita tahu kita tidak bahagia, kita masih bisa menciptakan kebahagiaan itu dan berjanji selalu bersama untuk mendapatkannya kembali? Apakah ketika kesedihan dan masalah datang, kita masih bisa meredam ego dan mengutamakan akal sehat dalam memecahkan setiap masalah? Karena jika yang kita cari adalah kebahagiaan, solusinya bukan menikah, namun pergi ke pasar malam dan naik komidi putar dua puluh empat jam.

Menikah ketika sudah selesai dengan diri sendiri

Sebelum memutuskan untuk menikah, saya harus mengisi semua checklist tentang apa yang saya ingin capai dalam hidup ini. Masih ada cita-cita yang harus saya wujudkan, masih banyak tempat yang belum saya kunjungi, atau makanan yang belum saya cicipi di berbagai belahan dunia. Seorang teman pernah berkata, “Mungkin kau bisa mewujudkannya dengan calon suamimu, atau siapa tahu dia adalah sumber rezekimu”. Saya membantahnya mentah-mentah.

Jika harapanmu menikah adalah agar pasanganmu membantu kita mewujudkan semua mimpimu, maka yang kita nikahi bukanlah manusia, namun kantong ajaib Doraemon yang hanya fantasi belaka. Sebab pasangan juga manusia, dan kepentingan individu dalam pernikahan menjadi kepentingan bersama. Mungkin kita akan diberi ruang, namun tidak banyak, dan kita akan menumpuk daftar mimpi yang kita susun, bahkan kita akan lupa bahwa kita punya mimpi. Tidak ada yang lebih baik dari mewujudkan mimpi dari hasil perjuangan diri sendiri.

Ketika kita selesai dengan diri sendiri, maka kita akan sepenuhnya memikirkan bagaimana menjalani pernikahan untuk kepentingan bersama. Sehingga tidak akan ada ego yang mendasarkan kepentingan siapa yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu, dan kita bisa mewujudkan mimpi baru dengan dengannya.

Ini bukan selalu tentang cinta

Ibu saya pernah berpesan, “Menikahlah dengan seseorang yang kau cintai”. Kurang lebihnya, saya setuju. Ketika sudah berumah tangga, orang yang pertama akan kita temui adalah pasangan kita. Bahkan sampai kita kembali tertidur, orang yang akan berbaring di samping kita juga adalah pasangan. Jika tidak cinta, maka yang akan kita temui adalah kegundahan karena ditemani orang yang sama setiap hari.
Semua saya pelajari ketika orang tua saya mulai tidak tidur dalam satu ranjang, atau ketika ruang keluarga sudah sepi, hanya ada saya dengan boneka-boneka yang mereka beri. Mereka sudah sibuk dengan kepentingan masing-masing seolah-olah tidak ingin saling melihat. Saya mulai mengerti, mereka mulai tidak saling mencintai. Namun ini semua bukan hanya tentang cinta. Ada beberapa faktor yang juga saya pahami, yaitu ada kalanya cinta pudar dan tidak bekerja.

Saya memerhatikan bagaimana di awal pernikahan, teman-teman saya begitu bahagia mengunggah kebersamaan mereka sebagai sepasang suami istri baru. Namun, apakah itu akan bertahan lama? Saat situasi bukan lagi tentang cinta, namun tentang perdebatan program keluarga berencana, atau pasangan yang sudah mulai sibuk dan pulang larut dan tidak ada waktu untuk kita, atau tagihan-tagihan yang semakin membengkak.

Kegagalan orang tua saya dalam mempertahankan pernikahannya tidak menjadikan saya mengutuk pernikahan. Saya selalu terbuka dengan kemungkinan baru, berkenalan dengan orang baru, bahkan mencoba membangun hubungan. Saya ingin menikah, meskipun tidak mengetahui waktu yang pasti. Pernikahan bukan tentang “coba-coba”, segala aspek perlu dipersiapkan dengan matang. Sebab saya belajar dari kegagalan orang tua saya, saya mengalami dilema sebagai anak di tengah perceraian mereka, dan saya ingin menikah sekali seumur hidup, menjadi tua dengan seseorang yang nikahi sekali untuk selamanya.

Erina Oktaviani adalah seorang karyawan swasta yang senang membaca karya Fyodor Dostoevsky dan melukis dengan cat air. Menghabiskan waktu luang yang sedikit dengan tidur dan berdiskusi tentang keberagaman.