Relationship

‘Benevolent Sexism’: 3 Alasan Ada Perempuan yang Takut Ditraktir Laki-laki

Kadang, seksisme itu tampil ramah dan baik. Padahal tetap setia pada tujuan utamanya: mengekang perempuan.

Avatar
  • August 27, 2022
  • 7 min read
  • 2615 Views
‘Benevolent Sexism’: 3 Alasan Ada Perempuan yang Takut Ditraktir Laki-laki

Pertanyaan ini khusus buat laki-laki cis-heteroseksual: berapa kali kalian ditolak perempuan saat ingin mentraktir atau membelikan sesuatu buat mereka?

Buat perempuan yang pernah ditawari, berapa kali alasan kalian menolak adalah takut?

 

 

Loh, kenapa takut? Bukannya malah harus senang karena ditraktir? Uang si perempuan kan tetap utuh dan bisa dipakai buat keperluan lain.

Logika dua pertanyaan pertama seolah terdengar kurang nyambung, padahal tidak. Buat masyarakat patriarki, budaya laki-laki mentraktir atau membelikan barang buat perempuan sudah lama eksis dan langgeng. Sehingga logika menolak tawaran ditraktir atau dibelikan oleh laki-laki sering kali berujung tuduhan: “bodoh”, “sok mandiri”, “tidak sayang rejeki” buat perempuan.

Tidak banyak yang sadar bahwa budaya tersebut termasuk perilaku seksisme. Perilaku begini biasa disebut benevolent sexism: yaitu, bentuk seksisme yang biasanya terasa positif dan sulit dikenali, tapi dipraktikan untuk menekankan peran gender laki-laki sebagai pelindung dan penyedia kebutuhan perempuan. Perlindungan ataupun perlakuan itu diberikan dengan tujuan perempuan tetap berada dalam peran gender tradisionalnya, yang diciptakan patriarki.

Itu sebabnya, dalam masyarakat patriarki, laki-laki seperti punya tuntutan untuk tampil perkasa, seperti terlihat punya uang banyak, dan selalu bisa mentraktir perempuan—terutama yang sedang diincarnya.

Saking langgengnya benevolent sexism jenis mentraktir perempuan yang ditargetkan jadi kekasih, hal ini dianggap lumrah. Sehingga sulit kali untuk mengurainya, dan melihat permasalahan ketimpangan di dalamnya.

Memang betul, tak semua ajakan atau tawaran dari laki-laki untuk perempuan berbasis keinginan untuk menundukkan. Namun, hal itu sulit dilihat transparan karena relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang sudah berjalan ribuan tahun.

Maksudnya, laki-laki bisa saja berkilah kalau tawarannya tulus dan tidak berharap kembali. Tapi, selama relasinya dengan perempuan yang ditawarinya belum setara, kemungkinan tawaran itu disalahgunakan di kemudian hari masih besar.

Perempuan yang menerima tawaran atau ajakan ditraktir juga sebetulnya tak salah, karena dalam banyak sektor dan bidang, terutama pekerjaan, finansial, dan kesempatan ekonomi, hak-hak perempuan masih terbatas ketimbang laki-laki.

Itu sebabnya, budaya perempuan menolak ajakan traktiran laki-laki juga masih sering kena stigma ataupun tuduhan yang tidak-tidak. Padahal, ia adalah bukti nyata bahwa ketimpangan itu masih nyata.

Tiga contoh kisah di bawah bisa jadi contoh kasus mengurai benevolent sexism ini:

Baca juga: Laki-laki atau Perempuan yang Membayari Kencan?

1. Takut ‘Dijebak’ dengan Dalih ‘Utang Budi’

Serba salah memang jadi perempuan. Menerima traktiran laki-laki dengan alasan “menghargai kebaikan” berisiko disalahartikan. Menolak, meski dengan sopan sekalipun, malah dikira sombong. Padahal ini terkait dengan perasaan nyaman si perempuan.

Memang, ada perempuan yang senang-senang saja ditraktir, apa pun risikonya. Bila laki-lakinya memang betulan baik, dia tidak akan menuntut balasan meski status keduanya adalah pasangan kekasih atau menikah. Sejatinya, mentraktir seseorang harusnya bertujuan baik, yaitu menunjukkan rasa sayang atau peduli.

Sayangnya, banyak lelaki yang kemudian memanfaatkan traktirannya untuk membuat si perempuan merasa bersalah karena menolak permintaannya. Apalagi dengan dalih: “Aku ‘kan udah sering mentraktir kamu. Masa kamu nggak mau berbuat sesuatu untuk aku, sekali aja?”, meskipun si perempuan sebenarnya nggak pernah minta.

Uang, dalam masyarakat patriarki-kapitalis, memang jadi alat untuk menunjukkan kekuasaan. Dalam teori klasik tentang kuasa (power) dan otoritas (authority), kuasa memang sering dipakai untuk mengontrol individu lain, sementara otoritas eksis dalam tubuh laki-laki dalam masyarakat patriarki.

Ingat, kata Weber, otoritas adalah bentuk sah dari pendominasian.

Permintaan si lelaki bisa macam-macam, mulai dari gantian ditraktir (tapi dalam nominal yang dia tahu jauh di atas kemampuan si perempuan!) hingga ajakan untuk berhubungan seksual. Makanya, sehabis banyak mendengar cerita seram ini, banyak perempuan yang hati-hati banget saat mendapatkan tawaran traktiran dari lelaki.

Baca Juga: Pelecehan Seksual di Tempat Kerja: Dinormalisasi dan Alat Jatuhkan Perempuan

2. Takut Digosipkan sebagai ‘Perempuan Matre yang Tak Tahu Terima Kasih’ Begitu Putus Hubungan

Jika pernah mendengar lelaki semacam ini berkoar-koar soal mantan kepada kumpulannya, maka tak heran bila perempuan makin waspada.

Ini pengalaman pribadi saya. Dalam salah satu perkumpulan sesama penulis, ada seorang lelaki yang pernah mengumbar cerita tentang mantannya. Bahkan, tanpa malu-malu dia mengobral nominal uang yang pernah dikeluarkannya hanya untuk menyenangkan si mantan saat kencan—dulu, sewaktu mereka masih berpacaran.

Jujur, saya sampai bengong mendengar pengakuan laki-laki itu. Apakah dia sedang berusaha menggambarkan mantan pacarnya sebagai sosok yang ‘tak tahu terima kasih’, karena malah memutuskan hubungan mereka setelah semua pengorbanan laki-laki ini?

Situasi begini mungkin tak jarang kamu temui di keseharian, karena laki-laki cis-heteroseksual sudah terbiasa dengan semua privilese yang dibawanya sejak lahir—cuma karena terlahir sebagai laki-laki. Sebetulnya, banyak laki-laki yang bukan cis-heteroseksual, tapi masih terjebak heteronormatif, juga melakukan hal serupa. Mereka terbuai dengan kuasa yang dilanggengkan patriarki.

Makanya, tidak usah heran bila semakin banyak perempuan yang jadi takut menerima tawaran traktiran dari lak-laki—bahkan jika itu muncul dari pasangan sendiri.

3. Takut yang Dulunya ‘Traktiran Ikhlas’ Berubah Jadi ‘Utang yang Harus Lunas’ Begitu Putus Hubungan

Ini adalah curhat seorang teman Adik. Sebut saja namanya Agni. Dulu, sebelum menikah dengan suaminya yang sekarang, Agni pernah berpacaran dengan laki-laki lain. Sebut saja namanya Galang.

Nah, awalnya Galang ini sangat royal mentraktir Agni. Mulai dari traktiran makan hingga sering membanjirinya dengan hadiah-hadiah mahal. Bahkan, pulsa ponsel Agni pun sering dia bayarin. Padahal, Agni tidak pernah memintanya, meski Galang selalu memaksa dengan alasan: “Ah, aku ‘kan, cowok. Wajib dong, nyenengin kamu dengan cara ini.” Keduanya pun sama-sama punya karir bagus dan gaji relatif tinggi.

Waktu itu, Agni belum tahu bahwa yang tengah Galang lakukan adalah love-bombingupaya manipulasi pada pasangan atau calon pasangan berbentuk perhatian dengan tujuan mengontrol alias bentuk lainnya benevolent sexism.

Galang berusaha keras membuatnya tertarik dalam waktu singkat, dan cara itu berhasil. Tak lama, mereka pun mulai berpacaran.

Sayangnya, sifat asli Galang yang masuk kategori red flags kemudian keluar. Galang mulai mengatur-atur Agni, dari cara berpakaian, bersikap, cara makan, sampai dengan siapa dia boleh bergaul. Agni juga mulai dilarang pulang malam, padahal pekerjaan mereka di dunia media kadang mengharuskannya demikian. Galang juga memberikan ultimatum, bila mereka menikah nanti, Agni harus berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga saja.

Bahkan setiap kali berdebat, Galang tidak pernah mau mendengarkan Agni. Intinya, dialah yang paling benar—dan sering kali alasannya hanya karena dia lelaki.

Karena tidak tahan, akhirnya Agni memutuskan hubungan pacaran dengan Galang. Karena tidak terima diputuskan, Galang pun mengirimkan tagihan sebesar jumlah uang yang pernah dikeluarkannya. Tidak disangka, ternyata lelaki itu dengan detail dan teliti mencatat dan menyimpan semua bon restoran atau pembelian barang. Jumlahnya mencapai jutaan rupiah.

Untunglah, Agni bukan perempuan yang mudah dan mau diintimidasi. Secara bertahap, dia mengumpulkan uang sejumlah yang “dianggap utang” oleh mantan kekasihnya. Meskipun Galang akhirnya menolak dengan gengsi, Agni tidak mau tunduk pada tekanan mantan kekasihnya. Tak peduli sesungguhnya Galang-lah yang dulu selalu ngotot ingin mentraktir Agni saat mereka masih pacaran.

Baca Juga: Awas, Kekerasan Seksual Hantui Perempuan Pelamar Kerja

Jangan Cuma Split Bill, Solusi Utamanya adalah Meruntuhkan Patriarki

Bagi sesama perempuan, selama bukan kamu yang menodong, tidak masalah kok, sesekali menerima tawaran traktiran dari laki-laki atau siapa pun. Tentu saja dengan catatan, kamu sudah benar-benar merasa aman dan nyaman dengan orang itu. Pastikan kamu sudah mengenal mereka cukup lama sebelum mengiyakan traktiran.

Untuk para laki-laki, sekarang paham ya, kenapa perempuan itu menolak tawaran traktiran dari kalian? Semoga kalian bukan termasuk contoh laki-laki di atas. Bila perempuan menolak, jangan dipaksa dan tak perlu merasa tersinggung. Bisa jadi mereka merasa belum merasa nyaman.

Namun bila perempuan mengiyakan, tolong. Itu bukan berarti mereka rela kalian perlakukan sesuka kalian. Tak perlu juga mentraktir mereka setiap saat. Perempuan yang sudah bisa mengurai jebakan patriarki pasti akan mengerti.

Lagipula, sesekali split bill atau gantian ditraktir juga tidak apa-apa, kok. Apalagi kalau kalian sama-sama menjunjung kesetaraan. Tapi, solusi dari benevolent sexism yang paling tepat bukan cuma tentang mengurai kenapa budaya laki-laki mentraktir perempuan ini bermasalah, melainkan untuk terus mengikis bias-bias seksisme sampai patriarki betulan roboh!


Avatar
About Author

Ruby Astari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *