October, 23 2017
Butuh Belasan Tahun untuk Akhirnya Mencintai Kulit Gelapku

Konsep kecantikan warisan kolonialisme - kulit putih, rambut panjang-lurus dan tubuh langsing -- masih melekat dan dilanggengkan di masyarakat.

by Shanaz Makrufa
Issues // Politics and Society
Whitening Skin Thumbnail, Magdalene
Share:
Butuh belasan tahun bagiku untuk mencintai kulit gelapku. Setelah seluruh usaha dan pergulatan batin, akhirnya aku menerima pemberian Tuhan dan percaya diri dengan keadaanku.

Aku terlahir dengan kulit gelap, mewarisi gen sawo matang dari kedua orang tua. Selain itu, aku juga aktif berolahraga renang waktu sekolah dasar. Jadilah aku anak perempuan dengan kulit paling gelap di sekolah. Hal ini membuat teman-teman sering mengejekku.

Aku masih ingat setelah kelas sempoa selesai, kami punya waktu 15 menit untuk sesi teka teki. Aku yang hobi membaca buku teka teki memberanikan diri untuk tampil ke depan kelas dan mengajukan pertanyaan kepada teman-teman: Apa syarat jadi penyanyi? Di luar dugaan, bukannya menjawab “bisa menyanyi”, teman-teman di barisan belakang berteriak “tidak hitam!” sambil tertawa. Badanku langsung bergetar menahan malu dan marah. Tapi aku tidak bisa membalas ejekan mereka. Seandainya aku punya kesempatan membalas, aku akan bilang bahwa penyanyi-penyanyi terbaik dunia banyak yang berkulit gelap --Whitney Houston dan Beyonce, misalnya. Tapi saat itu aku hanya bisa merundukkan kepala. Sayangnya, guruku juga hanya tersenyum dan membenarkan cemoohan teman-temanku itu. Aku tahu mereka tidak sepenuhnya salah, karena mereka masih anak-anak dan tidak sadar apa yang mereka lakukan. Namun pembenaran perisakanlah yang akhirnya melanggengkan tindakan seperti itu.

Ejekan juga datang dari keluarga sendiri. Suatu waktu aku berlibur dengan saudara-saudara, menginap di sebuah vila tanpa didampingi ayah dan ibuku. Aku meminjam ponsel sepupuku dan menemukan namaku disimpan dengan nama “Anya Papua”. Anya adalah panggilanku di rumah. Papua? Karena kulitku gelap? Apa yang salah dengan Papua? Mereka keren, Raja Ampat itu surga dunia. Orang-orang Papua adalah beberapa dari orang-orang paling ramah dan paling lucu yang pernah kutemui. Mereka juga punya kulit eksotis serta kebudayaan yang luar biasa kayanya. Tapi lagi-lagi saat itu aku hanya bisa diam. Aku tak menghiraukannya lagi. Aku juga tidak mengadu ke ibuku.

Namun ejekan-ejekan itu sempat membuat aku kemudian melakukan berbagai cara untuk memutihkan kulit saat beranjak remaja. Dari krim pemutih sampai lulur, semua aku coba untuk mengubah warna kulitku. Terkadang aku menyalahkan kedua orang tua karena mewariskan sesuatu yang membuatku merasa menjadi orang paling jelek di sekolah. Aku kadang berkhayal terlahir sebagai anak orang lain dengan warna kulit lebih cerah, agar aku bisa dilirik oleh cowok-cowok keren di sekolah, persis seperti iklan produk kecantikan umumnya. Itulah yang aku rasakan. Kepercayaan diri yang rendah adalah sahabatku saat aku mulai mengalami pubertas. Aku merasa tidak cantik. Aku bahkan berharap bisa mengubah warna kulitku dalam semalam agar hidupku jauh lebih baik. Agar cowok yang aku suka juga tertarik padaku.



Beranjak dewasa, aku mencoba hal yang lebih ekstrem. Tanpa sepengetahuan Ibu, aku mencoba pil pemutih dan suntik zat pemutih di dokter kecantikan. Apakah ada hasilnya? Tidak. Aku mengonsumsi tiga kotak pil pemutih dan merasa tidak ada perubahan signifikan dengan warna kulitku. Yang justru aku sadari adalah bahaya kesehatan yang pasti akan terjadi jika aku terus mengonsumsi sembarangan obat.

Begitu juga dengan suntik zat pemutih, yang aku coba beberapa kali. Dokter menyarankanku untuk disuntik setidaknya 10 kali sampai akhirnya merasakan perubahan terhadap warna kulitku. Aku hanya mencoba tiga kali dan merasa apa yang aku lakukan tidak berguna. Selain itu, aku merasa tidak ada perubahan yang signifikan karena aku juga sering berlibur ke pantai. Aku pikir, buat apa aku suntik putih terus menerus jika aku akan berlibur ke pantai lagi dan kulitku akan gelap lagi.  Maka aku memutuskan untuk menghentikan semua usahaku.

Semakin lama aku sadar bahwa warisan kolonialisme di masyarakat Asia, khususnya Indonesia, memang masih melekat, termasuk konsep cantik yang identik dengan rambut panjang dan lurus, kulit putih dan langsing. Kulit gelap diidentikkan dengan orang yang banyak beraktivitas di luar ruangan, dan kemiskinan. Sayangnya, warisan kolonialisme itu masih dilanggengkan untuk kepentingan komersial produk kecantikan yang menggambarkan, kalau kamu putih kamu akan punya hidup yang lebih baik, kamu bisa dapat cowok idaman kamu, atau kamu akan jadi cewek idola satu kampus. Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk akhirnya meninggalkan konsep kecantikan seperti itu dan berdamai dengan diri sendiri.

Aku berterima kasih kepada teman-teman di luar sana yang sudah berbagi tulisannya dan meyakinkan aku untuk mencintai diri sendiri, termasuk mencintai warna kulitku. Aku mulai mendapatkan kepercayaan diri dan merasa, “Hey, semua warna kulit itu cantik”, tergantung bagaimana kita merawat karunia Tuhan ini kepada kita. Dulu setiap aku bercermin, aku seperti berperang melawan diri sendiriku. Tapi lama kelamaan aku merasa, aku cantik juga. Beberapa kali juga aku mendapat pujian untuk kulitku, yang dalam bahasa gaul sekarang disebut tanned. Berbeda waktu aku SD, saat teman-teman memanggilku hitam, keling, atau dekil.

Untuk teman-teman yang punya cerita mirip denganku, kalian semua cantik. Mungkin perlu waktu untuk menyadarinya. But believe me, it is worth your time.

Shanaz Makrufa adalah seorang introvert, mantan mahasiswa Ilmu Politik yang sekarang lebih disibukkan dengan isu tambang dan energi. Suka main di pantai tapi tidak suka dihakimi saat sedang pakai bikini.