07/07/2026
Environment Issues People We Love

Cangkul di Tangan Kanan, Buku di Tangan Kiri: Siasat Petani Indramayu Hadapi Cuaca Ekstrem

Pernah ditertawakan dan dianggap sinting karena membawa buku ke sawah, sekelompok petani-peneliti Indramayu ini sukses membangun pengetahuan iklim mereka sendiri.

  • January 27, 2026
  • 9 min read
  • 5477 Views
Cangkul di Tangan Kanan, Buku di Tangan Kiri: Siasat Petani Indramayu Hadapi Cuaca Ekstrem

Saya tiba di rumah Yusuf di Desa Mulyasari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, sekitar pukul delapan pagi, tepat di Hari Natal 2025. Rumahnya sederhana dengan cat berkelir hijau menyala, senada dengan warna batang padi di seberang jalan. Ia menyambut saya hangat dengan kopi dan kudapan. Tak lama, ia mengajak saya bertolak ke sawahnya yang hanya berjarak beberapa langkah di depan rumah.

Di pematang sawah, ia berhenti di dekat batang kayu dengan tinggi 150 sentimeter. Di bagian atasnya terpasang tabung silinder dari kaleng bekas. “Ini namanya omplong, Mbak, fungsinya mengukur curah hujan harian,” ujarnya pada saya saat itu.

Yusuf mengeluarkan penggaris kayu kecil dari sela-sela buku, mengukur tinggi air di dalam tabung, lalu mencatatnya di buku. Saya memerhatikan dengan saksama. Di dalam buku Yusuf, tergambar sebuah tabel dengan beberapa kolom, curah hujan cuma salah satunya. Ada kolom umur semai/ tanam, sifat hujan, hingga dampaknya.

Yusuf sedang mengukur curah hujan di dalam tabung bernama omplong dan mencatatnya di buku. (Foto: Purnama Ayu Rizky/Magdalene)

Rutinitas mencatat hujan ini rutin dilakukan Yusuf saban pagi, antara pukul 06.30 hingga 08.00. Menurutnya ini waktu ideal karena hujan yang tercatat, terkumpul dari malam sampai akhirnya terjadi evaporasi (penguapan). Jika turun hujan lagi setelah pencatatan maksimal di jam 8 pagi, ia baru akan mencatatnya esok.

“Curah hujan itu penting sekali,” tandas Yusuf. Dari angka-angka tersebut, ia belajar tentang pola hujan, menghubungkannya dengan ketinggian air, pertumbuhan tanaman, hingga peluang kemunculan serangan hama. Ini semua merupakan bagian dari Agrometeorologi, sebuah cabang disiplin yang enggak lagi sepenuhnya berspekulasi pada musim, dilansir dari BBC Indonesia.

Baca juga: Terjepit Panas dan Lapar di Lumbung Pangan: Beban Perempuan Petani Indramayu

Dicap Petani Gila karena Bawa Buku ke Sawah

Nyatanya buat Yusuf, rutinitas ini tak mudah dilakukan. Ia dan beberapa petani lain yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Tanggap Perubahan Iklim (P2TPI) mengaku sempat jadi bahan olok-olok tetangga dan petani lainnya.

Mereka mencatat hujan setiap hari, membawa buku ke sawah, dan berdiskusi menggunakan grafik. “Dibilang petani gila, petani sinting, bawa-bawa buku ke sawah,” ujar Tarsono, petani lainnya. Beberapa petani mengaku malu karena sering diolok-olok, bahkan ada yang berhenti mencatat karena tekanan sosial.

“Dibilang petani gila, petani sinting, bawa-bawa buku ke sawah,” ujar Tarsono, anggota P2TPI, saat mengingat masa-masa awal mereka mencatat hujan setiap hari. 

Mulanya, pencatatan ini pun dipandang tak ada gunanya. Petani sudah cukup dipusingkan oleh harga pupuk dan pestisida yang naik, biaya sewa lahan, serta harga gabah yang tak menentu. Menambah pekerjaan dengan mengukur hujan dianggap membuang waktu. 

Nurkillah, ketua P2TPI (Foto: Purnama Ayu Rizky/Magdalene)

Namun perubahan cuaca membuat kebiasaan lama tak lagi bisa diandalkan. Sejak 2019, Indramayu mengalami pola cuaca yang semakin sulit diprediksi: Kemarau panjang, kemarau basah, hujan turun di musim yang seharusnya kering, diselingi panas ekstrem. Pada periode 2020–2022, kondisi ini memicu ledakan hama, terutama tikus. 

Dalam situasi normal, tikus bermigrasi saat kemarau karena kekurangan air dan makanan. Namun kemarau basah membuat air dan tanaman tetap tersedia. Tikus tidak bermigrasi dan berkembang biak di lahan yang sama. Yusuf mengaku dalam satu musim bisa menangkap 700 hingga 800 ekor tikus, jumlah yang tak sebanding dengan kecepatan reproduksinya. 

Petani peneliti iklim melakukan pencatatan mandiri. (Foto: Purnama Ayu Rizky/Magdalene)

Dampaknya langsung terasa pada biaya produksi. Sebelum mengenal pencatatan iklim, Yusuf dan Tarsono menyemprot sawah hingga 12–13 kali per musim tanam. Setiap kali semprot membutuhkan sedikitnya tiga jenis pestisida. Biaya pestisida saja bisa mencapai Rp3,6 juta hingga Rp10,8 juta per hektare, belum termasuk upah tenaga semprot, ongkos traktor, tanam, perawatan galengan, dan bawon (bagi hasil panen). Total biaya produksi bisa menembus Rp12–15 juta per hektare per musim. 

Dalam kondisi panen normal, hasil padi di Indramayu berkisar 7–8 ton per hektare. Setelah dipotong bawon, petani menerima sekitar 5,5–6 ton gabah bersih. Dengan harga gabah 2024–2025 di kisaran Rp6.500–Rp7.000 per kilogram, pendapatan kotor berada di rentang Rp35–40 juta per hektare—angka yang langsung tergerus biaya produksi dan sewa lahan. 

Ketika panen terganggu cuaca atau hama, defisit tak terhindarkan. Sejumlah petani mengaku terpaksa berutang untuk menutup biaya tanam berikutnya. Utangnya pun menyebar, dari berutang ke tetangga, bank, koperasi, bahkan pinjaman daring. Dalam kondisi inilah, pencatatan iklim mulai dilihat bukan sebagai tambahan kerja, melainkan upaya mengurangi risiko. 

Chandra misalnya, petani yang sempat merantau ke Jakarta pada 1993 dan bekerja di sektor teknik hingga 2004, mengaku ragu dengan praktik ini. Selain bertani, ia membuka bengkel dan berdagang untuk mencukupi kebutuhan keluarga. “Kalau cuma tani, enggak nutup,” katanya.

Namun setelah melihat data yang terkumpul selama beberapa tahun, ia mulai merasakan manfaatnya. Dengan mengetahui pola hujan dan risiko hama, petani bisa menunda tanam atau memilih strategi berbeda agar panen tidak gagal total di tengah cuaca ekstrem. Karena itu, potensi merugi atau menambah beban utang bisa ditekan.

Sebelas dua belas, Tarsono merasakan dampak paling nyata pada penggunaan pestisida. Dari 12 kali semprot per musim, kini ia hanya menyemprot sekitar empat kali. Selain menekan biaya, pengurangan pestisida membuat musuh alami hama seperti laba-laba, capung, dan katak kembali muncul di sawah.

Petani peneliti iklim rutin berkumpul bergantian di rumah para anggota setiap bulan. Bulan ini pertemuan digelar di rumah Yusuf. (Foto: Purnama Ayu Rizky/Magdalene)

Baca juga: Makam Tenggelam Indramayu, Bahkan Sudah Mati pun Masih Dipersulit

Belajar Iklim dari Sawah Sendiri 

Upaya pencatatan curah hujan tak lahir tiba-tiba. Menurut Prof. Yunita T. Winarto, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, pendekatan petani-peneliti iklim berangkat dari kritik terhadap pendidikan pertanian yang bersifat proyek dan jangka pendek. 

Dalam wawancara pada 24 Desember 2025, Prof. Yunita bilang, banyak program sekolah lapangan pemerintah hanya berjalan satu musim tanam, lalu berhenti tanpa memastikan pengetahuan benar-benar dipahami dan dipraktikkan petani.

“Petaninya belum betul-betul menginternalisasi pengetahuan itu. Proyeknya selesai, belajarnya juga selesai,” kata Yunita.

Prof. Yunita T. Winarto, Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia menyampaikan komentar atas hasil paparan dan analisis petani terkait curah hujan, agroekosistem, dan evaluasi panen dalam evaluasi bulanan sekaligus halal bihalal anggota PPTPI Indramayu dan Sumedang, 14 Mei 2023, Desa Legok Kidul, Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang.
(Foto: Regina M. Rusli)

Berangkat dari pengamatannya sejak 1990-an terhadap sekolah lapangan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), Yunita lantas mengembangkan pendekatan yang menempatkan petani sebagai subjek utama pembelajaran. Konsep tersebut mulai diperkenalkan secara lebih sistematis pada 2008, ketika ia berjejaring dengan komunitas Farmer Field School di bawah Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

Pendekatan itu baru diperkenalkan di Indramayu medio 2009 hingga 2010. Komunitas sempat berhenti, lalu jalan kembali hingga bertahan sampai 2025. Awalnya, anggota komunitas berjumlah sekitar 50 petani dari berbagai kecamatan. Mereka tidak berasal dari satu hamparan lahan, melainkan tersebar di berbagai ekosistem, dari lahan irigasi teknis, setengah irigasi, lahan tadah hujan, pesisir, hingga wilayah yang lebih tinggi.

“Kenapa tersebar? Karena ekosistem Indramayu itu sangat beragam. Kalau mau belajar iklim, tidak bisa hanya dari satu tipe lahan,” tutur Yunita.

Dalam skema ini, setiap petani melakukan pengukuran curah hujan harian langsung di lahannya masing-masing. Data tersebut dicatat secara rutin dalam buku harian, lalu dianalisis dan dievaluasi bersama dalam pertemuan bulanan. Dari proses itu, petani belajar membaca hubungan antara pola hujan, kondisi agroekosistem, serangan organisme pengganggu tanaman, dan hasil panen.

“Yang kami perkenalkan bukan transfer teknologi, tapi transmisi cara belajar,” kata Yunita. “Pengetahuan lokal petani tidak ditinggalkan, justru diperkaya dengan cara belajar yang lebih cermat dan sistematis.”

Petani juga mempelajari dinamika El Niño dan La Niña, serta menyusun strategi tanam berbasis skenario iklim tiga bulanan. Manfaatnya tidak selalu berupa peningkatan pendapatan, melainkan pengurangan risiko. “Kalau petani lain gagal panen, paling tidak mereka tidak 100 persen gagal panen,” ujarnya. 

Foto bersama anggota PPTPI Indramayu dan Sumedang beserta keluarga, dihadiri Ketua UPTD Kecamatan Paseh, penyuluh pertanian lapangan, dan pengamat OPT Kabupaten Sumedang, 14 Mei 2023. (Foto: Regita M. Rusli)

Ditemui di kediaman Yusuf, Ketua komunitas Nurkillah menjelaskan, sebelum mengikuti pembelajaran Agrometeorologi, praktik bertani dilakukan berdasarkan kebiasaan turun-temurun dan tanda-tanda alam. Gagal panen dan gagal tanam dianggap hal lumrah. Setelah belajar membaca data curah hujan dan skenario iklim di komunitas, petani beradaptasi untuk menyusun strategi demi menghindari kerugian.

“Kegagalan itu sebenarnya bisa diantisipasi,” kata Nurkilah. Ia menjelaskan bagaimana data hujan harian dipadukan dengan informasi iklim tiga bulanan untuk menentukan waktu tanam, mengantisipasi hama seperti penggerek batang dan wereng batang cokelat, serta mengatur pengelolaan air irigasi.

Pengetahuan lokal tetap digunakan, seperti membaca perilaku burung atau tanda-tanda alam lain. Namun kini dipadukan dengan pencatatan dan analisis data. “Lebih komprehensif,” tandasnya.

Baca juga: Beban Bertumpuk Perempuan di Desa Oko-Oko Usai Digempur Tambang dan Smelter Nikel

Perempuan Terlibat Aktif

Pendekatan ini nyatanya melibatkan rumah tangga petani secara utuh. “Pengambilan keputusan itu tidak hanya suami. Harus ada kesepakatan bersama,” tutur Yunita. Di Indramayu, keterlibatan perempuan dalam pencatatan curah hujan berkembang secara organik. Mulai dari menemani pertemuan, ikut mencatat, hingga terlibat dalam diskusi evaluasi. 

Nunung, 54, salah satu perempuan petani, mengingat bagaimana awalnya ia hanya ikut menemani suami. “Dari situ akhirnya kita ikut mengamati,” katanya. Lama-kelamaan, ia memahami apa yang dicatat dan mengapa tidak semua hama harus dibasmi dengan pestisida. 

“Saya itu bertanya-tanya, kenapa tetangga-tetangga beli obat semprot, sementara kita tidak,” ujarnya. Jawabannya ditemukan di sawah mereka sendiri. Sawah yang tampak “panur”—tidak bersih karena tidak disemprot—justru bertahan ketika sawah tetangga terserang hama. Dari situ, pertanyaan dan rasa ingin tahu mulai sering muncul. 

Keterlibatan perempuan ini berdampak langsung pada pengelolaan biaya rumah tangga pertanian. Pengurangan semprot berarti penghematan. Dalam situasi cuaca ekstrem dan biaya produksi yang terus naik, keputusan-keputusan kecil berbasis pengamatan ini menjadi penyangga keberlanjutan. 

Kini, komunitas petani-peneliti iklim Indramayu mengumpulkan data hingga 13–16 tahun. Jumlah anggota aktif menyusut menjadi sekitar 25 orang karena keterbatasan pendanaan, namun praktik mereka menarik perhatian petani dari daerah lain. Sejumlah anggota bahkan pernah diminta berbagi pengalaman hingga ke luar Jawa. 

Tantangan ke Depan

Meski demikian, Yunita mengakui masih ada tantangan dalam keberlanjutan pendampingan. Ia menyebutkan sudah berulang kali mendorong pemerintah daerah untuk mengadopsi pendekatan ini sebagai program resmi. Nahas, upayanya kerap menemui jalan buntu karena pergantian pejabat dan orientasi kebijakan yang hanya fokus menekankan target produksi.

“Pemerintah mengejar produktivitas, padahal kondisi iklimnya tidak sinkron,” ujarnya.

Seiring berkurangnya dukungan negara, komunitas petani ini bertahan dengan pendanaan mandiri dan dukungan terbatas dari pihak lain. Namun, menurut Yunita, ketergantungan pada sponsor bukan solusi jangka panjang. “Mereplikasi model ini butuh dana, tapi yang paling penting adalah keberlanjutan belajar petaninya sendiri,” katanya.

Di tengah cuaca ekstrem, perubahan iklim, dan tekanan pembangunan, pendekatan berbasis komunitas ini menjadi salah satu upaya petani Indramayu mempertahankan kendali atas pengetahuan, keputusan, dan masa depan pertanian mereka. Memang praktik ini tidak menjanjikan panen selalu berhasil. Namun bagi Yusuf, Nurkillah, Tarsono, dan lainnya, catatan curah hujan, buku lusuh di tangan, dan diskusi bulanan memberi sesuatu yang lebih penting: Kendali atas keputusan bertani mereka sendiri. Bukan menunggu musim datang, tetapi belajar membacanya, langsung dari sawah di depan rumah. 

Akmal Maulana dan Try Utomo dari Serikat Petani Indonesia Indramayu turut membantu dan mendampingi dalam peliputan.

Tulisan ini merupakan bagian dari seri liputan yang mendapatkan fellowship dari Global Climate Resilience for All. 

About Author

Purnama Ayu Rizky

Jadi wartawan dari 2010, tertarik dengan isu media dan ekofeminisme. Kadang-kadang bisa ditemui di kampus kalau sedang tak sibuk binge watching Netflix.