Bagaimana Media Jadi Sponsor Kekerasan: Pelajaran Penting Usai Baca ‘Broken Strings’
Semalam saya menamatkan Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth karya Aurelie Moeremans. Buku digital itu saya lahap dalam sehari, sambil berkali-kali menahan emosi dan bertanya dalam hati: Bagaimana mungkin ada manusia sejahat ini. Gaya penceritaannya ringan dan mengalir, tetapi justru di situlah letak bebannya. Kisah hidup Aurelie dibuka dengan nada yang nyaris biasa, lalu perlahan membawa pembaca masuk ke pengalaman yang semakin lama terasa semakin menyesakkan.
Emosi saya memuncak sekitar halaman 38, ketika Aurelie akhirnya membiarkan pelaku menyentuh tubuhnya. Bukan karena menginginkannya, melainkan karena ia menyerah pada tekanan, rasa bersalah, dan tuduhan bahwa dirinya tak pernah cukup dalam hubungan itu.
Saya membayangkan betapa rapuhnya anak berusia 15 tahun yang datang ke negara baru membawa mimpi besar, lalu berhadapan dengan laki-laki dewasa berusia 29 tahun yang berkata, “aku sayang kamu”, memberi perhatian, dan berjanji akan menjaga. Relasi yang seharusnya menjadi ruang aman itu justru berubah menjadi jebakan. Kasus ini mengingatkan kita bahwa pelaku kekerasan tidak selalu datang dengan wajah garang; sering kali mereka hadir dengan bahasa cinta. Perhatian dijadikan umpan, kasih sayang dijadikan senjata.
Korban perlahan dibuat ragu pada dirinya sendiri. Ia merasa terlalu sensitif, berlebihan, bersalah karena dianggap terlalu banyak membuat batasan. Semua itu dialami Aurelie ketika ia masih anak-anak. Saya marah setiap kali membaca bagaimana ia mengalami kekerasan fisik dan mental, serta dimanipulasi melalui drama dan rasa bersalah agar tetap bertahan dalam relasi yang merusak.
Baca juga: ‘Broken Strings’: Membaca Kekerasan Lewat Tubuh, Bahasa, dan Waktu
Ketidakberdayaan Gara-gara Ketimpangan Relasi Kuasa
Pengalaman Aurelie memperlihatkan kekerasan dalam kasus child grooming hampir selalu berangkat dari relasi yang tidak setara. Anak berada dalam posisi rentan ketika berhadapan dengan orang dewasa yang lebih tua, lebih berpengalaman, dan dianggap lebih dapat dipercaya. Ketimpangan inilah yang melumpuhkan daya tolak korban.
Aurelie berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri. Ia merasa egois bahkan bersalah karena terlalu sering berkata tidak. Pun, ia menganggap dirinya sebagai sumber konflik. Padahal, semua itu adalah hasil manipulasi yang bekerja pelan namun sistematis.
Kasus ini bukan pengecualian. Di Indonesia, child grooming sering terjadi dalam relasi kuasa yang timpang, termasuk di ruang-ruang yang dianggap aman. Ini termasuk institusi pendidikan, komunitas agama, bahkan keluarga. Polanya sama, pelaku memanfaatkan usia, otoritas, dan posisi sosial untuk membungkam korban.
Child grooming adalah proses membangun kepercayaan secara bertahap demi tujuan eksploitatif. Ia tidak dimulai dengan kekerasan, melainkan dengan perhatian berlebih, perlakuan istimewa, dan janji perlindungan. Kekerasan datang kemudian, ketika korban sudah terikat secara emosional.
Dalam kacamata sosiologis, ini mencerminkan budaya yang menempatkan anak sebagai subjek patuh, sementara orang dewasa selalu dianggap benar. Perilaku eksploitatif dibingkai sebagai cinta, kecemburuan dinormalisasi sebagai perhatian, dan kontrol emosional dipresentasikan sebagai kepedulian.
Akibatnya, korban tidak hanya kehilangan kendali atas tubuhnya, tetapi juga atas cara memahami dirinya sendiri. Inilah mengapa child grooming berbahaya karena kekerasannya dibungkus bahasa kasih sayang. menyusup lewat bahasa kasih sayang.
Baca juga: ‘Broken Strings’: Kesaksian Aurelie Moeremans tentang ‘Grooming’, Pemerkosaan, dan Kekerasan Seksual
Victim Blaming Media dan Opini Publik
Saat membaca Broken Strings, saya seperti detektif yang menelusuri ulang pemberitaan tentang Aurelie pada 2010–2017. Yang saya temukan membuat dada sesak. Begitu banyak judul yang sama sekali tidak berpihak pada korban.
Alih-alih membongkar relasi kuasa dan kekerasan, media justru memilih sudut pandang sensasional. Judul-judul disusun demi klik, bukan empati. Tubuh dan moralitas Aurelie dijadikan pusat cerita, bukan trauma dan manipulasi yang ia alami.
Judul seperti “Aurelie Moeremans Kirim Foto Telanjang ke Mantan Suami” atau “Aurelie Moeremans Kenakan Gaun Seksi, Warganet Salah Fokus” memperlihatkan bagaimana media menggeser perhatian dari kekerasan ke tubuh korban.
Dalam Critical Discourse Analysis (CDA), media bukanlah ruang netral. Norman Fairclough dalam Language and Power (1989) bilang, wacana adalah praktik sosial yang memproduksi dan mereproduksi relasi kuasa.
Dalam konteks ini, framing media menentukan apakah Aurelie diposisikan sebagai korban kekerasan atau justru sebagai subjek yang harus dihakimi. Ketika publik bertanya, “Mengapa dia bertahan?” atau “Mengapa tidak melapor?” Di situlah victim blaming bekerja.
Yang tidak dikatakan media sama pentingnya dengan yang dikatakan. Minimnya pembahasan tentang ketimpangan usia, kuasa psikologis, dan ketergantungan emosional menunjukkan bagaimana kekerasan non-fisik sering tidak diakui sebagai kekerasan yang sah.
Baca juga: Salahkan Pelaku Bukan Korbannya: Kasus ‘Child Grooming’ di Gorontalo
Pendidikan Seks: Dari Rumah hingga Relasi
Sebagai mantan guru SD, Broken Strings meneguhkan keyakinan saya bahwa pendidikan seks tidak bisa ditunda atau hanya diserahkan pada sekolah. Ia harus dimulai dari rumah, dari relasi yang hangat dan aman.
Pendidikan seks bukan soal mengajarkan praktik seksual, melainkan mengenalkan tubuh, batas personal, dan rasa aman. Anak perlu tahu tubuhnya miliknya, dan ketidaknyamanan adalah sinyal yang sah.
Albert Bandura dalam Teori Social Learning menjelaskan anak belajar dari relasi. Ketika orang tua membuka ruang dialog tanpa menghakimi, anak belajar bahwa dirinya layak didengar.
Kasus child grooming sering terjadi bukan karena anak “tidak tahu”, melainkan karena anak tidak punya ruang aman untuk bercerita. Ketika orang dewasa membungkam atau menertawakan, anak belajar satu hal: diam lebih aman daripada jujur.
Broken Strings mengingatkan kita, rumah seharusnya menjadi tempat pertama di mana anak belajar bahwa tubuhnya berharga, suaranya sah, dan ceritanya pantas dipercaya.
Terakhir, saya hanya ingin mengatakan salut untuk Aurelie. Keberaniannya membuka luka bukan hanya tentang dirinya, tetapi tentang memutus siklus kekerasan dan memilih untuk sembuh.
Uswah Sahal adalah penulis dan peneliti independen dengan ketertarikan pada kajian sastra, budaya, gender, dan isu lingkungan.
















