June 11, 2019
Refleksi Setelah Lebaran: Konsisten Menjadi Diri Sendiri

Di tengah keluarga yang semakin konservatif, penting untuk menjadi diri sendiri agar mereka yang lebih muda mendapatkan panutan yang berbeda.

by Elma Adisya, Reporter
Issues // Politics and Society
Happiness Happy Self Help Care Health Thumb, Magdalene
Share:

Sumpek dan tidak membahagiakan, itu kesan saya terhadap Lebaran tahun ini. Hal ini berbeda dengan perasaan waktu saya kecil. Lebaran adalah hari yang paling saya tunggu karena hidangan yang lezat dan “salam tempel”.

Beranjak dewasa, aura sukacita Lebaran tidak pernah saya temukan dalam pertemuan keluarga besar. Saat remaja, mulai ada pembagian tugas domestik di semua rumah yang semuanya dibebankan pada perempuan. Hal ini membuat saya bingung karena saya yang bertamu, kok saya (dan saudara-saudara perempuan seumur) juga yang harus cuci piring dan beres-beres.

Tahun ini adalah puncak dari semua hal yang menyebalkan dari Lebaran. Suasana politik yang panas usai Pemilihan Umum, arus konservatisme agama yang semakin kuat di hampir semua keluarga besar, dan pertanyaan basa-basi menjurus seksis, sangat merusak semangat Lebaran ini.

Pada hari pertama, saya dan Ibu berkunjung ke rumah adik almarhum ayah saya. Setelah makan siang, Om dan Tante bertanya mengenai siapa yang saya pilih di Pilpres 2019 ini. Agak ragu dan sedikit takut, saya berkelit dengan mengatakan bahwa kedua kubu tidak memenuhi kriteria calon pemimpin versi saya. Mereka marah mendengar jawaban saya dan berbuntut membicarakan tentang betapa curangnya pemilu kali ini. Padahal apa yang mereka percayai saat ini berasal dari pesan broadcast di grup-grup WhatsApp yang sebagian besar isinya hoaks.

Saat saya mengingatkan hal ini, mereka sangat defensif dan tidak mau kalah, malah semakin keras dengan argumen mereka. Akhirnya saya kembali memilih untuk diam.

Hari berikutnya, saya dihadapkan pada kenyataan banyaknya saudara sepupu yang mengikuti tren hijrah, ditandai dengan celana yang semakin ngatung dan jenggot panjang (untuk yang laki-laki), dan jilbab sepanjang paha dan baju longgar menjuntai sampai lantai. Kecenderungan ini sudah terlihat beberapa tahun belakangan, seiring tren hijrah di kalangan masyarakat muslim Indonesia.

Keluarga besar kami yang dari Sumatra Barat ini memang religius, namun generasi orang tua kami tidak terlalu “vulgar” dalam menampilkan keagamaan mereka. Ibu saya masih memakai tutup kepala dengan leher terbuka dan para tante juga menggunakan kerudung pendek dan baju yang masih memperlihatkan lekuk tubuh. Saya sendiri masih konsisten tidak mengenakan hijab dan menjadi satu-satunya yang masih menampakkan rambut di keluarga besar inti. Hal ini mengundang komentar dari sejumlah tante.

“Loh, hijabnya mana, Elma?”

“Kapan berhijab lagi?”

“Ayo dong, berhijab.”

Semuanya saya jawab dengan tawa dan mengatakan bahwa memakai hijab itu perkara gampang. “Aku pingin senang-senang dulu, Tante,” ujar saya.

Selain masalah hijab, pertanyaan soal pernikahan sudah mulai menghinggapi saya padahal saya baru lulus kuliah tahun lalu dan baru mulai bekerja.

“Pasangannya mana?”

“Oh, sudah kerja? Kapan ganti paspor jadi warna merah?”

Huh?

“Itu loh, buku nikah.”

Karena isu pernikahan tidak mendapatkan tanggapan yang diinginkan, topik beralih pada pekerjaan.

“Kerja jadi reporter, membahas apa saja itu?” tanya seorang kakak sepupu perempuan.

“Isu perempuan, Kak. Kesetaraan gender, kesehatan, ketimpangan sosial...”

Raut wajah kakak sepupu berubah sedikit terperangah.

Hah? Kesetaraan gender? Melanggar yang ada di Alquran, dong? Mau bagaimana pun, kan perempuan dan laki-laki enggak bisa setara,” ujarnya.

Saya pun terenyak. Awalnya saya pikir dia hanya bercanda, tapi dengan wajah serius ia kemudian menyarankan agar saya pindah bekerja di tempat lain.

Pada titik itu saya sadar bahwa saya memang sangat berbeda dari sebagian besar keluarga saya, dan ini membuat saya bersedih. Dari Lebaran pertama hingga hari kelima setelahnya, saya mulai paham mengapa beberapa saudara saya memutuskan untuk tidak menghadiri pertemuan keluarga di hari raya ini. Salah satunya adalah kakak sepupu yang tidak memiliki anak. Saya bisa membayangkan tekanan yang dihadapinya sampai dia jarang terlihat. Situasinya memang melelahkan baik fisik dan mental.

Di satu sisi saya merasa harus “menyesuaikan diri” agar tidak terlalu “berbeda” dalam keluarga, paling tidak untuk menghormati Ibu. Namun, di sisi lain, menjadi diri sendiri sangat penting meski menjadi sasaran pertanyaan dan penghakiman dari saudara.

Walaupun berat, saya tetap berusaha untuk tidak berbohong dengan pilihan-pilihan hidup saya. Saya tidak menutupi apa pekerjaan saya dan apa yang saya kerjakan selama ini. Saya pun juga tidak menutupi apa yang saya pilih dan saya percaya. Beberapa pilihan seperti tidak mengenakan hijab, menangkal berita bohong di keluarga, dan bekerja dalam isu-isu kemanusiaan adalah hal-hal yang ingin saya jalankan secara konsisten. Selain untuk diri saya sendiri, hal-hal itu juga dijalankan agar keponakan-keponakan dan saudara-saudara yang usianya lebih muda dari saya tahu, jika ada tante atau saudara mereka yang akan membantu mereka ketika  ada masalah yang tabu untuk ditanyakan pada orang tua mereka yang masih berpikiran kolot.

Mungkin untuk Lebaran tahun depan, saya akan cuti dulu dari acara keluarga dan lebih memilih untuk menghindar dan menyendiri daripada mengalami kecemasan yang meningkat. Kecuali jika para saudara mengubah pikiran dan memutuskan bahwa siapa pun yang belum menikah, meski sudah bekerja, akan mendapatkan salam tempel.

Baca tentang identitas yang diadopsi Elma karena merasa tidak cocok dengan ekspresi gender normatif.

Ilustrasi oleh Adhitya Pattisahusiwa

Elma Adisya adalah reporter Magdalene, lebih sering dipanggil Elam dan Kentang. Hobi baca tulis fanfiction dan mendengarkan musik  genre surf rock. Jangan sungkan menghubunginya di Twitter @spoopyydoo