December 17, 2019
Berhenti Cari Validasi dari Orang Lain

Semakin kita menjelaskan suatu pilihan yang diambil, semakin kita terdorong untuk meyakini bahwa pilihan kita keliru.

by Patresia Kirnandita
Issues // Politics and Society
Share:

Saya tumbuh dalam keluarga Jawa yang religius. Setidaknya sebelas tahun saya bersekolah di lembaga pendidikan swasta Katolik. Sembilan tahun lamanya saya menceburkan diri dalam organisasi gereja, tempat yang pernah saya sebut sebagai rumah. Pergaulan dan kegiatan saya tak jauh-jauh dari teman dan aktivitas di institusi keagamaan sampai pengujung SMA. Saya berdoa, punya konsep tabu di kepala, dan menjalankan sederet norma lainnya, sebagaimana mayoritas orang yang saya kenal.

Sejak menjadi mahasiswa, aneka keyakinan dan pandangan saya bergeser. Lewat kuliah dari beberapa dosen, saya mengetahui bahwa ada alternatif cara pandang terhadap dunia. Buku-buku yang saya lahap mempertebal pandangan baru saya. Tidak sepatutnya suatu hal dikonsumsi bulat-bulat tanpa dilihat sisi lainnya, dipercaya secara saklek seolah dunia dan manusia adalah benda-benda statis.

Keyakinan religius saya kesampingkan, demikian pula dengan keyakinan lain soal budaya yang selama dua puluhan tahun ditanamkan dalam diri saya. Klasik lah, soal bagaimana menjadi perempuan, apa saja yang mestinya dilakukan dan dihindari perempuan agar mendapat cap "baik-baik”. Contoh sederhana, saya selalu dimarahi jika pulang ke rumah lebih dari pukul 21.00.

Saya menjajal merokok. Orang tua saya marah, membawa-bawa identitas gender saya dalam omelan mereka. Saya membalas, “Lah, Bapak dulu juga ngerokok dari muda, enggak ada yang protes.”

Setelah rokok, tato menjadi pilihan yang saya ambil terkait badan sendiri. Sejak kecil, saya suka menggambar. Sejak itu pula saya mendamba, suatu hari mau punya satu atau dua gambar saya sendiri melekat di kulit saya secara permanen. Hal itu terwujud, berbarengan dengan konsekuensinya. Sebagian orang—kebanyakan yang asing buat saya—melirik dengan tatapan menghakimi, minimal punya label-label tertentu buat saya di kepalanya. Pelabelan macam ini tumbuh subur pada masa Orde Baru hingga kini, paling tidak termanifestasi dalam syarat perekrutan pegawai negeri, di mana orang bertato dianggap menyimpang.

Sederet hal tidak normatif lainnya saya lakukan. Sempat berhubungan dengan seorang yang mempraktikkan poliamori membekali saya pengalaman bahwa relasi bisa berjalan baik-baik saja di luar jalur monogami. Saya belajar, kepercayaan dan keterbukaan menjadi fondasi hubungan macam itu, sebagaimana ditemukan pula dalam relasi monogami, di samping energi, waktu, toleransi, dan kompromi ekstra yang mesti disediakan pasangan poliamori. Saya gagal dalam relasi macam itu, tetapi setidaknya saya tidak lagi menghakimi orang yang memilih jalan demikian, open relationship atau open marriage.

Baca juga: Pentingnya Sikap Berani Sendiri

Banyak perempuan mengidamkan dilamar sang pacar lalu menggelar pernikahan impiannya. Pernikahan mereka pandang sebagai hal sakral, bukti cinta, salah satu #lifegoals yang kalau tak tercapai rasanya hidup tidak lengkap, cara membahagiakan orang tua, jalur sah untuk punya anak, dan sebagai ikatan antara dua insan. Pandangan saya 180 derajat dari itu.

Saya tak suka pernikahan sebagai institusi maupun pernikahan dalam artian pesta. Saya tetap menghargai orang-orang yang mengamini pernikahan, tetapi di mata saya, hal itu tidak lebih dari perjanjian hitam di atas putih yang mengantar anak saya pada pintu-pintu peluang kelak. Untuk bersekolah dan bisa memegang paspor, anak setidaknya memerlukan akta lahir yang pembuatannya mensyaratkan pelampiran dokumen nikah.

Disonansi pikiran

Beralih ke isu kesehatan mental. Sejak 2015, saya menjalani terapi dengan profesional-profesional yang berbeda untuk masalah depresi dan gangguan kecemasan. Kini, saya telah menerima kondisi saya yang cacat cela, lain dari mayoritas orang yang bisa berfungsi untuk dirinya maupun masyarakat tanpa banyak kendala. Ketika masuk masa relapse, jangankan untuk bekerja, bangun dari kasur untuk mengambil makan pun rasanya seperti berjalan dengan rantai baja.

Sebagaimana sering tercantum di macam-macam artikel yang menyinggung testimoni orang dengan masalah mental, kami kerap kali tidak dipercaya sakit betulan, hanya dianggap kurang iman, manja, kurang berjuang, dan lain sebagainya. Boro-boro dipahami dan diberi dukungan, didengarkan dan dipercaya keluhannya saja masih jadi hal untung-untungan.   

Karena masalah tersebut, karier saya juga mandek. Saya sempat alergi masuk kembali dalam sistem kerja korporasi—yang saya duga 90 persennya di Indonesia masih awam soal isu kesehatan mental dan mau memberi toleransi seperti halnya masalah sakit fisik. Di pekerjaan tidak tetap saya, beberapa kali saya meragukan kemampuan diri dan hilang fokus ketika relapse. Dalam kondisi macam itu pun, ada saja yang berpikir, “Kok kamu enggak bekerja (tetap) sih?”, “Kok sampai mundur dari kantor lama, sih?”. Seolah saya adalah makhluk tolol yang membuang-buang kesempatan gara-gara sakit yang “dibuat-buat”.

Untuk tetangga, keluarga jauh, kenalan, kolega yang kita saja tidak hafal divisinya, tidak perlulah menguras energi untuk menjelaskan tentang diri kita, apalagi bila posisi kita di luar jalur normatif.

Lalu ketika punya anak, saya baru menyelami rimba motherhood dengan segala shaming, instruksi, cekokan tradisi, dan beragam pola asuh yang menjadi opsi. Saat melakukan pola asuh A dan bertemu teman sesama ibu yang menjalankan pola asuh B, sering kali seseorang merasa ditodong penghakiman dan ancaman dipermalukan. Kalau tidak sejalan, seakan-akan ia bukanlah ibu yang baik, entah itu urusan menyusui, menitipkan anak, atau sesederhana cara menggendong anak dan meluapkan keletihan luar biasa menjalani peran orang tua.

Di berbagai isu yang saya sebut tadi, bukan sekali dua kali saya mengalami disonansi pikiran. Saya yang dulunya dididik dengan cara normatif, banting setir mempercayai hal yang sama sekali berbeda. Ekspresi-ekspresi macam, “Kok gitu sih?”, “Kenapa enggak ngikutin orang normal lainnya aja?”, “Kamu beda, ikut ajaran enggak bener ya?”, “Udah kepinteran kali, sampai begitunya ninggalin tradisi”, “Kok anaknya udah dibawa keluar rumah sebelum tiga bulan?” ibarat peluru dari senapan mesin yang ditembakkan ke saya. Namun seiring waktu, saya tak mengizinkan semuanya menembus tubuh saya.

Berhenti cari validasi

Sudah wajar, sebagai makhluk sosial, seseorang mencari persetujuan atau validasi masyarakat dan hendak menjustifikasi sesuatu ketika itu tidak berjalan sesuai konsensus sosial. Keberhargaan diri dipikirnya datang dari hal-hal macam itu. Karena itulah, saat ia tidak memenuhi ekspektasi orang lain atau masyarakat, ia merasa mesti menjelaskan kepada mereka sampai benar-benar paham.

Ini bisa menjadi problem ketika pencarian validasi mulai berlebihan dan terus menerus. Editor PsychCentral Margarita Tartakovsky beropini, penjelasan berulang atas suatu pilihan yang diambil justru mendorong seseorang meyakini bahwa dirinya salah, pilihannya keliru. Saya sepakat dengan Tartakovsky. Ketika memilih mengesampingkan agama, mempunyai anak, mengadopsi pola asuh tertentu, tidak mengambil pekerjaan tetap selama sekian lama, serta menjalani terapi mental, saya tidak merasa ada yang keliru.

Baca juga: Refleksi Setelah Lebaran: Konsisten Menjadi Diri Sendiri

Jika orang tertentu bertanya, saya akan menjawab tanpa polesan pemanis demi diterima. Adalah bonus jika orang tersebut bisa mengerti, tetapi bukankah hal itu ada di luar kontrol kita? Pikiran manusia lain, perasaannya, serta tindakan yang kelak diambilnya tidak pernah ada dalam kendali kita. Saat lawan bicara gagal paham dan justru menyerang kita habis-habisan, bukan melulu serangan argumen balik yang mesti dipersiapkan. Kadang kita butuh mempertebal dinding abai kita terhadap komentar-komentar menyerang.

Kalau pun butuh menjelaskan, saya pikir, penjelasan sekali cukup. Bahkan mungkin kadang kita cuma perlu menjawab, “Ya, karena saya mau” atau “Karena saya percaya begitu”. Itu pun kepada orang-orang yang menurut kita signifikan. Bagi selebihnya? Untuk tetangga, keluarga jauh, kenalan, kolega yang kita saja tidak hafal divisinya, tidak perlulah menguras energi untuk menjelaskan tentang diri kita, apalagi bila posisi kita di luar jalur normatif. Sebesar apa pun daya upaya dikerahkan, bila berkenaan dengan nilai hidup seseorang, ujungnya bisa jadi sia-sia menjelaskan tentang diri dan pilihan hidup kita.  

Dulu, saya mengejar betul penerimaan orang. Sampai akhirnya saya sadar, batin saya ibarat ember bocor yang dituangi sebanyak apa pun penerimaan, akan tetap kosong. Saya berhenti mencari itu. Alih-alih penerimaan orang, saya lebih berfokus pada tanggung jawab atas semua pilihan hidup saya, konsekuen, dan terus menjalaninya selama tidak merugikan siapa pun. Saya ingat betul, suatu kali kawan baik saya berujar, “Stop menjelaskan, mencari approval. You will be judged anyway.”

Ia benar. Mau berbuat baik dan menoreh prestasi seperti apa pun, seseorang yang loncat dari norma sekali saja bakal dicap buruk. Mau menjelaskan sampai lidah kelu juga tidak ada gunanya. Penjelasan berulang hanya agar diterima banyak orang, bisa menyenangkan masyarakat dan tidak dilabel jelek hanya akan menjadi upaya untuk mengikis rasa sayang terhadap diri. Toh tidak setiap waktu kita mesti dimengerti dan dunia ini tidak berhenti saat hujan penghakiman menghampiri.

Kita hanya perlu belajar menari di bawah hujan macam itu.    

Patresia Kirnandita adalah alumnus Cultural Studies Universitas Indonesia. Pengajar nontetap di almamaternya. Ibu satu bocah laki-laki dan lima anak kaki empat. Senang menulis soal isu perempuan, seksualitas, dan budaya pop.