February 11, 2020
BEM UNJ Misoginis dan Hapus Perempuan dari Sejarah

Sensor oleh BEM UNJ akan berpengaruh pada sejarah nasional dan personal setiap perempuan yang mereka hapus keberadaannya.

by Nadya Karima Melati, Kolumnis
Issues // Politics and Society
Share:

Akun Instagram Space UNJ, sebuah organisasi mahasiswa untuk kesetaraan gender dan anti-diskriminasi di  Universitas Negeri Jakarta (UNJ), pada Minggu (9/2) mengunggah poster yang mengejutkan dari para anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya.

Dalam poster yang menggabungkan foto-foto yang dibuat oleh BEM Fakultas Teknik, terlihat bagaimana foto semua anggota perempuan dalam “kabinet” mahasiswa tersebut diedit sehingga tampil buram.

BEM UNJ1BEM UNJ2

BEM Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) lebih ekstrem lagi: Semua foto anggota perempuan diganti menjadi gambar kartun perempuan berjilbab. 

BEM UNJ3

Saya menolak sensor ini karena tindakan tersebut misoginis, atau tindakan kebencian terhadap perempuan yang bersumber pada nilai-nilai patriarki yang mengedepankan lelaki dan meminggirkan perempuan. Selain itu, tindakan ini juga berusaha menghapus peran perempuan dalam sejarah, sesuatu yang saya tentang keras sebagai sejarawan.

Tindakan misoginis ini memunculkan pertanyaan tentang kualitas pendidikan di UNJ yang menghasilkan tindakan mahasiswa yang diskriminatif, khususnya terhadap perempuan. UNJ sebagai universitas negeri seharusnya memiliki standar pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila seperti Ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tetapi publikasi yang dilakukan BEM menunjukkan upaya penghapusan perempuan sebagai manusia ciptaan Tuhan. Tindakan tersebut membuat UNJ punya pekerjaan rumah besar bagi para mahasiswa: Menanamkan kesadaran dan sensitivitas gender supaya aksi misoginis tidak terulang kembali.

Budaya misoginis di kampus

Ketika saya melontarkan kritik terhadap publikasi misoginis tersebut di akun Twitter saya, @Nadyazura, pertanyaan muncul dari teman saya, penulis/vlogger Cania Citta Irlanie, yang mencurigai jangan-jangan perempuannya yang meminta fotonya diburamkan atau diganti kartun. Argumen-argumen yang lain muncul membela unggahan misoginis tersebut adalah kemauan dan persetujuan perempuan untuk disensor atau dihilangkan demi alasan keamanan.

Baca juga: Kelompok Tarbiyah: Bagaimana Gerakan Islam Konservatif Menembus Kampus

Ada kekeliruan dalam argumen-argumen tersebut. Pertama, mengapa semua perempuan harus diburamkan atau ditiadakan jika nama lengkap dan data mahasiswi tersebut tetap terpampang dan bisa dicari dan ditelusuri? Sesungguhnya pihak kampus dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) sendiri tidak melakukan pengamanan terhadap data mahasiswa. Setiap orang bisa dengan mudah mengakses data mereka dengan mengetahui nama lengkapnya. Selain itu kita juga bisa dengan mudah mengakses akun sosial media dari nama-nama tersebut. Mengapa cuma dalam publikasi BEM saja mereka disensor? Ini menunjukkan kebencian terhadap perempuan yang tertanam di pikiran pengurus BEM.

Kedua, alasan keamanan. Saya memahami bahwa akhir-akhir ini banyak kasus kekerasan seksual digital atau revenge porn yang membuat perempuan merasa tidak aman jika sosoknya terpampang di publik. Tapi alih-alih menyensor perempuan supaya mereka merasa aman, BEM seharusnya mempelajari mekanisme penanganan kekerasan seksual di kampus supaya mampu menyediakan rasa aman dan bebas kekerasan seksual bagi perempuan.

Sejarah perempuan yang dihilangkan

Saya sangat menyayangkan tindakan misoginis BEM UNJ karena hal itu sama saja dengan menghapus eksistensi perempuan dalam sejarah. Sebagai penulis sejarah perempuan di Indonesia, saya sangat kesulitan dalam mengumpulkan dokumen tentang peran-peran tokoh perempuan karena dihilangkan atau tidak diikutsertakan dalam sejarah nasional Indonesia.

Misalnya, bagaimana diplomasi organisasi Kongres Wanita Indonesia (Kowani) pada 1946 menekan Pemerintahan Belanda untuk berhenti mengirim pasukan dalam Agresi Militer 1 dan 2. Atau bagaimana ibu-ibu rumah tangga menciptakan budaya arisan di masa kependudukan Jepang untuk memperbaiki perekonomian yang hancur. Peristiwa-peristiwa penting tersebut tidak dicantumkan dalam buku pegangan mahasiswa Sejarah Nasional Indonesia dari jilid I-VI, sehingga para sejarawan yang berperspektif gender harus benar-benar menggali setiap kait fakta dan informasi untuk membuktikan bahwa perempuan ada dan berperan dalam jalan sejarah Indonesia.

Baca juga: Maudy Ayunda Tak Akan Kuliah di USU

Sekarang bayangkan apabila perempuan-perempuan yang disensor oleh BEM tersebut berkeluarga dan memiliki anak perempuan. Menjadi anggota dan pengurus BEM adalah sesuatu yang pantas dibanggakan dalam keluarga. Suatu saat ketika perempuan ini menjadi ibu, mereka akan bercerita mengenai sepak terjang berorganisasi di kampus. Namun ketika publikasi itu ditunjukkan, anak-anak mereka akan meragukan cerita para ibu karena sosok mereka diburamkan atau diganti kartun.

Anak-anak perempuan ini akan bertanya-tanya, "Apakah salah menjadi perempuan di dalam organisasi BEM?", atau "Mengapa perempuan tidak boleh muncul di ruang publik?" Unggahan misoginis ini berdampak panjang dan membunuh impian anak-anak perempuan untuk masuk BEM atau punya cita-cita tinggi.