September, 18 2017
Berhenti Mengatai Laki-laki Tidak Pemberani Sebagai Perempuan

Berhenti menunjuk bagian yang dianggap lemah dan tidak diharapkan dari laki-laki sebagai perempuan.

by Trias Yuliana Dewi
Issues // Politics and Society
Share:

Orang harus mulai berhenti berkata:
"Pengecut lu! Pake rok sana!"
"Ah, cemen, kayak perempuan. Pake lipstik aja gih."
“Masa gitu aja enggak berani? Lu cowok apa cewek sih?”
 
Permasalahannya tentu bukan soal rok atau lipstik. Tapi benda-benda itu disebutkan karena berasosiasi dengan perempuan.
 
Laki-laki yang tidak cukup berani masuk rumah hantu, atau melakukan panjat tebing, atau tidak main bola, dikatai perempuan. Seolah-olah tidak ada satupun perempuan yang berani masuk dengan tertawa-tawa ke rumah hantu. Atau memanjat tebing atau menendang bola dengan profesional.
 
Parahnya, ucapan-ucapan yang mengejek laki-laki sebagai pengecut dan bukan pemberani , dalam arti tidak memenuhi harapan masyarakat atas standar lelaki sejati seharusnya, sering pula diucapkan keras-keras oleh perempuan.



Laki-laki yang menangis dikatai.  
"Ha ha ha ha he’s crying like a little girl."
Memangnya little boy tidak menangis?
Orang-orang juga harus berhenti mengatakan: "Hahaha cemen. Bencong lu!"
Kalau yang semua orang pernah ucapkan sebagai bencong adalah laki-laki yang bertutur sengau, berdandan seperti perempuan, memakai gincu dan pupur, memakai rambut dan bulu mata palsu, serta stiletto, mereka justru sangat pemberani. Mereka bukan pecundang. Berapa banyak pria dan wanita tersiksa berpura-pura karena tidak cukup berani mengakui orientasi dan mengenali tubuhnya sendiri, yang berani para bencong lakukan?
Orang-orang harus berhenti berpikir bahwa perempuan dan bencong adalah selalu simbol kelemahan laki-laki. Perempuan selalu diasosiasikan sebagai sebuah kata sifat dan kata keterangan. Yang menjadi lawan kata yang serba laki-laki. Yang bernyali, yang gagah, yang sportif, yang menantang. Yang pemberani, yang mahir. Padahal mereka berdiri sendiri-sendiri. Bukan negasi satu sama lain. Berdirinya sendiri-sendiri adalah seharusnya selalu sebuah afirmasi.
Guru dari Fanny Mendelssohn, pianis perempuan yang menciptakan sonata terkenal Easter Sonata, pernah berkirim surat dengan Goethe, menceritakan kepandaian Fanny berpiano.
 
She plays like a man.”
 
Orang-orang harus berhenti mengatakan bahwa perempuan adalah selalu sisi tidak berani. Tidak tangguh. Tidak mahir. Tidak sepatutnya, dari laki-laki.
 
Bahwa ada laki-laki yang pengecut. Ada yang penakut. Ada yang takut hantu. Ada yang gelagapan atas ketinggian. Ada yang tidak bisa menyetir tapi pandai memasak. Ada yang tidak merokok dan tidak berkelahi. Mereka tetap laki-laki. Akui. Terima. Keberadaanya tidak mengubah apa-apa. Mereka tetap laki-laki.
Orang-orang harus mulai berhenti menunjuk bagian yang dianggap cacat dan tidak diharapkan dari laki-laki sebagai perempuan. Sebagai bencong. Sebagai pemakai rok atau gincu.
Orang-orang harus mulai menerima dengan sadar bahwa gender hanya kelompok besar manusia. Dan manusia secara sendiri-sendiri memiliki hak menjadi dirinya. Meski tidak gagah berkelahi, memanjat tebing, atau berani menghadapi ‘hantu’.
Orang-orang bahkan harus mulai belajar hanya untuk mengumpat. Bagaimana mengumpat dengan pantas.
Mulai sekarang, jika ingin mengumpat, cukup: "Pengecut lu!!"
Sudah, titik. Tidak perlu ada penambahan “seperti perempuan, seperti bencong, pakai rok sana, pakai lipstik sana, pakai kutang, tumbuhkan toket” dan lain-lain dan sebagainya.
Berhenti mengasosiasikan perempuan dan bencong serta atribut mereka dengan kepecundangan.
Saya tidak berkata perempuan atau bencong tidak ada yang pengecut, atau lemah, atau penakut, atau brengsek. Tapi setidaknya, saya hampir tidak pernah mendengar ada yang berkata pada perempuan: "Pengecut lu, seperti laki-laki."
Perempuan justru dihakimi jika memakai atribut kelaki-lakian.
"Kok perempuan rambutnya cepak? Kok perempuan naik motor besar? Kok perempuan manjat-manjat tebing? Kok perempuan main bola?"
Orang-orang harus berhenti mendefinisikan perbedaan laku sifat dalam satu gender dengan menunjuk gender lain.
Orang-orang harus belajar tidak menunjuk pihak lain untuk menyalahkan hal yang dia anggap tidak benar dalam dirinya.
Orang-orang harus belajar membungkam mulutnya untuk tidak mengatai orang lain dengan banyak ‘kok?’.
Belajarlah menerima bahwa ada laki-laki yang takut hantu, takut ketinggian, dan membenci bola. Dan mereka bukan pecundang. Bukan perempuan. Bukan bencong. Mereka masih tetap laki-laki.
Berhenti berkata supaya tidak makin meramaikan definisi bahwa pengecut, penakut, dan pecundang itu memakai rok, memakai gincu. Perempuan. Juga bencong.
Trias Yuliana Dewi, seorang perempuan yang sudut pandangnya banyak membelok, oleh karenanya ia menulis.