January 10, 2026
#WaveForEquality Issues People We Love

Dari bapak2ID Kita Belajar, Menjadi Bapak Tak Harus Kaku dan Absen di Rumah 

Dengan humor, bapak2ID mengajak seluruh ayah Indonesia untuk hadir secara penuh di rumah.

  • December 18, 2025
  • 6 min read
  • 2540 Views
Dari bapak2ID Kita Belajar, Menjadi Bapak Tak Harus Kaku dan Absen di Rumah 

Kita pasti familier, atau seenggaknya pernah melihat konten dari akun @bapak2ID berseliweran di Instagram. Sejak awal 2022, akun berlogo kuning ini mengisi lini masa media sosial saya dengan humor bapak-bapaknya yang khas. Isinya ringan, dekat dengan keseharian, dan kerap menyinggung situasi yang tak asing bagi banyak keluarga. Meski bukan bapak-bapak, akun satu itu tetap berhasil menarik perhatian saya—seorang ibu-ibu. 

Salah satu hal yang membuat saya merasa relate dengan bapak2ID adalah konsistensi mereka mengangkat urusan keluarga. Bukan soal mengejar finansial semata, di hampir semua kontennya, bapak2ID menekankan pentingnya kehadiran bapak di rumah. Pesan ini terasa relevan, mengingat peran bapak kerap disederhanakan sebatas pencari nafkah. 

Berangkat dari ketertarikan tersebut, saya berbincang dengan Pak Nuang2000, 41, salah satu pendiri bapak2ID (17/12). Dalam obrolan itu, Pak Nuang menjelaskan akun bapak2ID memang ditujukan untuk siapa saja, termasuk ibu-ibu dan adik-adik sebagai ruang berbagi isu sehari-hari. Namun, secara khusus, bapak2ID diharapkan menjadi ruang aman bagi para bapak yang ingin belajar menjadi ayah yang lebih baik. 

“Bapak2ID ingin jadi ruang aman, tempat bapak bisa belajar, bercanda, refleksi, dan tumbuh bareng, dengan cara yang membumi dan relevan dengan kehidupan sehari,” ungkapnya. 

Baca juga: Di Balik Jumat Berkah: Solidaritas Perempuan vs Beban Perawatan yang Tak Pernah Usai 

Berangkat dari Keresahan Pribadi 

Lebih jauh membahas bapak2ID, Pak Nuang2000 bersama Pak Yayat Plafon, 46, dan Pak Munawir bin Sabin, 41, menyebut inisiatif ini lahir dari keresahan personal yang mereka rasakan bersama. Menurut mereka, selama ini sulit menemukan wadah bagi para bapak untuk belajar dan berbagi secara santai, tanpa nuansa saling menggurui atau menghakimi. Padahal, keinginan untuk terus belajar menjadi orang tua dan pasangan yang lebih baik sebenarnya cukup besar. 

“bapak2ID lahir dari keresahan sederhana, banyak ayah sebenarnya ingin hadir di rumah, ingin terlibat, ingin belajar jadi ayah yang lebih baik, tapi sering tidak punya ruang untuk ngobrol tanpa dihakimi,” jelas Pak Nuang2000 mewakili bapak2ID. 

Di sisi lain, mereka juga melihat narasi tentang bapak-bapak yang beredar di masyarakat kerap menyempitkan peran ayah. Bapak sering dilekatkan dengan citra kaku, normatif, bahkan mesum. Semua gambaran yang tidak sepenuhnya adil dan ingin mereka dobrak lewat bapak2ID. 

“Kami melihat narasi tentang ayah sering kali terlalu kaku, terlalu normatif, atau malah terlalu menuntut, atau bahkan imej bapak2 sering kali mesum,” jelasnya. 

Alih-alih menyampaikan pesan melalui analisis panjang dan bahasa yang berat, bapak2ID memilih jalur yang lebih membumi. Pembelajaran mereka kemas lewat humor dan cerita keseharian—pendekatan yang dianggap lebih dekat dengan pengalaman audiens. Narasi menggurui sebisa mungkin dihindari. 

“Kami menyampaikan pesan lewat humor, cerita sehari-hari, dan pengalaman yang relate. Bukan dengan ceramah yang menggurui,” terangnya. 

Namun, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Para pendiri bapak2ID mengakui, menyeimbangkan penyampaian isu serius tanpa menyudutkan atau menyalahkan bapak lain bukan perkara mudah. Tantangan lain yang terus mereka hadapi adalah stigma bahwa keterlibatan bapak di rumah masih dianggap tidak maskulin. Setelah hampir tiga tahun berjalan, mereka belajar bahwa kejujuran dalam menyampaikan pesan adalah kunci. 

“Dari situ kami belajar, yang terpenting isi pesannya jujur dan apa adanya, dan itu akan selalu diterima oleh audiens,” tambahnya. 

Baca juga: Kisah Asep Relawan ‘Caregiver’: Kesembuhan Pasien Jadi Kebahagiaan Saya 

Urusan ‘Rumah’ Adalah Urusan Bapak juga 

Seperti yang telah disinggung di awal, isu peran ayah dalam keluarga menjadi salah satu fokus utama bapak2ID. Hal ini pula yang ditekankan Pak Nuang ketika membahas visi akun tersebut ke depan. 

Menurut mereka, peran bapak tidak berhenti pada fungsi sebagai pencari nafkah. Kehadiran bapak—secara fisik maupun emosional—sangat krusial bagi tumbuh kembang anak. 

“Kami di bapak2ID meyakini kalau peran ayah itu sangat penting dalam tumbuh kembang anak. Tanggung jawab seorang ayah itu bukan cuma sebagai pencari nafkah, tp kehadirannya juga sangat penting untuk memenuhi kebutuhan psikologis anak yang kalau kebutuhan itu tidak terpenuhi, bisa jadi masalah untuk anak di kemudian hari.” 

Data dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) memperkuat kegelisahan tersebut. Angka fatherless—atau nihilnya kehadiran ayah secara emosional—di Indonesia tergolong tinggi. Di beberapa provinsi seperti Papua Pegunungan, angka fatherless bahkan mencapai 50,2 persen, atau lebih dari setengah populasi keluarga di wilayah tersebut. Mengutip laman resmi Kemendukbangga, kondisi ini dipengaruhi oleh kuatnya norma yang membatasi peran ayah sebagai pencari nafkah semata, rendahnya literasi pengasuhan, keterbatasan akses layanan, serta budaya yang masih menitikberatkan pengasuhan pada ibu. 

Dalam konteks rumah tangga, Pak Nuang juga menekankan pentingnya pembagian peran yang adil. Khususnya dalam pengasuhan, bapak semestinya dapat berbagi tugas dengan istri sesuai kemampuan dan batasan masing-masing. 

Lebih dari itu, kehadiran emosional bapak bagi pasangan juga tak kalah penting. Menjadi partner yang suportif adalah bagian dari peran ayah yang kerap luput dibicarakan. 

“Kami harus hadir dalam sisi emosional seperti mendengarkan keluhan istri, karena kami yakin dengan kuatnya hati istri maka rumah bakal baik-baik saja. Ehehe,” ungkapnya. 

Baca juga: Kala Ibu Jadi Sumber Kesakitanku: ‘Queen Bee Syndrome’ dalam Keluarga 

Jadi Teman Tumbuh para Bapak adalah Impian bapak2ID 

Seiring berkembangnya bapak2ID, Pak Nuang, Pak Yayat, dan Pak Munawir sepakat bahwa tujuan utama mereka bukan sekadar mengejar angka pengikut atau tingkat engagement. Bagi mereka, pencapaian terbesar justru terletak pada kepercayaan audiens. 

“Pencapaian terbesar kami itu bukan angka, tapi cerita. Kepercayaan dari follower yang bisa curhat kepada kami adalah hal yang besar buat kami. Dianggap sebagai teman bukan akun rasanya lebih menyenangkan dibanding data statistik. Membuat para bapak bisa bercerita dan tidak merasa sendirian adalah salah satu tujuan kami membuat akun ini,” kata Pak Nuang. 

Ke depan, bapak2ID berharap semakin banyak bapak yang berani hadir secara utuh di rumah. Peran bapak tidak cukup berhenti sebagai provider materi, melainkan juga sebagai partner tumbuh bagi istri dan anak. 

“Tidak harus sempurna, tidak harus selalu tahu jawabannya. Cukup mau belajar, mau mendengar, dan mau terlibat. Karena rumah tangga yang sehat bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang mau berjalan bareng. Bapak-bapak ayo bersatu dan tak bisa dikalahkan!” tutup Pak Nuang. 

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).