Women Lead
March 16, 2021

Arti ‘Privilege’ yang Perlu Kalian Ketahui dan Apakah Semua Orang Punya?

Kalau kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata privilege diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “privilese” yang berarti hak istimewa.

by Kevin Seftian
Lifestyle
Share:

Sekarang sudah mulai banyak orang yang membahas privilege, apalagi di dunia maya. Pada saat Presiden Joko Widodo mengangkat beberapa muda menjadi staf khusus (stafsus), banyak orang yang berkomentar mengenai privilege

Warganet bereaksi dengan daftar stafsus ini karena ada nama Putri Tanjung, yang ayahya tidak lain dan bukan merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia, yaitu pengusaha media Chairul Tanjung.

Salah satu stafsus lain, Gracia Billy Mambrasar, yang merupakan pendiri Kitongbisa, bereaksi terhadap tudingan privilege kepada stafsus. Ia menulis di Twitter bahwa tidak perlu memiliki privilege untuk menjadi orang yang berada di sekitar kekuasaan.

Sebenarnya Apa yang Dimaksud dengan Privilege atau Privilese?

Kalau kita melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata privilege diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “privilese” yang berarti hak istimewa. Pemahaman mengenai hak istimewa ini dapat mengacu pada banyak hal, tetapi lebih sering kalau privilege diartikan sebagai hak istimewa yang cuma didapatkan bila orang tersebut terlahir dari keluarga kaya atau serba tercukupi.

Baca Juga: A Guide to the Concept of “Privilege” and What You Should Do with It

Mungkin privilege bisa diartikan sebagai sebuah modal atau kesempatan. Privilege memang tidak menjamin kita bakalan meraih kesuksesan, tetapi memberikan kita peluang atau kesempatan yang lebih besar dibanding orang lain yang tidak memiliki itu.

Sangat disayangkan, kata privilege ini kini seakan-akan terdengar negatif karena banyak orang yang mengartikan seperti mempunyai "tiket emas’ yang akan membuat kita dapat membuka segala macam pintu tanpa harus berusaha keras. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.

Privilese Punya Batasan yang Cair

Kalau melihat dari ilmu sosial, antropolog Ralph Linton pernah menyatakan sebuah istilah assigned status dan ascribed status. Assigned status merupakan status yang dipunyai seseorang karena terlahir dari golongan tertentu, contoh gampangnya terlahir di keluarga konglomerat atau lahir dari keluarga golongan elite.

Sementara kalau ascribed status bisa dipunyai karena usaha seseorang itu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan keturunan. Bisa kita simpulkan, privilege terjadi buat orang-orang dengan assigned status ini.

Meski keduanya memiliki definisi berbeda, Linton mengatakan kalau pada kenyataannya tak mudah menentukan apakah status, atau dalam hal ini merupakan keberhasilan, didapat karena memang nama keluarga atau karena memang diusahakan. Bukan tidak mungkin, loh, yang terjadi bisa saja perpaduan dari kedua hal tersebut.

Baca Juga: Kamu Orang Mana, Kamu Orang Apa: Ketika Jadi Orang Indonesia Tak Cukup

Kalau mau dibandingkan, rasanya setiap orang punya hak istimewa masing-masing. Terkadang kita lupa kalau orang tua kita sebenarnya sudah memberikan privilese tapi kita tidak sadar. Contoh gampangnya, kita sudah bisa diberikan pendidikan, diberikan akses listrik atau akses internet. Kita sering lupa kalau itu sebuah privilege juga.

Memang kalau melihat beberapa kasus, privilege ini bisa membuat kita berpikir merasa hidup itu enggak adil. Tetapi memang hidup itu tidak adil, jadi sebaiknya kita enggak terus-terusan berpikir kalau sukses cuma bisa didapat dari sana saja.

Kita mungkin sering berpikir, "Ah, si A enak dia lahir dari keluarga kaya", "Ah, si B mah enak karena bapaknya berduit jadi dimodalin bikin usaha". Lama-lama hal ini bisa membuat kita capek sendiri. Buat apa kita selalu membandingkan diri kita dengan orang lain? Seharusnya kita bandingkan dengan diri kita sendiri, diri kita tahun-tahun sebelumnya dengan diri kita yang sekarang, sudah ada perubahan apa.

Saya pribadi juga setuju dengan pendapat Oprah Winfrey, ia pernah berkata bahwa punya hak untuk menentukan sendiri jalan yang kita pilih merupakan sebuah privilege yang sakral. Tidak semua orang punya privilege untuk terlahir di keluarga dengan golongan elite, tetapi selama punya kebebasan menentukan jalan hidup kita sendiri, rasanya itu lebih dari cukup untuk disyukuri, kan?

Apa yang Dimaksud dengan White Privilege?

White privilege merupakan produk yang dihasilkan oleh white supremacy. Jadi saat orang kulit putih menempati posisi paling tinggi pada struktur masyarakat, secara otomatis mereka akan memperoleh keistimewaan.

White privilege ini bisa kita bilang merupakan hak istimewa yang diperoleh oleh orang kulit putih. Dengan keistimewaan yang dimilikinya, maka mereka enggak harus mengeluarkan usaha lebih jika ingin memperoleh sesuatu. Contoh white privilege adalah pada zaman perbudakan, orang kulit putih yang dari keluarga tidak punya uang pun masih bisa mendapatkan pendidikan lewat sekolah dibanding orang kulit hitam yang dijadikan budak.

Baca Juga: Kebijakan Pro Kesetaraan Gender Maju di Luar Negeri, Mundur di Dalam Negeri

White privilege sendiri tidak cuma didapati di negara-negara mayoritas orang kulit putih, tetapi juga diterapkan di Asia dan Afrika bahkan Amerika Latin. Secara sadar atau tidak, masyarakat dari negara-negara di wilayah tersebut juga mempraktikkan white privilege ini.

White privilege juga punya pengaruh negatif buat orang-orang yang tidak terlahir berkulit putih dan di sisi lain orang-orang Asia, Afrika, dan beberapa negara Amerika Latin bukan sebagian besar kulit putih. Seperti contohnya politik apartheid yang pernah terjadi di Afrika Selatan.

Apakah di Indonesia Ada White Privilege?

Indonesia faktanya merupakan negara bekas koloni Belanda yang sudah dijajah berabad-abad dan otomatis masyarakat Indonesia juga memberikan keistimewaan buat orang kulit putih. Biarpun Belanda sudah tidak menduduki Indonesia dari tahun 1942, tetapi budaya yang masih terus melekat yang menempatkan orang kulit putih sebagai orang yang lebih pintar, punya power serta punya keindahan secara fisik masih ada sampai sekarang.

Beauty Privilege Membuat Urusan Hidup jadi Lebih Mudah? Ini Risetnya

Beauty privilege adalah istilah untuk melukiskan betapa mujurnya hidup seseorang yang terkesan lebih mulus jika dibandingkan dengan orang lain, karena terlahir dengan fisik yang cantik atau ganteng. Berbagai riset mengemukakan kalau privilege ini akan membuat seseorang lebih bagus kariernya dan lebih dimaklumi jika melakukan kesalahan.

Namun, apakah beauty privilege itu benar ada dan seperti itu? Yuk disimak penjelasan secara objektif berikut!

  1. Pesona Fisik Memang Berpengaruh untuk Kelancaran Karier Serta Gaji Besar, Tapi…

Biarpun ada perusahaan yang lebih mementingkan kecerdasan serta attitude saat menerima karyawannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa pesona secara fisik memang punya kontribusi dalam membikin karier seseorang jadi lancar. Pasalnya, Forbes pernah mengemukakan kalau karyawan yang punya potensi untuk memperoleh gaji lebih jika punya penampakan menarik atau punya wajah menawan.

Baca Juga: Harta, Takhta, Wanita: Gambaran Buruk Soal Perempuan di Banyak Cerita

Riset menunjukkan, seseorang dengan kelebihan dalam fisiknya itu cenderung dianggap lebih sehat, pintar, dan punya karakter yang baik. Karenanya, banyak perusahaan yang memberikan beauty privilege kepada orang dengan penampakan menarik (tidak sadar atau sadar), yang notabene bisa memiliki gaji lebih besar dibanding karyawan yang lain.

  1. Memperhitungkan Kecerdasan dari Wajah Memang Akurat Didasari dari Riset yang Sudah Dikerjakan

Jurnal yang dipublikasi di Plos One memperlihatkan hasil riset yang menunjukkan bahwa melihat kecerdasan seseorang dari wajahnya itu bisa dibilang akurat. Karena, saat ada seseorang yang punya wajah menawan, maka itu menunjukkan karena ia selalu memperoleh asupan nutrisi, dapat memelihara kesehatannya, serta memiliki kecerdasan untuk merawat dirinya sendiri.

Menariknya, biarpun kalian tidak begitu pintar-pintar amat, tapi kalau kalian cantik atau ganteng, maka kalian punya peluang lebih besar untuk menjadi pintar. Apalagi ekspektasi rata-rata orang kepada orang-orang yang punya pesona fisik adalah mereka pasti pintar, makanya itu juga bisa menjadi beban tersendiri buat orang yang dinilai "menawan" supaya mau rajin belajar.

Nah, ada sisi jeleknya, kan? Beban tuntutan serta ekspektasi jadi jauh lebih besar.

  1. Orang yang Memiliki Pesona Fisik Dapat Perlakuan Berbeda dari Guru

Para ilmuwan menemukan bahwa dari rata-rata orang yang punya penampilan menawan memiliki prestasi yang lebih banyak jika dibandingkan siswa-siswa yang memiliki penampilan kurang menarik. Dari sana, kebanyakan guru yang masuk dalam sampling di penelitian ini selalu “menganakemaskan” muridnya yang lebih menarik, karena mereka selalu berambisi kalau muridnya itu dapat memberikan prestasi lebih.

Ada guru yang lebih bersemangat mengajar jika muridnya ada yang tampan atau cantik. Para guru merasa kalau mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, populer, sampai dapat memimpin para siswa yang lainnya yang punya penampilan kurang menarik.

Kalau jadi seperti itu, buat apa ada pepatah “dont judge a book by its cover”? Hal ini bisa menjadi bahan refleksi kita untuk lebih objektif, meskipun hasrat dalam penilaian lewat penampilan itu ada dalam diri pribadi.

  1. Punya Wajah Menawan saja Tidak Cukup

Journal of Business and Psychology menyatakan, punya wajah yang rupawan tidaklah cukup. Bukan karena tidak ada alasannya, perusahaan lebih senang dengan orang yang punya daya tarik, bukan cuma karena wajahnya saja, tapi dia juga harus memiliki skill untuk memperbaiki perusahaan.

Baca Juga: Akun-akun Mahasiswi Cantik Raup Untung dari Objektifikasi Perempuan

Makanya itu, berbagai perspektif yang lain seperti baju, kecerdasan, kesehatan, serta karakter juga dapat menjadi kelebihan setiap orang. Jadi, beauty privilege baru akan berguna saat kalian jadi orang yang memiliki seluruh bagian tersebut. Jadi, tidak selalu kok beauty privilege akan mempergampang jalan hidup serta karier, apalagi jika membicarakan penilaian secara objektif.

  1. Suka Memperoleh Perlakuan yang Beda, tapi Tergantung Subjektivitas tiap Individu

Walaupun kecantikan secara fisik tak cukup, tapi orang yang punya wajah yang menarik sudah bisa mendapat perlakuan yang berbeda. Di tempat kerja, banyak orang tidak punya penampilan yang menarik yang merasa iri dengan orang yang punya wajah menawan karena sering kali merasa terdiskriminasi. Bukannya mendapat omelan saat melakukan kesalahan, mereka malah dapat beauty privilege sehingga kesalahan dimaklumi.

Namun, tidak perlu khawatir, karena kharisma punya pengaruh penting dalam kehidupan sosial serta profesionalmu. Kharisma yang baik dapat terbentuk oleh semua orang dari kebiasaan yang berubah jadi karakter, dan siapa pun bisa melakukannya.