September 17, 2019
Saya Ibu dengan HIV, Mampu Lawan Stigma Masyarakat

Saya yakinkan masyarakat bahwa sebagai dengan status positif HIV, saya juga dapat bekerja dan berkreasi sebagaimana manusia pada umunya.

by Mirza Revilia
Lifestyle // Health and Beauty
Share:

Saya terinfeksi  HIV (human immunodeficiency virus) pada tahun 2002, dari pasangan saya yang dulunya adalah pengguna narkotika jenis putaw. Saat itu usia saya 23 tahun, dan saya tidak memiliki pengetahuan mengenai HIV. Saya hanya tahu bahwa HIV bisa menular lewat hubungan seks, namun saya tidak tahu bahwa virus itu juga bisa menyebar lewat penggunaan jarum suntik narkoba.

Selama 17 tahun saya telah hidup dengan HIV dan saya mempunyai tiga orang anak dari dua suami yang berbeda. Salah satu anak saya juga hidup dengan HIV. Status HIV pada ibu rumah tangga seperti saya ini terasa berat, ditambah adanya stigma di masyarakat dan posisi saya sebagai orang tua tunggal saat itu. Namun saya ingin terus kuat dan optimis, tidak lagi melihat masa lalu dan terus menerus menangis, menyesali yang sudah terjadi.

Selama ini saya mencoba mempelajari dan memahami tentang pencegahan penularan dan informasi lainnya tentang HIV, agar saya mampu mengedukasi orang lain, terutama yang awam dengan HIV. Hal ini tentu saja tidak mudah. Selama ini sulit sekali membuat masyarakat menerima saya dan buah hati saya. Contoh kecilnya, banyak yang menolak dan menghindar jabatan tangan saya karena takut tertular ketika mereka mengetahui saya positif HIV. Pergulatan saya selama ini adalah agar masyarakat di sekitar saya dapat menerima saya tanpa diskriminasi, dan paham bahwasanya penularan virus HIV tidak seperti apa yang mereka bayangkan.

Sebagai orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), saya mencoba untuk membuktikan pada mereka bahwa saya mampu berjuang untuk melawan penyakit saya. Saya yakinkan masyarakat dan lingkungan di sekitar saya bahwa sebagai ODHA saya juga dapat bekerja dan berkreasi sebagaimana manusia pada umunya. Agar masyarakat lebih terbuka dan untuk mematahkan stigma mengenai ODHA, saya juga sering menjadi narasumber dalam acara yang berkaitan dengan HIV.

Pada tahun 2016, saya bahkan berkesempatan pergi ke Kanada untuk mengikuti Kongres AIDS Internasional. Saya buktikan kepada orang lain bahwa saya mampu mengikutinya dan mengalahkan orang lain yang berlomba-lomba untuk dapat menghadiri acara tersebut. Sepulang dari acara tersebut, saya mendapatkan kepercayaan diri untuk memberikan informasi tentang HIV.

Baca juga: Rekomendasi Tempat untuk Tes HIV

Kasus HIV di Indonesia sendiri semakin mengkhawatirkan seiring bertambahnya pasien. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi, kasus ditemukan di 443 lokasi atau sekitar 84,2 persen. Hal tersebut belum termasuk dari mereka yang tidak melaporkan.

Kemenkes juga mencatat sampai Juni 2018, dilaporkan ada 301,959 kasus dan estimasi ODHA sebanyak 640,443. Dari data ini ditemukan fakta bahwa Jakarta adalah provinsi dengan pasien HIV paling banyak, yakni 55.099, diikuti oleh Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.759). Data tersebut juga menjelaskan bahwa kasus HIV banyak terjadi di kelompok usia 24-49 dan 20-24 tahun.

Jumlah kasus HIV yang dilaporkan  terus meningkat setiap tahunnya sementara jumlah penderita AIDS relatif stabil. Menteri Kesehatan Nila Moeloek memutuskan salah satu upaya yang efektif adalah menekan jumlah virus dengan terapi antiretroviral (ARV), yang harus dikonsumsi pasien sepanjang hidupnya. Dengan hidup sehat dan mau terapi ARV saya bisa  jauh lebih sehat dan produktif, sehingga masyarakat tidak perlu lagi melihat ODHA sebagai momok yang menakutkan, dengan bayangan kondisi ODHA yang selalu terlihat kurus dan pucat.

Saya juga sering mengajak teman-teman saya melakukan hal yang positif dan berdiskusi sesama ODHA dan mengajak mereka untuk ikut di pertemuan-pertemuan lembaga swadaya masyarakat. Mengapa demikian? Karena LSM yang mengerti  bagaimana memperlakukan ODHA selayaknya. Kita juga banyak bekerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintahan seperti puskesmas, rumah sakit, dan layanan-layanan yang terkait dengan HIV. Dari situlah informasi HIV bisa tersampaikan kepada orang-orang yang belum paham dan mengerti akan bahaya dan cara penularan HIV. Hidup dengan HIV tidak menjadikan ini akhir dari segalanya.

Motivasi  dan dukungan dari masyarakat akan membantu seseorang ODHA mempunyai kepercayaan diri yang besar bila ia diterima oleh lingkungan sekitar. Berikan kesempatan terbesar untuk mereka agar dapat membuktikan diri sebagai ODHA dan menjalani hidup normal layaknya masyarakat pada umumnya tanpa adanya stigma buruk untuk mereka. 

Artikel ini adalah hasil dari pelatihan menulis oleh Magdalene, bekerja sama dengan Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat (LBHM).

Ilustrasi oleh Sarah Arifin

Mirza Revilia ingin terus memperjuangkan hak-hak perempuan yang tertular HIV dari pasangannya. Ia ingin menggambarkan perempuan-perempuan ini sebagai ‘Wonder Women’, yang tangguh berjuang melawan stigma.