July 19, 2017
Belajar dari Nilai-nilai Kesetaraan dan Persamaan Gender di Denmark

Pengalaman tinggal di Denmark membuat penulis melihat bagaimana Indonesia bisa belajar banyak dari nilai-nilai kesetaraan gender yang dianut negara Skandinavia itu.

by Ethenia Novianty Windaningrum
Issues // Politics and Society
Share:
”Jangan meletakkan uang di sembarang tempat jika tidak ingin dicopet, jangan pakai baju terbuka jika tidak ingin diperkosa”.

Saya sering mendengar ”petuah” ini, baik dari kalimat di berita, maupun dari orang-orang terdekat saya di Indonesia. Beginikah potret budaya dan norma Indonesia yang sesungguhnya?

Sudah tiga tahun lamanya saya tinggal di Denmark dan pada akhir Mei 2017 saya pulang kampung sekaligus berlibur ke Indonesia, tanah kelahiran saya. Setelah lama tinggal di Denmark, saya cukup terkejut menemui hal-hal berbeda yang ada di Indonesia. Namun, yang paling mengejutkan buat saya adalah kalimat judul di atas yang dilontarkan dan dipercaya sebagai ”Rule of thumbs” di Indonesia. Menurut saya, hal tersebut sangat salah secara fundamental.

Denmark, selain dipercaya sebagai salah satu negara ”paling bahagia” di dunia, juga merupakan negara penganut paham sosialis yang menjunjung tinggi kesetaraan dan status sosial semua penduduknya, termasuk perempuan. Angka kriminalitas dan pemerkosaan sangat rendah di sana, dan angka korupsi terkecil di dunia. Kok bisa? Singkat kata, dengan sistem sosial yang dianut pemerintahnya melalui subsidi silang pajak yang tinggi ditukar dengan kesehatan dan pendidikan gratis, serta bantuan bagi para pengangguran, hal ini mampu menekan angka kemiskinan dan kriminalitas.

Kesetaraan gender sudah diperjuangkan sejak era 60-an, yang juga melingkupi area pemerintahan dan hak berpolitik. Setelah era tersebut, semakin banyak perempuan yang bekerja di luar rumah dan mencapai posisi tertinggi di perusahaan (dengan bawahannya menganggap hal itu normal, bukan membicarakan apakah bos ini menjilat, bitchy, dll). Perempuan bebas memilih laki-laki dalam suatu hubungan, dan laki-laki yang tidak dipilih pada umumnya juga tidak dendam kesumat hingga membunuh atau memperkosa sang perempuan seperti halnya berita-berita yang sering heboh di Indonesia berjudul ”Akibat Cinta Ditolak Berujung Maut”.



Alasan lain adalah karena dari kecil mereka sudah dididik dengan nilai-nilai persamaan dan penghormatan terhadap sesama, tanpa pelajaran PPKn atau semacamnya. Bagi anak-anak perempuan, jika mereka diganggu atau dirisak dan mereka membalas, hal itu adalah normal, dan mereka dilatih untuk berani bertindak mempertahankan diri. Sedangkan bagi anak laki-laki, mereka dilatih untuk tidak merendahkan atau mengganggu anak perempuan hanya karena mereka terlihat lebih lemah.

Tumbuh menjadi remaja, kebanyakan laki-laki di Denmark pun memahami bahwa memperkosa perempuan adalah tindakan yang sangat menjijikkan. Mereka telah paham betul jika si perempuan berkata tidak atau bahkan hanya menunjukkan sinyal tidak tertarik, maka si laki-laki tidak akan ”maju”. Begitu pula dengan memanggil-manggil perempuan cantik yang lewat di jalan dengan sebutan ”Sweetie” dan sebagainya. Tidak pernah saya diperlakukan dan melihat lelaki berperilaku seperti itu kepada siapa pun. Bahkan ketika perempuannya berpakaian sangat terbuka dan berbadan montok.

Bagi para lelaki, perilaku memanggil genit seperti itu bukan hanya tidak sopan, melainkan kasar, merendahkan, dan seperti tidak punya harga diri. Tentunya cerita saya hanya mengambil contoh di Denmark dengan subyek pelaku orang lokal. Jika orang pendatang dengan budaya lain, maka perilaku mereka bisa saja lain. Begitu pula dengan negara Barat lain, seperti Amerika, Spanyol, Inggris, atau Australia. Kemungkinan berdasarkan yang saya dengar, budaya menghormati perempuan di sana berbeda dari Denmark atau negara Skandinavia lain.

Kemudian tentang pencurian. Selama saya di Indonesia dulu, saya pernah kecopetan ponsel tiga kali, kehilangan uang beberapa kali di sekolah, dan kemalingan laptop satu kali di tempat kost. Saya cukup terkejut dengan beberapa hal di Eropa. Ketika saya dulu berlibur di Paris, kamera saya ketinggalan di gedung pertunjukan Moulin Rouge. Saya sudah deg-degan setengah mati, dan ketika sehari kemudian saya kembali ke sana untuk mengecek apakah kamera saya masih ada, ternyata petugas di gedung menyimpankan dan kemudian mengembalikannya kepada saya.

Kalau di Denmark, kejujurannya lebih tinggi lagi. Menaruh bayi di kereta bayi dan meninggalkannya sendirian di halaman rumah atau depan toko pun tidak pernah ada yang menculik. Namun, bukan berarti tidak ada kasus pencurian di Denmark, hanya saja frekuensinya sangat lebih jarang ketimbang di Indonesia. Mengambil yang bukan haknya bagi mereka sudah ”by default” tidak boleh, apa pun itu dan bagaimana pun peluangnya.

Kembali ke permasalahan seputar pandangan terhadap perempuan, di Indonesia, kebanyakan orang-orang berkomentar ”pakailah pakaian yang tertutup dan sopan, jangan keluar malam-malam” supaya dihormati dan jauh dari tindak kriminal, seperti pemerkosaan. Dengan kalimat seperti itu, berarti anggapannya adalah ”Respect for women is earned”. Mereka harus bersikap “tertentu” agar mendapatkan hormat sebagai manusia dari manusia lainnya. Berarti bisa diinterpretasikan juga bahwa ada perempuan yang TIDAK LAYAK untuk dihormati berdasarkan kriteria tertentu, seringkali dari cara berpakaian. Mereka yang tidak atau kurang layak untuk dihormati berdasarkan tolok ukur masyarakat, kemudian kerap menjadi pihak yang disalahkan oleh masyarakat yang  menganggap bahwa penyebab utama tindak kriminal adalah korbannya yang ”mengundang”.

Pandangan seperti ini sangat berseberangan dengan nilai-nilai persamaan gender dan kesetaraan di Denmark. Yang mereka percaya adalah ”Respect is default”, rasa hormat itu sudah seharusnya ada untuk siapa saja, apa pun pekerjaannya, cara mereka berpakaian, dan bagaimana wajahnya, termasuk dalam hal ini perempuan. Perempuan, baik mereka mengenakan hijab, berpakaian tomboi, maupun mengenakan rok mini dan kaos menerawang, semua harus dihormati, tidak pandang bulu, dan tidak boleh diperlakukan tidak senonoh di luar kehendak mereka.

Lalu bagaimana caranya agar di Indonesia bisa tercapai ”Respect is default for women”? Apakah tercapai dari cara membesarkan dan mengedukasi anak-anak, tayangan televisi dan konten media? Atau mungkin respek terhadap perempuan ini kurang karena budaya patriarki di mana laki-laki berkuasa dan dengan bebas bisa ”membentuk”, mengontrol, dan menyalah-nyalahkan perempuan.
 
Ethenia Novianty Windaningrum mendapat gelar S2 dalam Komunikasi Korporasi dari Aarhus University, Denmark, dan sekarang menjadi warga Denmark. Mulai Agustus 2017, ia akan bekerja di IKEA di Swedia. Ia adalah salah satu penyelenggara TEDxAarhus pada 2016 dan juga Youth Goodwill Ambassador untuk Denmark. Bisa dikunjungi di blognya: www.vividinblur.blogspot.com