November, 11 2016
Beragama dan Ketakutan

Penekanan ajaran agama pada ketakutan akan neraka, siksa kubur, azab dan sengsara menimbulkan perasaan asing dan terkekang.

by Erika Rizqi
Issues // Politics and Society
Share:
Akhir-akhir ini, saya memikirkan keputusan untuk memilih teralienasi dari lingkungan sosial sekitar rumah. Bukan karena saya sok idealis, tetapi karena saya tidak merasa nyaman.
 
Para tetangga adalah mereka yang getol pergi ke rumah ibadah dan mengadakan pengajian, sedangkan saya adalah orang yang jengah dengan nasehat-nasehat keagamaan. Sekali lagi bukan karena saya sok pintar, tetapi lebih karena saya selalu merasa tersudutkan dan seakan-akan menjadi pendosa di tengah-tengah orang-orang suci yang rajin membaca al-Quran.
 
Perasaaan terasing itu semakin kuat saat undangan untuk hadir dalam pengajian ini dan  pengajian itu semakin banyak dan menumpuk di rumah. Lagi-lagi saya menolak untuk datang. Saya merasa bukan orang yang religius, bukan orang dengan rutinitas ibadah yang rajin, bukan orang yang betah datang ke sebuah acara keagamaan, bukan orang yang suka membaca kitab dengan bahasa yang tidak saya pahami.
 
Awal kuliah, sekitar tahun 2013, saya memutuskan untuk mengenakan hijab karena sebagian besar teman-teman kuliah saya juga memakainya. Saya sering merasa malu, dengan hijab yang menutup kepala tetapi tidak bisa membaca kitab secara lancar, sementara di awal perkuliahan saya diharuskan masuk dalam kelompok-kelompok yang mewajibkan membaca al-Quran sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Agama.
 
Pada semester kemarin, sebagai salah satu calon guru, saya diharuskan melakukan praktik mengajar di sebuah sekolah. Sekolah yang setiap pagi mengharuskan seluruh warga sekolah untuk membuka kitab, sekolah yang mengharuskan seluruh gerbang ditutup pukul 12 siang dan seluruh bagian sekolah harus berada di masjid. Sekolah yang kegiatannya tidak akan jauh-jauh dari atribut agama.
 


Batin saya terpecah, dan saya lagi-lagi merasa menjadi noda di antara orang-orang yang berusaha untuk terus dalam keadaan suci. Saya merasa terkekang. Salahkah saya? Tidak bolehkah saya menjadi tidak rajin beribadah di antara orang-orang yang berlomba-lomba memperbanyak ibadah?  Dosakah saya? Apakah neraka adalah penghukuman yang pasti untuk saya kelak?
 
Dengan sikap yang terlihat sombong tersebut, tidak lantas membuat saya menempatkan Tuhan di laci paling bawah. Tuhan, selalu menjadi pertanyaan paling besar dalam hidup saya. Bagi saya pribadi, Tuhan adalah kotak yang harus dibuka perlahan-lahan, menanyakan maksud-Nya, tujuan-Nya, kehadiranNya. Tidak bolehkah, di usia saya yang 22 tahun ini saya memulai mencari perenungan spiritual dari nol? Tidak bolehkah saya mempertanyakan kembali kenapa saya harus beragama ini dan tidak beragama itu? Atau haruskah saya sebenarnya beragama? Dosakah saya bertanya tentang keberadaan Tuhan?
 
Sejak kecil, saya mengenal Tuhan dari guru-guru di sekolah, dari para ustadz maupun ustadzah karena keluarga saya bukanlah keluarga yang taat beribadah. Tetapi pengenalan akan neraka, siksa kubur, azab dan sengsara ternyata lebih terpatri jelas di dalam ingatan seumur hidup saya selama 22 tahun.
 
Saya mengenal Tuhan dari ketakutan-ketakutan akan hukuman-hukuman bagi pencuri, pezinah, pembohong, dan lain-lain. Saya mengenal Tuhan dari tempat yang tidak terjangkau sebagai orang yang penuh dengan kesalahan. Maka, saya merasa tidak memiliki hak untuk dekat dengan kehadiran Tuhan, karena yang saya lakukan jauh dari pahala-pahala yang diajarkan di sekolah, di masjid, di lingkungan mana saja.
 
Maka, bagi saya sendiri, memilih untuk teralienasi dari lingkungan sosial adalah satu langkah berani. Saya harus menahan beragam cibiran dan tatapan tidak suka dari orang-orang sekitar. Saya juga harus belajar untuk bertanggung jawab atas keputusan yang saya ambil; untuk menjadi tersingkir dan tidak dianggap.
 
Erika Rizqi menulis untuk merawat ingatan, sedang berusaha mencari kebenaran dan pembenaran hidup. Menempuh pendidikan di Jurusan Sejarah.